Poin Sama dengan Haaland, Messi Jadi Terbaik di The Best FIFA

waktu baca 2 menit
Lionel Messi. (Foto: FIFA)

LONDON-KEMPALAN: Lionel Messi memenangi penghargaan The Best FIFA untuk kali ketiga. Setelah meraihnya pada 2019 dan 2022, Messi mempertahankannya pada tahun 2023.

La Pulga (julukan Messi) menyingkirkan dua nama pemain muda yang disebut-sebut di masa depan menjadi dua pemain terbaik dunia menggantikan era Messi dan Cristiano Ronaldo. Yaitu Erling Haaland dan Kylian Mbappe.

Sayangnya, penghargaan yang ketiga ini sarat dengan kontroversi. Apalagi setelah hasil pemungutan suara menunjukkan perolehan suara Messi dan Haaland sama persis, yaitu 48 poin.

Meski begitu, FIFA memilih Messi sebagai pemenangnya. Keputusan tersebut berdasar dari aturan yang dibuat FIFA untuk menentukan pemenang penghargaan ini. Yaitu lebih memprioritaskan suara dari kapten timnas.

Dalam aturan ini, Messi paling banyak dipilih kapten timnas, yaitu 13 poin. Haaland hanya sebelas poin. Sementara, Haaland lebih banyak didukung dari kalangan pelatih. Haaland dapat mengoleksi 13 poin dari suara pelatih. Bandingkan dengan Messi yang hanya mencetak sebelas poin.

’’Hanya mereka (FIFA) yang tahu,’’ ungkap ayah Haaland, Alf-Inge Haaland yang ditanya tentang kegagalan putranya mengakhiri dominasi Messi dalam perebutan gelar Pemain Terbaik versi The Best FIFA itu.

Meski ada laporan yang menyebut Messi juga ikut memberikan suara bagi mesin golnya Manchester City tersebut. ’’Bisa bersanding dengannya sebagai kandidat saja cukup baik bagi dia (Haaland),’’ lanjut Haaland senior itu.

Kalau dibandingkan gelar yang mereka dapatkan sepanjang 2023, jelas Haaland-lah yang paling layak mendapatkan gelar tersebut. Jika Haaland memenangi treble bagi City, maka Messi hanya mampu membawa klubnya Inter Miami CF memenangi Leagues Cup.

Itulah kenapa banyak yang tidak menginginkan Messi jadi pemain pertama dapat memenangi gelar Pemain Terbaik versi The Best FIFA tiga kali itu. Salah satunya adalah legenda Jerman Lothar Matthaeus.

Sosok yang memenangi gelar Pemain Terbaik di dalam ajang pendahulu The Best FIFA, FIFA World Player of the Year pada edisi 1991 itu menganggap sosok Messi sudah so yesterday saat ini. Messi memang pemain terbaik dalam dua dekade terakhir.

’’Tetapi, setelah dia di Paris (Paris Saint-Germain) dan Miami (Inter Miami), Messi hanya menciptakan euforia. Tapi dia tak bisa memenangi trofi mayor,’’ klaim Matthaeus kepada Sky Deutschland. (YMP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *