Minggu, 8 Maret 2026, pukul : 13:55 WIB
Surabaya
--°C

Bisnis Perang

Sejatinya, pasar bebas itu membuat kita kebanjiran agensi yang terlalu sibuk menilai orang lain hingga lupa melihat diri sendiri; tidak sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa; luka saat yang lain ceria; bahagia saat yang lain paria.

Oleh: Yudhie Haryono

KEMPALAN: Apa yang tak dibisniskan oleh Bangsa Amerika? Rasanya kok tak ada. Lewat protokol pasar bebas, perang pun bagian dari bisnis yang intinya “invasi ekonomi”.

Dalih boleh dikarang, dikampanyekan dan didiktekan. Tapi ujungnya tunggal: golek duit lan bathi (cari uang dan untung).

Ya. Perang adalah politik dengan pertumpahan darah, sedang bisnis adalah perang tanpa pertumpahan darah.

Lewat sandi “operation epic fury” (USA) dan “roaring lion” (Israel), realisasi invasi ekonomi dan bisnis perang dilakukan. Iran target terkamannya.

Lithium dan minyak adalah barang yang diperebutkan. Tetapi, sesungguhnya itu adalah “praktik dari iman pada agama pasar bebas”.

Ya. Kini, agama pasar bebas adalah angka dan fakta. Ia juga emosi, sensasi, fiksi dan ilusi. Nyata dan di depan mata. Menakutkan bagi elit, tetapi lelucon bagi orang waras.

Bagaimana ini bukan lelucon, laporan media Kompas menyebut, Amerika Serikat (AS) diperkirakan telah menghabiskan biaya fantastis mencapai 779 juta dollar AS atau sekitar Rp 13,1 triliun hanya dalam 24 jam pertama serangan ofensifnya terhadap Iran (3 Maret 2026).

Sebenarnya, sistem pasar bebas itu sangat sederhana, tetapi berevolusi dan tarik ulur tumbuh sambil tidak peduli pada nasib, takdir dan uang sesama manusia. Sebaliknya, ia membuat kita semua “tidak stabil dan tidak nyaman”.

Menghadapinya (baik karena serakah dan amoral) yang melakukan “penjajahan” lokal dalam: (1) Membuat kebijakan tidak berpihak pada rakyat; (2) Mendesain ketergantungan ekopol pada kekuatan asing; (3) Mentradisikan feodalisme dan elitisme kekuasaan yang mengabaikan kedaulatan rakyat;

(4) Menghadirkan penyimpangan konstitusi demi kepentingan kelompok; (5) Memproduksi agama KKN dan menernak copet, maka cara melawannya adalah “reclaiming the state“, melalui strategi konstitusional, intelektual, dan gerakan moral yang terstruktur.

Gerakan itu adalah: (1) Menghimpun kekuatan kontra ide dan kontra gagasan kolonial; (2) Merealisasikan ketegasan hukum; (3) Menghidupi kesadaran rakyat untuk jadi barisan dan pasukan; (4) Mewacanakan kepemimpinan alternatif yang kuat dan lebih bermartabat; (5) Mematrialisasikan Pancasila.

Sejatinya, pasar bebas itu membuat kita kebanjiran agensi yang terlalu sibuk menilai orang lain hingga lupa melihat diri sendiri; tidak sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa; luka saat yang lain ceria; bahagia saat yang lain paria.

Mencandranya, Laksma Salim (2026) berkata, “akibat iman pada pasar bebas, negara kita kini tidak punya haluan (GBHN), sehingga tiap-tiap dari kita sendiri maupun institusi negara, bertahan hidup dengan caranya sendiri. Sungguh, negeri ini tidak diciptakan untuk memusuhi negara lain akan tetapi bunuh-bunuhan dengan teman sendiri.”

Warisan mazhab pasar bebas yang lain adalah, “jika lima pejabat publik kita bertemu di acara kenegaraan, setidaknya dua di antaranya adalah agen dan hit guys. Dan, ketika kita menunjuk salah satu yang terbaik untuk memberantas pasar bebas, eh belakangan ternyata dia juga seorang agen dan hit guys.”

Ya. Pasar bebas yang mencetak masyarakat oportunisme, nyolongan dan tradisi almunafiki yang kita warisi memang tidak lahir dalam semalam. Ia disemai sejak dari kandungan dan dipupuk dalam masyarakat yang sakit, diternak oleh politisi feodal-amoral.

Lalu, bagaimana kita bisa melawan penjajah jika pemimpin kita adalah “penjajah berwajah pribumi?” Ini problem terbaru kita. Dan, kita memang sedang panen raya. Maka, ayok segera ciptakan dentuman perlawanan dan prestasi baru agar kita tidak fokus nggedabrus minus warisan fulus.

Tak ada cara lain, kita harus lakukan aksi intelektual lebih dahsyat dan perlawanan narasi lebih masif jika ingin berhasil kill the begundal untuk save the nation.

Singkatnya, proses reclaiming the state harus lebih rapi dan solid. Tentu supaya kasinungan merga wening lan dunung/Tumuju wenang lan menang kang sayekti. If you truly want it, pursue it – regret lasts longer than the wait.

*) Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.