KEMPALAN : Ketika seseorang membahas “merah putih” maka asosiasi melayang kepada sang saka. Dan tatkala seseorang membincangkan bendera lambang negara, maka dia akan menarik ke persepsi nasionalisme patriotik.
Demikian M. Rohanudin yang dulu sekian puluh tahun lalu sering saya jumpai di lapangan jurnalistik di Surabaya — saat puisi karyanya berjudul ‘Merah Putih’ dibacakannya di Auditorium Sarsito Mangunkusumo, RRI Solo, maka puisi nasionalisme patriotik itu bagai gelombang samudra bergemuruh, bergulung-gulung dalam dinamisasi alam merdeka sarat tantangan.
Rohanudin mengerahkan segenap potensinya untuk mendukung gagasan kepenyairannya. Misalnya, untuk melengkapi respon artistik puisi karyanya itu, dia menggandeng penari kontemporer dan koreografer mumpuni Lena Guslina.
Maka sosok hebat yang pernah terlibat dalam pertunjukan tari yang lantas melegenda berjudul “Hutan Plastik’ karya Sardono W. Kusumo ini, meliuk dan menggerakkan segenap irama tubuhnya sehingga puisi ini menjadi lebih hidup.
Pembacaan puisi ‘Merah Putih’ yang saya tonton dari kanal YouTube ‘LvR’ (Live Visual Radio) tersebut, memancing saya untuk terus mengikuti konten berdurasi 6 menit ini.
Rohanudin tampil berbaju lengan panjang putih dengan blangkon hitam, sementara Lena Guslina dengan kebaya putih dilengkapi selendang panjang putih “menyabuki” pinggangnya — mereka senantiasa saling mengisi.
Lena Guslina yang belakangan juga dikenal sebagai pelukis, saya anggap memiliki kepekaan tinggi untuk merespon narasi puisi nasionalisme patriotik itu, dalam gerak-gerak yang lentur iramatik dinamis.
Visualisasi puisi karya Dewas (Dewan Pengawas) LPP RRI ini, dilengkapi juga oleh visualisasi adegan-adegan film perjuangan yang juga menyisipkan adegan seorang ibu sedang menjahit kain merah dan putih untuk menjadi Sang Dwi Warna.
Sementara di plafon auditorium itu menjuntai dua helai kain hingga menyentuh lantai, masing-masing warna merah dan putih.
Dua helai kain jumbo itulah menjadi bagian dari asesori performance yang dimainkan dengan lihai oleh Lena Guslina.
Lena tidak saja menari meliukkan tubuh yang didominasi oleh gerakan-gerakan lengan dan kakinya yang ekspresif, juga merespons untaian kalimat-kalimat dalam puisi ‘Merah Putih’ dengan “pantulan” kata-kata dari mulutnya yang tegas bak Srikandi.
Beruntung M. Rohanudin memiliki suara bariton yang berat, sehingga ketika puisi karyanya ini dibacakannya, menjadi simetris sekali dengan nyawa puisi tersebut.
Salah satu yang bikin saya terpatri oleh puisi ‘Merah Putih’ adalah baris-baris ini :
Bendera Merah Putih
Adalah kilauan pedang menyalakan kemerdekaan.
Juga boleh jadi untaian kalimat puitis ini :
Kibarannya menegaskan keberanian
Biarkan biarkan biarkan biarkan
Dia berkibar di atas keperkasaan Indonesia.
(Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi