Sabtu, 18 April 2026, pukul : 11:40 WIB
Surabaya
--°C

Begini Tips Slamet Rahardjo Cegah Kepikunan

SURABAYA – KEMPALAN : Kepikunan selama ini seolah menjadi momok bagi lanjut usia. Tapi kepikunan tidak akan mudah menyerang apabila tiga elemen dilatih terus menerus.
Tips itu disampaikan aktor kawakan, Slamet Rahardjo, kepikunan tak harus terjadi apabila ada keseimbangan antara pikiran, tubuh dan jiwa. Sebagai aktor, ketiga elemen ini terus diasah lewat latihan-latihan maupun saat tampil di panggung. “Kepikunan tidak mudah menyerang karena three in one yaitu body, minds and soul itu terus dilatih,” katanya dalam webinar nasional bertajuk ‘Pikun: Momok Terbesar Para Lansia’, Rabu (15/9) malam.
Hal ini berkaitan dengan media ekspresi dirinya sebagai aktor. Kata Slamet, jika pelukis menggunakan kanvas dan kuas yang bisa di buang kapan saja ketika dia merasa tidak cocok. Sedangkan sebagai aktor, tiga hal itu harus terus dilatih agar kreativitasnya selalu terjaga.
“Saya percaya seniman tidak boleh melewati gejala kehidupan yang ada di sekitarnya,” kata pemain film Tjoet Nja’ Dhien itu.
Namun dia melihat saat ini tidak semua yang mengalami pikun berusia tua, bahkan ada yang masih muda. Slamet memperhatikan banyak yang merasa sudah mencapai puncak kehidupan sehingga merasa menjadi seorang seorang begawan yang selalu minta dilayani.
“Saya melihat teman yang gampang baper dan sering lupa ternyata masih muda. Saya melihat presiden atau menteri sekarang itu punya pikun atau apa. Kok duit bansos dikorupsi? Itu kepikunan tingkat berapa? Jadi kepikunan itu bukan milik lansia, ” selorohnya.
Lebih lanjut, Slamet mengatakan lanjut usia adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Namun dia lebih suka berpikir bahwa dirinya berada di usia lanjut yang artinya memiliki etos, kharisma dan kemampuan yang makin baik. Logika juga harus mengikuti ketika usia makin bertambah. Dengan keseimbangan antara body, minds and soul maka menjadi lansia tidak menjadi beban.
“Saya kira pikun lebih tepat jadi momok lansia ketimbang usia lanjut,” pungkasnya.
Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam dr. Jusri Ichwani Sp.PD(K)Ger, FINASIM mengatakan ada beberapa sindrom geriatri yang lazim dialami oleh lansia. Di antaranya mobilitas turun, beser dan buang air besar makin sering, pendengaran dan penglihatan kurang.
Pada akhirnya lansia mengalami penyakit degeneratif seperti diabetes. Gejala diabetes di antaranya banyak atau sering kencing banyak, sering haus, makan banyak tapi berat badan turun tanpa sebab jelas, cepat lelah, kesemutan dan badan terasa tidak enak.
“Komplikasi akibat diabetes mellitus bisa menyebabkan depresi dan demensia,” tuturnya.
Oleh karena itu diabetes harus dicegah sejak dini. Seperti mengonsumsi banyak sayuran dan cukup buah-buahan, membatasi makanan manis, asin dan berlemak. Cara lain membiasakan sarapan, aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal. “Istirahat cukup dan kalau perlu mengonsumsi suplemen,” katanya. (nani mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.