Profil

Xi Jinping dan China Modern

  • Whatsapp
Presiden China Xi Jinping menghadiri Leaders Summit on Climate melalui tautan video dan menyampaikan pidato berjudul "For Man and Nature: Building a Community of Life Together" di Beijing, China, 22 April 2021. (Xinhua/Huang Jingwen)

KEMPALAN: Dunia sedang berfokus pada dua raksasa yang akan bertemu di Jenewa besok Rabu (16/6), yakni Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Ketika mata dunia internasional melihat keduanya, seringkali mereka melupakan raksasa lainnya, China bersama Presidennya, Xi Jinping.

Pria asal Beijing ini memiliki peringai yang tenang dan terlihat seperti selalu tersenyum, namun diam-diam negaranya memperluas kekuatannya melalui industri dunia maya, teknologi, dan Belt and Road Initiatives (BRI), bahkan semasa Donald Trump menjadi Presiden AS, Amerika berhadapan dengan China masalah perang dagang.

Ia merupakan anak seorang tokoh komunis China, Xi Zhongxun dan menapaki jalan yang sama dengan ayahnya dengan berkecimpung di dunia politik Republik Rakyat China (RRC). Ia berkuliah teknik kimia di Tsinghua University, namun kehidupannya lebih banyak dihabiskan di dunia politik.

Meskipun lahir dari kelompok elit politik China, Xi tidak begitu beruntung, karena ayahnya terkena dampak Revolusi Kebudayaan yang digaungkan Mao Zedong dan dipenjara. Akan tetapi Xi justru tidak dendam dengan Partai Komunis China (PKC) dan menerima sepenuhnya apa yang diajarkan oleh PKC ketika ia dikirimkan ke pedesaan untuk re-edukasi pada umur 15 tahun.

Ia diterima bergabung dengan PKC pada tahun 1974. Salah satu posisi pertama yang diraihnya adalah sebagai sekertaris daerah PKC di Provinsi Hebei. Nasibnya di dunia politik ternyata membawanya pada posisi puncak. Pada tahun 1979 ia menjadi sekretaris Geng Biao, Sekretaris Jenderal Komisi Militer Pusat hingga tahun 1982.

Selain di Hebei, dia juga berkarir politik di Fujian tahun 1985-2002, Zhejiang dari 2002-2007, dan Shanghai pada tahun 2007. Ia menjadi anggota alternatif dari Komite Sentral PKC (CC PKC) pada tahun 1997 dan menjadi anggota penuh pada 2002. Nasibnya terus meningkat di dunia politik hingga menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis China mulai tahun 2012 dan menjadi Presiden Republik Rakyat China pada tahun 2013.

Xi Jinping memenangkan pemilihan sebagai Presiden Republik Rakyat China pada 14 Maret 2013 (Reuters).

Sebagai pimpinan RRC, ia memegang kekuasaan yang besar atas negara yang luas dan menekankan pada kekuasaan perekonomian melalui berbagai proyek yang dilakukan China di luar negeri, termasuk BRI. Terlepas berkecimpung di dunia politik China, Xi Jinping memiliki pemikiran yang menekankan pada pembangunan dan tidak tertutup pada pasar bebas, meskipun dengan cara pandangnya sendiri.

Presiden RRC itu memperkenalkan BRI pertama kali kepada dunia ketika menyampaikan pidato di Universitas Nazarbayev saat berkunjung ke Kazakhstan pada September 2013 dengan menyarankan kerja sama antara China dan Asia Tengah membangun Silk Road Economic Belt. Hal ini diperkuat dalam pidatonya di DPR RI pada Oktober 2013 yang mana juga mengusulkan pembentukan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan mempromosikan interkonektivitas regional dan integrasi ekonomi.

Sementara itu, pada Februari 2014, Xi bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, mencapai konsensus tentang pembangunan Sabuk dan Jalan, serta hubungannya dengan Kereta Api Euro-Asia Rusia yang semakin memperluas ruang lingkup BRI.

Xi Jinping bersama Vladimir Putin pada Februari 2014 (situs Dubes RRC untuk Lithuania).

Presiden Xi pada Oktober 2014 mengumumkan, China akan menyumbang $40 miliar untuk mendirikan Silk Road Fund. Selama pertemuan APEC Beijing, Xi mengumumkan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk memberikan dukungan investasi dan pembiayaan untuk infrastruktur, sumber daya, kerja sama industri, kerja sama keuangan, dan proyek lainnya di negara-negara di sepanjang Sabuk dan Jalan.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa Xi Jinping adalah Presiden RRC yang membawa negaranya pada posisi pesaing Rusia dan Amerika Serikat dalam hal perekonomian. Namanya mungkin sejajar dengan Mao Zedong dan Deng Xiaoping. Ia lahir tepat hari ini pada tahun 1953. (reza hikam)

Berita Terkait