Oleh: Prof Dr. HM. Baharun
KEMPALAN:
Anies dalam Bahasa Arab bermakna ‘orang yang lembut’. Ini sesuai fitrah hakikat manusia itu sendiri yang diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang lembut. Dari akar yang sama, ada kosakata ins berarti manusia (yang tampak nyata tapi lembut), lawan katanya adalah jin (yang tak tampak tapi kasar). Kekasarannya bisa dideteksi pada manusia yang dipengaruhi pikirannya dengan hal-hal yang negatif oleh jin tadi, sehingga ins jadi kasar.
Karena itu dalam agama, sumber kejahatan seperti dengki, kalap, fitnah dan adu domba dan sebagainya itu bukanlah sifat asli manusia (ins) sesuai fitrahnya. Melainkan manusia yang sudah kehilangan kelembutan manusiawi-nya karena mungkin sudah kerasukan jin dengan segala kekasaran dan kekisruhannya.
Manusia atau ins (insun) yang nyata akan senantiasa hadir dengan kelembutannya (anies); berbeda secara diametral dengan jin yang ghaib itu karena kehadirannya selalu tidak menghadirkan rasa empati dan simpati. Coba saja perhatikan lawan mereka, yakni manusia yang fitrahnya lembut (anies), jin menampakkan kekasarannya, bahkan membuat mereka yang berkonspirasi dengan manusia — maka sifat ins yang seharusnya lembut jadi kasar dan kadang bisa kesurupan. Oleh karena itu jika ada manusia yang mestinya anies (lembut sesuai fitrahnya) kemudian jadi kasar berarti orang itu bermasalah.
Asal kejadian manusia merupakan fitrah suci, oleh sebab itu perintah mutlak manusia agar tetap memelihara kelembutannya. Tatkala al-Quran berkisah tentang ashabul kahfi, tim remaja beriman yang diselamatkan Tuhan di dalam gua. Mereka diselamatkan dari kekuasaan zalim; akhirnya diingatkan supaya tetap berlaku lembut: walyatalatthof, perintah untuk terus berbuat lembut (kalimat itu terletak persis di tengah-tengah mushaf al-Quran yang 114 surat dalam 30 juz itu).
***
Berlaku lembut bukan lembek — dalam konteks ini tentu bukan tidak tegas. Ketegasan yang berarti konsisten, jujur dan adil adalah merupakan cerminan dari kelembutan hati di dalam membela yang haq dan benar.
Di dalam al-Qur’an telah disebutkan 18 kali kosakata ins, sepadan dan seimbang dengan kata jin dengan jumlah yang sama. Misalnya bisa disebut bahwa pada dasarnya Allah menciptakan jin dan manusia itu untuk beribadah kepadaNya. (Q.S 51:56) dan ayat lain Allah berfirman, bahwa sesungguhnya manusia dan jin itu bisa membumbung tinggi ke atas langit (cita-citanya) asalkan memiliki kemampuan (kecerdasan dan ketegasan dalam mewujudkan)…..(Q.S. 55:33). Artinya kedua entitas makhluk Allah ini bisa bahagia duniawi dan ukhrawi jika senantiasa mengikui petunjukNya.
***
Judul di atas secara sengaja saya cantumkan untuk menghubungkan sumber-sumber kitab suci dengan realitas kini, bahwa nama Anies ini rupanya membawa keberuntungan tersendiri, karena fenomena itu terlihat semenjak beliau menjabat sebagai Gubernur DKI; maka segera namanya jadi laris, dan karya-karya prestesius dan monumental dia itu sulit untuk diingkari — lantaran sudah terlanjur cukup memaniskan ibukota selama di bawah kepemimpinannya.
Drone Emprit yang masyhur itu pernah merilis, bahwa Anies Baswedan Terpopuler di Medsos (Media Sosial), akan tetapi juga paling sering dibicarakan negatif — bagi yang membenci dia tentunya. (tempo.co, 22-07-22).
Bagi para pembenci itu bisa difahami kerisauannya karena akan terus berupaya ‘membayang-bayangi Anies’ yang fenomenal tersebut supaya tidak terus ‘manis’. Para buzzer anti Anies akan selalu muncul ‘melangkapi’ hiruk-pikuk larisnya nama Anies di berbagai platform media sosial yang ada seperti FB, IG, Tweeter dan sebagainya — untuk apalagi tujuannya jika bukan upaya mereduksi prestasi dan mendegradasi namanya? Kalau memakai istilah yang digunakan di dunia pesantren berwanti-wanti: “Kullu dzi Ni’matin Mahsud” (awas: setiap manusia yang mendapat nikmat Tuhan itu siap-siap dimusuhi/didengki), mereka cepat kalap seakan mau protes Tuhan: mengapa anugerah dan kelebihan dari Allah SWT diberikan kepadanya.
***
Kelembutan Anies Baswedan ini juga bisa tercermin dalam bahasa tubuh atau simbol-simbol lainnya. Istilah ini digunakan Ady Amar, penulis kolom yang produktif (yang juga penulis buku ini) saat mencermati warna baju yang dikenakan oleh Anies Baswedan dalam berbagai perhelatan — yang bisa mengundang penafsiran orang. Yaitu suatu ketika beliau memakai baju batik bercorak naga yang lalu ditafsirkan sebagai simbol ‘perlawanan’ terhadap “sembilan naga” alias oligarki. (Ady Amar dalam Tak Tumbang Dicerca, Tak Terbang Dipuja, Ikon Teralitera, 2021, h. 168).
Buku lain yang menulis karya-karya Anies Baswedan juga cukup akurat menyajikan data-data dan informasi tentang ‘orang lembut dan selalu tampil tenang’ itu. Yang menarik juga adalah kedua penulis senior Abdurrahman Syebubakar dan Smith Alhadar mengapresiasi ketulusan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI selama ini dengan seabrek prestasi yang harus diakui. (Baca: Anies Baswedan: Gagasan Narasi Karya,Menjawab Tantangan Masa Depan Bangsa, IDe, 2022).
***
Saya tidak kenal secara personal dengan Anies. Akan tetapi dalam suatu pengajian umum saya pernah diminta untuk sekaligus membuat makalah seperti untuk keperluan seminar. Anies hadir dan memberikan sambutan di akhir acara. Dia mengapresiasi pengajian itu — katanya pertama yang pernah dijumpai seperti kuliah umum di kampus, mahasiswa/peserta dapat materi kajian. Bahkan saat melihat ada sejumlah catatan kaki (footnote) yang banyak pada makalah, beliau teringat pada waktu belajar di luar negeri: bagaimana seorang pemateri sulit dibantah dan disanggah makalahnya yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah karena banyaknya referensi yang dikutip.
Anies Baswedan memang sosok akademisi, politisi, dan leader muda yang fenomenal. Beberapa bulan lalu saya diundang sebagai pembicara peluncuran buku di Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta bersama Rocky Gerung. Ruangan itu dihadiri penuh sesak mahasiswa dari dalam dan luar kampus. Ada buku karya Rektornya, Musni Umar dilaunching. Buku itu menjelaskan pemenuhan janji-janji politik Anies dalam kampanye. Selama empat tahun memimpin Jakarta, janji-janji Anies Baswedan sudah dipenuhi semua hampir 100 persen, tulisnya di buku. (Musni Umar dalam Maju Kotanya Bahagia Warganya, UIC Press, 2021).
***
Dari serangkaian fakta tersebut maka menurut saya, magnet keberhasilan kepemimpinan Anies rasanya sulit dipatahkan. Langkahnya untuk maju sulit dijegal. Walaupun berulang-ulang beliau dihujat dan dicaci maki, toh yang terjadi adalah kecintaan masyarakat makin bertambah kuat. Saya yakin mereka yang menghujat Anies Baswedan selama ini nanti akan malu sendiri. Tidak mustahil mereka akan berbelok dan berbalik mendukung Anies melebihi dukungan massa yang masif selama ini.Tanda-tanda ke arah itu sudah mulai kelihatan. Tidak mustahil yang dulu jadi buzzer anti Anies akan berubah jadi pendukung dan influencernya.
***
Saya teringat kisah Ka’b bin Zuhair (w. 662 M/40 H) sang penyair yang jadi buzzer-nya orang kafir Makkah. Puisi-puisinya mencerca Nabi Muhammad SAW. Melalui kepiawaiannya dalam menyusun kata dan diksi; dia mempengaruhi kaum Jahiliyah supaya semakin jauh dari Rasulillah. Hal inilah yang kemudian menyemangati kaum Quraisy Makkah yang terpengaruh memerangi Nabi meski sudah hijrah ke Madinah.
Sampailah suatu ketika mereka kalah pada momentum Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) oleh Nabi dan para pasukan sahabat dalam suatu operasi militer. Mereka kalang-kabut karena mengira Nabi dan para sahabatnya akan menumpas mereka habis-habisan sebagai balas dendam penyerangan ke Madinah sebelumnya.
Ternyata kedatangan Nabi sekaligus memberikan amnesti umum: Pergilah kalian bebas termaafkan (Idzhabu Antum Attulaqa’!). Padahal umat Islam punya peluang dan kesempatan untuk membalas.
Tapi sebagian warga Makkah sudah terlanjur lari, ada yang sudah menyebrangi lautan minta suaka di Afrika. Termasuk yang siap lari itu adalah buzzer utama, Ka’ab bin Zuhair.
Ka’b bin Zuhair ini punya saudara namanya Bujair yag masuk Islam. Dialah yang membujuk Ka’b bin Zuhair membatalkan pelariannya untuk menemui Rasulullah dan berjanji tidak akan memaksa bahkan dijamin untuk dimaafkan. Kalau dalam adagium Jawa sekarang, sikap Nabi ini menang tanpa ngasorake (menang dalam Pembebasan Kota Makkah, tapi tidak mau mendzalimi yang kalah).
Setelah bertemu secara pribadi dan melihat sikap Nabi Muhammad yang lembut, ramah apalagi segera memaafkannya, maka Ka’b bin Zuhair ini pun tergetar hatinya dan terharu. Secara spontan dan lancar, buzzer jahiliyah ini menyusun serangkaian kalimat puitis yang mendeskripsikan kepribadian agung Nabi Muahammad SAW yang merupakan improvisasi dan ekspresi kekagumannya kepada orang yang selama ini dihujatnya.
Rasulullah pun mengapresiasi Ka’b dengan memberi mantel (al-burdah) yang kemudian menjadi judul kumpulan qashidah Imam Buhsiri yang kesohor. Ka’b bin Zuhair pun bertobat dan masuk Islam pula.
Karena itu saya tetap optimis. Mereka yang selama ini menghujat, mencerca, mendeskreditkan Anies akan kembali ke fitrah. Akan memandang Anies apa adanya. Insya Allah kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Anies Baswedan: aset bangsa yang secara natural dikagumi banyak orang itu. …. Nasrun Minallah wa Fathun Qorib. Wallahu a’lam Bisshowab.
(Prof Dr. HM. Baharun, Guru Besar Sosiologi Agama Islam)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi