Antara Prabowo dan Soekarno

waktu baca 4 menit
Prabowo dan Soekarno (*)

KEMPALAN: Dalam sejarah perjalanan Indonesia, perjuangan melawan kemiskinan dan ketimpangan sosial masih menjadi salah satu tantangan terbesar bangsa ini, selain kedaulatan bangsa untuk bisa berdiri dikaki sendiri

Dua tokoh ini Prabowo dan Soekarno memiliki kesamaan dalam setiap pesan berpidato. ingin menjadikan Indonesia keluar dari himpitan kemiskinan menuju negara adil makmur serta mampu berdaulat dalam sebuah bingkai persatuan

Soekarno, menempatkan cita-cita persatuan bangsa sebagai pilar utama dalam upaya membangun Indonesia yang lebih adil dan makmur.

Meski berada dalam konteks zaman berbeda, visi dan tekad mereka menunjukkan kesamaan: mempersatukan seluruh elemen bangsa demi menghadapi tantangan yang dihadapi negeri ini.

Melalui pidato-pidatonya antara Soekarno dan Prabowo kerap mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bekerja sama, baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha, begitupun dengan Partai Politik yang ada

Prabowo percaya bahwa hanya dengan kesatuan dan kerja sama erat, Indonesia bisa keluar dari cengkeraman kemiskinan yang masih menjadi problem utama.

Berbagai upaya telah dijalankan oleh pemerintah atau rezim sebelumnya, yang pernah berkuasa di Republik ini, akan tetapi tantangan untuk mengentaskan kemiskinan masih tetap berat dan menjadi problem utama hingga saat ini

Ketimpangan sosial masih dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak daerah yang masih tertinggal dari segi infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan dibandingkan dengan kota-kota besar.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah hanya dengan mengedepankan kesatuan bangsa, kita bisa mengatasi masalah yang telah mengakar begitu dalam ini?

Warisan Soekarno

Jika melihat ke belakang, kita dapat menemukan semangat yang sama pada diri Prabowo dengan Soekarno saat memimpin Indonesia di masa-masa sulit revolusi.

Soekarno, sebagai pendiri bangsa dan presiden pertama Indonesia, sering melontarkan ide-ide kebangsaan yang bertujuan untuk membangun persatuan dan kemandirian bangsa.

Dalam pidatonya, seperti “Pidato Trisakti” dan “Ganyang Malaysia,” Soekarno menegaskan pentingnya persatuan nasional untuk melawan penjajahan dan membangun kemerdekaan yang sejati.

Di masa kepemimpinan Soekarno, Indonesia saat itu memang tengah menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari ancaman kolonialisme yang masih tersisa hingga pergulatan politik dalam negeri yang tak kunjung reda.

Soekarno berusaha membangkitkan semangat nasionalisme dan kebersamaan rakyat Indonesia agar tidak lagi tunduk pada kekuatan asing. Ia percaya bahwa dengan persatuan, bangsa ini dapat berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) dan mencapai cita-cita kemerdekaan sejati.

Namun, meski telah melewati masa-masa perjuangan itu, masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial masih tetap ada hingga kini.

Dalam konteks globalisasi, penjajahan fisik memang sudah berakhir, tetapi konsep neo-kolonialisme muncul dalam bentuk berbeda,

seperti dominasi ekonomi oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketergantungan Indonesia terhadap investasi asing dan impor, misalnya, menjadi bukti bahwa cita-cita berdikari yang dicanangkan Soekarno belum sepenuhnya tercapai.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa kemiskinan dan ketimpangan sosial masih bertahan di Indonesia meskipun telah melewati berbagai masa pemerintahan dengan visi yang sama.

Pertama, struktur ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada sektor primer, seperti pertanian dan tambang, membuat kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan semakin melebar. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menikmati kemajuan ekonomi yang pesat, sementara daerah-daerah lain tertinggal.

Kedua, pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik yang sering kali tidak merata. Meski di era jokowi dan keberlanjutan masa Prabowo ada upaya untuk mempercepat pembangunan di luar Jawa, tantangan geografis dan birokrasi yang rumit sering menjadi kendala dalam implementasi program-program ini.

Akibatnya, banyak masyarakat di daerah terpencil yang belum mendapatkan akses yang memadai terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan layak.

Ketiga, adanya persoalan distribusi kekayaan yang belum adil. Data menunjukkan bahwa kekayaan di Indonesia masih sangat terpusat pada segelintir kelompok masyarakat.

Sementara itu, sebagian besar rakyat Indonesia masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Ketimpangan ini menjadi penghalang utama bagi upaya untuk mengentaskan kemiskinan secara menyeluruh.

Baik Soekarno maupun Prabowo sepakat bahwa persatuan adalah kunci untuk menghadapi masalah yang dihadapi bangsa ini.

Namun, persatuan tidak cukup jika tidak diiringi dengan kebijakan yang konkret dan tepat sasaran.

Pemerintah perlu menciptakan kebijakan ekonomi yang inklusif, memberdayakan masyarakat miskin, serta memperkuat perlindungan sosial agar dapat menciptakan kesejahteraan merata.

Selain itu, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mewujudkan cita-cita ini. Kesadaran akan pentingnya persatuan harus tumbuh dari bawah, dari lingkungan terkecil hingga ke tingkat nasional.

Semangat gotong-royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia perlu dihidupkan kembali dalam bentuk-bentuk baru yang relevan dengan era modern.

Dalam ewujudkan Indonesia berdaulat dan makmur. Prabowo, seperti halnya Soekarno, memahami bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang kuat dan mandiri.

Namun, untuk mencapai visi tersebut, dibutuhkan tak hanya sekadar pidato-pidato yang mempersatukan.

Perlu ada keberanian untuk melakukan reformasi struktural, komitmen untuk memberdayakan rakyat kecil, serta semangat kerja keras dari seluruh elemen bangsa.

Masa depan Indonesia yang berdaulat dan makmur hanya bisa terwujud jika kita semua berkomitmen untuk saling mendukung dan bersama-sama mengatasi masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih membayangi kehidupan kita.

Dengan persatuan yang kokoh dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat melangkah lebih jauh menuju cita-cita kemerdekaan sejati yang diwariskan oleh para pendiri bangsa. Adil dan Makmur. ()

Oleh : Bambang Eko Mei

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *