Didukung Ditjen Diktiristek, Penelitian UBAYA Paparkan Dampak Positif Merdeka Belajar Kampus Merdeka
SURABAYA-KEMPALAN: Dampak aktivitas MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) didiseminasikan Universitas Surabaya (UBAYA) di Seminar Nasional “Akselerasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui MBKM” yang berlangsung daring melalui Zoom pukul 09.00-13.00 WIB, Minggu (26/12/2021).
Dihadiri sekitar 180 peserta dari Malang, Surabaya hingga Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, enam narasumber–Deputi Pengembangan SDM dan Kelembagaan Kemenparekraf Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, S.E., M.M.; Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Kemendikbud Ristek Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA; Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) Andi Yuwono, S.Sos., M.Si.; peneliti dampak MBKM UBAYA Ananta Yudiarso, S.Sos., M.Si.; Direktur Pusat Pengembangan Kurikulum Pembelajaran UBAYA Henry Hermawan, S.T., M.Sc., serta Kepala Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto H. Zainul Arifin, S.E.—memaparkan penelitian dan kegiatan MBKM yang dilakukan.
Kegiatan penelitian dampak MBKM di UBAYA dan seminar didukung Program Bantuan Pendanaan Program Penelitian Kebijakan MBKM dan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS yang diselenggarakan Ditjen Diktiristek Tahun Anggaran 2021.
Deputi Pengembangan SDM dan Kelembagaan Kemenparekraf Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, S.E., M.M. menjelaskan pentingnya membangun pariwisata dengan memanfaatkan teknologi. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di dunia pendidikan dan industri penting guna mendukung sektor pariwisata. “Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif support pemberdayaan masyarakat, karena mereka yang menjadi ujung tombak industri pariwisata. Masyarakat yang berhadapan langsung dengan turis ketika wisatawan berkunjung ke desa wisata,” terang Dr. Wisnu.

Dr Wisnu menjelaskan dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu melalui pemberdayaan SDM. Bentuknya, antara lain pendampingan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata, pengembangan SDM pariwisata dan ekonomi kreatif mandiri yang mendorong masyarakat berwirausaha.
“Kami mendorong warga setempat berwirausaha, juga menyeleksi masyarakat yang benar-benar serius mengembangkan wirausaha. Ada gerakan sadar wisata untuk daerah yang masyarakatnya belum aware dengan potensi pengembangan pariwisata di wilayahnya. Sertifikasi kompetensi SDM pariwisata dan ekonomi kreatif pun terus digalakkan,” terang dia. Dr Wisnu pun menawarkan kepada akademisi di kampus untuk membangun desa wisata dengan memanfaatkan berbagai skema MBKM yang sedang berjalan.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Kemendikbud Ristek Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA mengungkapkan latar belakang MBKM diluncurkan karena kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity) pada lingkungan bisnis membuat lulusan perguruan tinggi harus beradaptasi. “Kalau bersikap biasa-biasa saja pasti business akan decline. Harus out of the box. Setiap mahasiswa punya potensi dan passion berbeda, sehingga mahasiswa bisa melakukan pembelajaran fleksibel yang memerdekakan dan memberdayakan. Meskipun merdeka, tetap tidak sembarangan, kompetensi dan kualitas pembelajaran tetap diperhatikan. Kalau pendidikannya hebat, pasti Indonesia kuat,” ujar guru besar Teknik Kimia ITS itu.
Selanjutnya, Direktur Pusat Pengembangan Kurikulum Pembelajaran UBAYA Henry Hermawan, S.T., M.Sc. mengungkapkan hasil penelitian implementasi MBKM di UBAYA akan menjadi dasar untuk langkah kebijakan lanjutan Program MBKM di kampusnya. “Kami melakukan survei melalui aplikasi Spada Dikti dan platform e-learning UBAYA Learning Space yang diikuti 6746 responden. Mereka terdiri dari 293 dosen, 6.141 mahasiswa, dan 312 tenaga kependidikan di UBAYA. Hasilnya telah berhasil memotret pelaksanaan MBKM di UBAYA serta harapan dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan terhadap MBKM secara positif,” terang kepala unit khusus pengembangan pembelajaran di UBAYA yang mengawal panduan kurikulum MBKM dan kurikulum sarjana 2021.

Dosen Teknik Elektro ini menerangkan, 76% dosen, 77% mahasiswa, dan 66% tenaga kependidikan telah mengetahui sebagian besar Program MBKM. Informasi tentang MBKM diketahui dosen dari Kemendikbud (25%), UBAYA (64%), dan sumber lainnya (11%). Sedangkan mahasiswa mengetahui informasi tentang MBKM dari Kemendikbud (17%), UBAYA (68%), dan sumber lain (15%). Lalu, tenaga kependidikan mengetahui MBKM dari Kemendikbud (24%), UBAYA (60%), dan sumber lain (16%).
“Sebanyak 90% dosen, 82% mahasiswa, dan 86 % tenaga kependidikan menilai UBAYA sebenarnya sudah memiliki dan menjalankan pembelajaran yang sesuai dengan MBKM. Terutama sejak UBAYA mencanangkan learning beyond the classroom pada 2011,” ujar Henry.
Dukungan dosen UBAYA, kata dia, sangat besar. “Sejumlah 97% dosen bersedia menjadi dosen pembimbing kegiatan MBKM, 98% dosen akan mendorong mahasiswa mengambil kegiatan MBKM, dan 99% dosen pernah mengikuti sosialisasi dosen penggerak,” kata dia.
Adapun aktivitas MBKM yang banyak diikuti mahasiswa adalah magang/praktik kerja (49%), pertukaran mahasiswa (24%), kegiatan wirausaha (8%), penelitian (6%), proyek kemanusiaan (5%), membangun desa (4%), asistensi mengajar di satuan pendidikan (3%), dan proyek independen (1%). “Kami juga menemukan jawaban mengapa magang diminati mahasiswa melalui survei lanjutan. Sebanyak 82% mahasiswa melihat magang memungkinkan mereka mengetahui seperti apa rasanya bekerja, 81% mahasiswa menilai magang membantu mahasiswa menemukan potensi dirinya, dan belajar banyak dari dunia nyata dari magang (76%),” terang Henry.
Mahasiswa UBAYA sejatinya juga sangat tertarik dengan program kewirausahaan di MBKM. “Hasil survei kami, sebanyak 78% mahasiswa tertarik mengembangkan bisnis sendiri, 75% tertarik mengembangkan produk atau jasa yang bisa dipasarkan, dan 73% mahasiswa berani mengambil risiko untuk mengembangkan bisnis sendiri. Karena itu, selain melalui mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi, UBAYA juga menawarkan mata kuliah Start-up Business Development serta berbagai mata kuliah lainnya terkait bisnis dan wirausaha kepada mahasiswa,” ujar pria berkacamata ini.
Sedangkan peneliti dampak MBKM UBAYA Ananta Yudiarso, S.Sos., M.Si. menyatakan ada perubahan paradigma dari teacher center ke student center semenjak MBKM diberlakukan. “Magang kerja, pertukaran mahasiswa inbound dari perguruan tinggi ternama mancanegara. akselerasi independent learning mahasiswa, serta transformasi student center learning menjadi hal yang banyak dikerjakan dalam aktivitas MBKM. Mahasiswa magang riset di Jurnal Sinta sebagai pengelola jurnal ilmiah dan keberadaan dosen asing menjadi salah satu inovasi MBKM yang kami kerjakan,” terang Wakil Dekan I Fakultas Psikologi UBAYA.
Alumnus UGM ini memaparkan, mahasiswanya dari luar Jawa benar-benar memanfaatkan independent learning untuk memperkuat networking di daerah asalnya. “Baru-baru ini mahasiswa kami dari Sulawesi Utara magang MBKM dengan Angkasa Pura di Manado. Independent learning mendorong mahasiswa belajar secara bermakna, belajar yang disukai mahasiswa, dan meraih capaian pembelajaran mata kuliah secara fleksibel,” terang Ananta.

Yang diminati, kata dia, adalah pertukaran mahasiswa internasional di luar negeri melalui program IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards) dan magang. IISMA dirancang Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud) sebagai implementasi MBKM dan menjadi salah satu program unggulan dari delapan program Kampus Merdeka. “Kampus memiliki kebebasan mengembangkan kurikulum bekerjasama dengan dunia industri dan stakeholders lain yang mengarah pada standar akreditasi internasional,” terang pria yang pernah melakukan riset di program Affective Neuroscience Maastricht University, Belanda.
Terakhir, Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) Andi Yuwono, S.Sos., M.Si. dan Kepala Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto H. Zainul Arifin, S.E. memaparkan kerjasama UBAYA dengan Asidewi untuk mendampingi desa wisata yang sudah berlangsung hingga tahun ke-4. “Pengembangan digital menjadi penting, karena potensi desa wisata, pembelian tiket wisata melalui e-ticket dan lainnya bisa diakses di dunia maya dengan mudah,” pungkas Andi. (*)
Editor: Freddy Mutiara






