
KEMPALAN: Kejiwaan Hera menjadi lebih baik sepulang mudik menengok simbahnya. Emosinya berangsur-angsur normal. Masalah keris masih tetap mengganggu pikirannya. Pelajaran penting yang Hera peroleh dari peristiwa keris adalah bahwa ada alam lain yang tidak kasat mata yang harus kita hormati. Untung Hera tidak diberi kelebihan bisa melihat makhluk-makhluk alam lain, sehingga, tidak mengganggu kehidupannya di alam nyata.
Hera kembali bekerja, masih di kantor konsultan teknik sebagai operator komputer mengetik laporan hasil survei soil test, topografi, hydro oceano dan lain-lain. Usia kandungan Hera makin membesar, Hera sudah merasa kerepotan karena pulang pergi kantor harus beberapa kali turun naik kendaraan umum. Di kantor Konsultan itu Hera tidak bergaji, Hera hanya menerima uang transport saja. Walaupun bagi Hera yang bercita-cita ingin menjadi wirausaha, sebenarnya tidak bergaji, tidak masalah. Yang terpenting bagi Hera adalah networking. Ya Netwoking adalah mutlak diperlukan bagi Hera. Karena selain kerja keras, loyalitas, berkinerja bagus, networking yang luas akan menciptakan opportunity. Ia yakin orang sukses adalah orang yang bisa mengelola peluang dengan baik. Membuat peluang menjadi kenyataan, dan menjadikan produktifitas. Hera berniat resign atau mengajukan cuti melahirkan, sebagai prosedur formalitas saja. Setelah melahirkan mungkin Hera ingin mengajukan surat resign. Hera mulai cuti tidak masuk kerja dan fokus untuk kelahiran bayinya.
Hera melahirkan saat berusia 27 tahun. Tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Sampai masa kelahiran tiba, bayi anak pertamanya yang sungsang tidak berubah posisi. Klinik bersalin merujuk agar Hera ditangani di rumah sakit besar karena kondisinya tidak normal, dan anak pertama. Oleh dokter dirujuk di RS Sint. Carolus. Ini mengingatkan Hera dan saudara-saudaranya yang juga lahir di RS itu, RS tertua di Jalan Salemba Raya Jakarta.
Saat Hera kontrol yang kedua di RS besar, oleh dokter dan suster diberikan latihan semacam senam selama seminggu, Hera harus melakukan senam seperti yang ajarkan. Tapi belum sempat seminggu Hera sudah terasa mules-mules rutin, seperti tanda-tanda akan melahirkan. Dari malam hingga pagi Hera mules-mules. Hera tidak kuat menahan rasa sakitnya, dengan naik taxi, Hera, ibunya dan Danang menuju rumah sakit. Hera baru dua kali berkunjung ke RS itu, itu pun di Polikliniknya yang kebetulan dokter kandungannya belum begitu kenal.
Hera mendaftar ke loket poli kebidanan dan dengan sigap diperiksa oleh bidan dan suster, Hera langsung dimasukan ruang bersalin beruliskan High Risk, hati Hera agak deg-deg an, membaca tulisan itu. Mungkin termasuk pasien High Risk karena bayi Hera sungsang dan anak pertama. Namun Hera tenang karena dia berada di RS besar. Hanya dengan pertolongan beberapa bidan Hera melahirkan setelah berada diruang itu selama 7 jam. Sebuah perjuangan antara hidup dan mati dari seorang perempuan yang ingin menjadi ibu.
Suster RS Carolus terkenal disiplin gesit, resik tapi galak. Hera sudah tahu hal itu saking dia takut dibentak. Saat masih mules Hera minta ijin pada suster yang bertugas hari itu
” Sus saya boleh nangis ya, karena sakit sekali sudah dari pagi hingga siang mules-mules tapi bayi saya tidak kunjung lahir.”
” Boleh bu silahkan menangis, bayi ibu sungsang jadi tekanannya kurang kuat, sehingga mulesnya belum bagus belum sering, sabar ya”, jawab suster dan tidak galak, mungkin karena merasa tidak enak sebegitunya ada pasien mau menangis saja minta ijin. Saat itu Hera iri dengan kamar sebelahnya yang sudah beberapa kali terdengar suara tangis bayi dan ibunya mengucap syukur atas kelahiran bayinya.
Di siang bolong jam 13.00 WIB saat geludug menggelegar kencang, lahirlah bayi laki-laki dari rahim seorang ibu, Hera. Itulah akhir sebuah perjuangan yang dimenangkan oleh Hera. Alhamdulillah puji syukur Hera lega bisa melahirkan anak pertama dengan kelainan letak sungsang, tetapi lahir dengan cara normal. Seminggu berada di RS, ia tidak bisa bangun tidak bisa berjalan. Ternyata pasca melahirkan sungsang dengan cara normal pun Hera sangat merasakan kesakitan dan tidak bisa berjalan. Keadaan ini berlangsung sampai satu bulan. Betapa berat perjuangan seorang ibu bertaruh nyawa saat melahirkan seorang anak. Setelahnya pun masih menanggung rasa sakit. Dalam hati Hera, padahal untuk menjadi ibu tidak harus melahirkan. Banyak anak terlantar dan tidak diurus orang tuanya berada di panti-panti atau di jalanan perlu sentuhan seorang ibu tepatnya perempuan. Tidak perlu repot ngidam dan melahirkan bertaruh nyawa dan panik. Mungkin yang membedakan jika melahirkan sendiri, ada kelangsungan sejarah keluarga, yang tidak putus dan merasa lebih puas. Itu saja.
Hera sangat menyayangi bayi mungilnya walaupun ia berharap bayi perempuan. Sehingga ia begitu benci terhadap laki-laki saat hamil. Tetapi setelah bayinya lahir, lain cerita, dia sangat sangat sayang. Seperti punya harta karun yang tidak ternilai. Hari- hari Hera menggendongnya memeluknya dan memberikan ASI dengan maksimal. Bayinya kuat dan lahab minum ASI. Hera mulai berpikir mencari asisten rumah tangga, karena Hera harus kerja. Setelah dua bulan kondisi Hera sudah pulih.
Perubahan yang signifikan dalam tubuhnya adalah ada yang longgar di rongga perutnya yang dulunya singset kencang menjadi kendor dan ada yang membesar di dadanya karena menampung ASI. Hera agak kesal dengan tubuhnya yang berubah drastis menjadi aneh. Walaupun akhirnya berangsur-angsur bisa menyesuaikan.
Dua bulan dari Hera melahirkan, Hera mendapat info dari ibu Svetlana bahwa di kantor barunya membutuhkan asisten. Kantor bu Svet di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Perusahaan besar Group Nugra Santana, milik konglomerat asli pribumi. Salah satu anak perusahaannya bernama Adiguna Shipyard & Engineering yang bergerak di bidang pabrikasi dan konstruksi offshore, membangun Jacket Offshore Platform untuk Oil Company dan Galangan Kapal. Hera ingin menambah pengetahuan lagi di bidang yang baru. Lebih menarik lagi, di situ ada bu Svetlana. Hera memanggilnya mbak. Entah mengapa, antara keduanya seperti ada ikatan yang belum bisa dimengerti. Hera merespon info lowongan di perusahaan bu Svet dengan serius. Hera segera membuat lamaran kerja pada perusahaan Adiguna S & E.
Lamaran itu dibawa oleh Hera bersama salah satu teman yang dulu satu kantor di tempat pertama kali kerja. Hera naik bis tingkat no 43, mengingatkan kisah cintanya dengan Agung. Iya Agung yang selalu antar jemput dengan naik bis itu. Lokasi perusahaan lumayan sulit dijangkau, setelah naik bis, lalu pindah naik Metromini jurusan Cilincing, turun Bogasari masuk naik ojek sepeda. Di wilayah Tanjung Priok tidak ada ojek motor. Hera menemui ibu Svet lagi dan beliau menyerahkan berkas lamaran Hera kepada bagian HRD. Kantor itu dikepalai oleh expatriat Amerika, dan teamnya terdiri dari beberapa tenaga kerja Asing.
Ibu Svetlana adalah senior Secretay yang super sibuk menangani pekerjaan keadministrasian dibantu oleh beberapa junior Secretary dan Hera melamar salah satu pos itu. Hera dan temannya langsung hari itu dipanggil ke ruangan untuk di tes penguasaan komputer, membuat surat dan tabel. Tidak begitu sulit. Endingnya Hera dan satu temannya diterima kerja di perusahaan tersebut. Sebagai karyawan kontrak, per 3 bulan, lalu diperpanjang lagi per 6 bulan. Gaji yang ditawarkan di perusahaan itu 3 kali lipat dari gaji yang diterima saat pertama kali Hera bekerja. Hera sangat senang tentunya.
Tentang hubungan Hera dengan mbak Svetlana akhirnya terkuak secara tidak sengaja. Suatu hari sahabat ibunya Hera, Unsri, datang ke rumah. Tante Un sering menitip barang dagangan pada ibu Hera. Kebetulan hari minggu dan Hera sedang berada di rumah ibunya. Tante Un minta tolong pada Hera untuk mencarikan kerja anaknya yang sudah lulus kuliah tapi belum mendapatkan pekerjaan. Hera menjawab jika dirinya sedang pindah di kantor yang baru, masih dalam masa percobaan. Lalu tante Un, menyebut nama Svet.
” Nak Hera ki jawabe kok podho karo nak Svet lagi pindah kantor baru”, demikian kata tante Un kepada Ibunya Hera. Hera kaget, juga ibunya.
“Lho kok nyebut Svet tho zus, itu kan atasan Hera di kantornya yang baru. Zus Un kok kenal Svet?!?”
“Lha Svet itu kan putri si bung kacamata sing ganteng, putrinya Zus Ni Mangkunegaran”, tante Un menjelaskan ke ibu Hera.
Ya ayahnya mbak Svet adalah tokoh terkenal sebagai menteri negara dan pembantu ketua partai. Ibunya adalah putri priyayi Mangkunegaran yang tidak tahu politik dan hanya mementingkan untuk mengurus anak-anak.
” Woow … Lha horok to yo.. “.
Hera dan ibunya kaget. Hera menangis haru. Oooh ternyata keduanya senasib. Pantes Hera merasa ada hubungan yang beda tapi tidak tahu kenapa. Sama- sama anake wong mambu. Bahkan mbak Svet yang bernama Sovyet itu mambunya lebih banget daripada Hera. Ayah mbak Svet tidak diketahui keberadaanya, entah hilang dimana atau dieksekusi dimana, hanya mereka yang mengeksekusi yang tahu. Atau jangan-jangan yang mengeksekusipun juga dieksekusi. Buktinya tidak ada bocoran hingga saat ini, hanya kira-kira saja.
Pada tanggal 11 Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet bapaknya diculik oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa. Ada beberapa tapol yang pernah melihatnya di Rutan Salemba tetapi setelah itu mereka tidak melihat lagi karena kemudian terhembus kabar burung bahwa dia sudah dieksekusi di salah satu kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.
Juga ribuan anak-anak lain yang bapak diciduk diangkut di dalam truk dibawa kemana, tiada yang tahu. Semua gelap , pilu rasa hati Hera setelah mengetahui kisah atasannya yang baik, murah hati dan peduli itu. Pantesan ada sesuatu tarikan yang dahsyat antara keduanya.
Semua orang mambu dan anak orang mambu akan selalu menyembunyikan identitasnya. Demi keamanannya. Hera tidak tahan dan lari menuju meja telpon memutar nomer rumah mbak Svet dan terisak menyampaikan bahwa mereka senasib.
“Mbak Svet ternyata..”, ucap Hera sambil sesenggukan..
“Apa dik? Apa?” mbak Svet agak bingung menerima telpon yuniornya menangis tersedu.
“Mbak nasib kita sama. Sama-sama anake wong mambu. Meskipun aku sedkit lebih baik. Tapi penderitaan kita sama..”
“Ya Tuhan…Aku merasakan sesuatu ketika pertama ketemu kamu dik. Entah itu petunjuk alam bahwa kau perlu ditolong atau gimana.”
“Oh sama ya. Aku langsung merasa dekat pertama kali ketemu mbak.”
Terjawablah sudah mengapa Hera demikian terusik hatinya dan merasa ada getaran. Walaupun Hera yakin cepat atau lambat akan terkuat. Lega perasaan Hera.
*
Hera harus mendelegasikan pekerjaan rumah tangga kepada PRT atau asisten rumah tangganya. Bayi Hera dipegang oleh ibunya. Asisten mempersiapkan keperluan bayi sesuai arahan ibu Hera. Sambil momong ibu Hera tetap bekerja mengajar kursus menjahit di rumahnya. Ibu Hera tidak lagi mengajar di luar.
Di perusahaan Shipyard, kantor Hera yang baru, dia ditempatkan sebagai staff untuk kantor representative klien. Yaitu sebuah perusahaan minyak besar yang bermarkas di Alaska, dan memiliki beberapa sumur pengeboran minyak di Indonesia. Job Desk Hera melayani semua kebutuhan klien, seperti keperluan office meubeler, stationery, surat menyurat. Ada dua post kantor Klien, satunya berada di dalam office dan di Container Office dekat pantai. Hera sering mondar- mandir dikedua office itu yang cukup jauh dengan berjalan kaki naik turun tangga dari gedung office ke Office Container.
Pekerjaan yang tidak sulit. Di kantor ini cenderung fisik yang bekerja, kaki dan betis Hera pegel. Hera naik turun hampir tiap hari beberapa kali untuk menyiapkan dan menyediakan segala properti permintaan klien dan menyampaikan kepada kantornya untuk diproses. Di perusahaan yang baru itu, ada ratusan bahkan ribuan tenaga kerja, terbagi dalam beberapa divisi. Ada divisi pabrikasi, divisi engineering, Divisi Quality Control, Divisi Administrasi dan Keuangan, Divisi HRD dan Kesekretariatan. Hera berada di Divisi terakhir. Pada saat ini kantor barunya sedang memenangkan tender besar, yaitu pekerjaan konstruksi pembangunan Anjungan minyak lepas pantai, istilah lainnya pembangunan Jacket Platform Offsore yang saat itu nilai proyeknya dalam rupiahnya sekitar 50 M. Nilai yang sangat besar untuk ukuran proyek swasta saat ini. Hera selalu menghayati setiap pekerjaan dengan segala problematikanya. Dari situlah Hera belajar banyak hal sebagai modal untuk kehidupan selanjutnya yang mungkin lebih kompleks.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi