Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 14:42 WIB
Surabaya
--°C

Eling dan Waspada

Lautan negeri ini luas dan ombaknya ganas menerjang. Bahtera kami oleng, dan penumpangnya mabuk kepayang, sebagian lain panik tunggang langgang. Sedang nahkoda dan awak kapal limbung alpa menuntun prosedur penyelamatan.

Oleh: Prof. Yudi Latif

KEMPALAN: Saudaraku, secara jasmaniah bangsa ini tumbuh. Namun, di seantero negeri kualitas pikir mundur, dan juga karakter tumpur. Hidup berkembang tanpa ketajaman visi dan kemuliaan budi-pekerti.

Dalam gebyar lahir, pelita hati redup, para pengemudi negeri tak mengenali arah tujuan. Penduduk menumpang kendaraan seperti mayat gentayangan.

Roda perubahan terus berputar tanpa hasilkan banyak perbaikan. Kemenangan jadi pujaan tanpa hiraukan kebenaran. Popularitas jadi ukuran tanpa pedulikan kualitas.

Dalam wacana publik tak ada isi yang mengendap. Semua catur seperti buih yang lekas kempis diterjang angin. Segala janji seperti layangan putus benang, tak pasti kapan terhempas ke bumi.

Orang-orang tampil sebagai pemimpin bukan berani karena mengerti, melainkan karena tak tahu. Demokrasi dirayakan dengan mediokrasi.

Aneka upacara dan akrobat politik terus dipertontonkan untuk memalingkan warga dari kenyataan. Di berbagai mimbar, elit negeri melantunkan nyanyian kemajuan, sebagai candu untuk menidurkan warga dari realitas kerawanan.

Inilah zaman edan. Orang-orang membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Yang tak ikut edan tak dapat bagian.

Orang-orang harus dibangunkan. Pikiran itu pelita hidup. Sesat pikir, binasa hidup. Karakter itu akar daya hidup. Lemah karakter, robohlah pohon kehidupan.

Harapan kebahagiaan dan kemuliaan hanya bagi mereka yang senantiasa eling pikir dan zikir. Radar nuraninya terus menyala dan waspada sesuai tuntunan budi baik, benar dan indah.

Titik Nadir

Saudaraku, belum pernah aku merasa sedemikian rendah dalam lengkung waktu seperti hari-hari ini – seakan langkah ini tiba di dasar lembah yang paling sunyi, titik nadir tempat cahaya harapan menipis seperti senja yang hampir tenggelam di ufuk barat.

Sebagai warga dunia, aku menyaksikan langit peradaban melegam. Tatanan yang dahulu dijanjikan sebagai rumah bersama kini retak di tangan para pembuli dan perampas, yang mengukur marwah dengan kekuatan, dan menganggap belas kasih sebagai kelemahan.

Sebagai warga negara, aku kecewa melihat tata kelola pemerintahan yang kian amburadul. Sikap dan kebijakan lahir tergesa, blunder demi blunder berulang, seakan kemudi negeri diputar tanpa arah.

Sebagai pribadi, aku pun diuji oleh batas tubuh sendiri. Rencana-rencana yang dulu berlari di kepalaku kini tertatih menunggu tenaga yang kian rapuh. Gagasan masih menyala, tetapi daya tak selalu menyertai.

Bahkan sebagai pencari penghiburan, aku ikut merasakan kehilangan. Permainan Manchester City yang dulu memantik kegembiraan kini begitu terasa hambar, tak memperlihatkan determinasi dan daya pukau.

Lebih dari itu, yang runtuh adalah kepercayaan. Tak ada lagi kebanggaan pada dunia pendidikan ketika muruah keilmuan terbeli. Tak ada lagi kebanggaan pada organisasi keagamaan ketika kesucian ajaran tercemar.

Tak ada lagi kebanggaan pada dunia usaha ketika pertumbuhan diraih dengan merusak alam dan menyengsarakan rakyat.

Tak ada lagi kebanggaan pada dunia politik ketika kekuasaan dicengram dinasti dan oligarki. Tak ada lagi kebanggaan pada negara hukum ketika penegaknya menjadi pagar yang memakan tanaman.

Ya Tuhan, selamatkan kami. Jadikan yang tak mungkin menjadi mungkin. Tuntunlah kami ke jalan cahaya.

Lautan negeri ini luas dan ombaknya ganas menerjang. Bahtera kami oleng, dan penumpangnya mabuk kepayang, sebagian lain panik tunggang langgang. Sedang nahkoda dan awak kapal limbung alpa menuntun prosedur penyelamatan.

Atas berkat rahmat-Mu bangsa ini berulang kali lolos dari kemelut sejarah. Kali ini pun, setelah ikhtiar segala cara dicoba, kami tawakal meyakini-Mu juru selamat.

Kepada-Mu kami berserah diri, dan kepada-Mu kami memohon pertolongan.  Aamiin!*) Prof. Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan     

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.