Kamis, 30 April 2026, pukul : 19:17 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hera akan kembali ke Jakarta bukan semata-mata karena kota itu adalah tanah kelahirannya tempat tumpah darahnya. Tapi kota Jakarta adalah kota besar ibu kota negara di mana seluruh penduduk Indonesia berhak mengadukan nasibnya karena di kota itulah banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan, tak terkecuali Hera. Maka Hera akan kembali, Hera memakai kata kembali seperti lagunya Koes Plus karena Hera berasal dari Jakarta.

Ada satu ritual penting yang Hera lakukan sebelum meninggalkan kota Semarang, di kebon belakang rumah kosnya, Hera membakar semua surat-surat yang dia terima yang jumlahnya ratusan ada satu tas besar. Beberapa surat Hera sisakan yaitu surat terindah dan yang paling puitis satu dari Agung, satu dari Larso dan satu kumpulan puisi khusus untuk Hera dari Mas Bagas. Yang terakhir ini adalah warisan intelektual berupa seni budaya. Hera berbisik pada semua surat yang akan dibakarnya dan minta maaf kepada pengirimnya. Bukan berarti akan putus silaturohminya tetapi untuk sekedar mengubur semua masalah yang pernah terjadi dan kelak menjadi saudara dan sahabat dengan wajah baru.

Di Jakarta Hera kembali kepada rutinitas membantu ibunya, bagian masak di dapur. Kegiatan lain membaca lowongan kerja di koran nasional dan tiap hari menulis surat lamaran kerja. Seminggu dua kali Hera ke kantor pos dekat Kampus IKIP Rawamangun, kampusnya dulu. Beberapa surat lamaran yang Hera kirim mendapat tanggapan, dibalas dan diundang untuk test dan wawancara. Hera hatinya senang apalagi jika yang memanggil perusahaan media yang besar. Hera pernah ujian tes di Aula kantor Perusahaan itu. Juga pernah tes di perusahaan besar yang beralamat di Jalan- jalan top di Jakarta. Tapi setelah tes lolos lanjut wawancara, lalu diminta menunggu info selanjutnya, ujungnya tidak ada kabar lagi. Begitu beberapa kali. Hera berpikiran apakah ini hanya sekedar formalitas memenuhi himbauan Depnaker yang mewajibkan perusahaan harus membuat pengumuman Lowongan Kerja di Media, padahal sesungguhnya tidak butuh atau butuh tapi sudah ada calon yang direkomendasi orang dalam. Hera tidak patah semangat, dia menulis terus lamaran menghabiskan perangko yang tidak sedikit. Hera jadi paham kota Jakarta dari ujung ke ujung, Jakpus, Jaksel, Jaktim dan Jakut sudah Hera jelajahi naik turun kendaraan umum. Sampai kadang mual-mual terasa lagi jika terlalu lama perjalanannya. Jika sudah demikian Hera buru-buru beranjak berdiri untuk turun di halte terdekat, istirahat sejenak kena angin. Lalu di lanjut naik bis berikutnya dengan nomor dan jurusan yang sama. Oleh karena itu Hera selalu antisipasi waktu untuk hal- hal yang tidak terduga seperti itu.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan berlalu Hera belum mendapatkan pekerjaan. Hera mengeluhkan hal ini dalam suratnya kepada Danang, Hera juga agak menyesal menyarankan Danang untuk pindah ke Jakarta, peluang kerja ternyata lebih mudah didapatkan di luar Jawa. Tetapi Danang sudah terlanjur mengajukan dan mendaftar untuk mutasi ke Jakarta. Jika belum mungkin Hera akan melamar di perusahaan perkayuan itu. Hera juga teringat alamat bapak Kapolda yang masih disimpannya, bagi Hera itu penting, tetapi dalam hati Hera berjanji, hanya jika terpaksa dan sangat kepepet saja Hera akan berkirim surat atau datang kepada bapak Kapolda Sulut yang beramat di Jl. Sriwijaya JakSel itu. Hera memberi deadline waktu pada dirinya setengah tahun. Jika dalam waktu setengah tahun belum mendapat pekerjaan Hera akan beranikan diri melamar pekerjaan ke Sentani.

Suatu siang ada surat balasan datang dari Danang intinya agar Hera bersabar dan tetap semangat terselip cerita ada temannya kerja bercerita bahwa kakaknya yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan mencari asisten untuk posisi typist. Hera tertarik walaupun itu pekerjaan kelas rendahan. Hera pikir justru dari typist ini nantinya akan tahu tentang banyak hal. Hera penasaran lalu bertanya lebih lanjut tentang alamat perusahaan pada kakak temannya itu. Danang mendapatkan infonya juga tidak begitu komplit nama Perusahaan konsultan itu, alamatnya pun hanya diinfokan dengan kata kira-kira, lokasi kantornya di jalan Wolter Monginsidi dekat STM Penerbangan, seberangnya.

Ancer-ancer yang tidak terlalu sulit sebenarnya dan mudah dijangkau karena hanya satu kali naik bis dari Halte dekat rumah Hera. Yaitu Bus Jurusan Blok M. Ada dua Bus yang melewati jalan itu Patas dengan ongkos 250 rupiah atau Bus biasa dengan ongkos 100 rupiah. Hera yakin bisa menelusuri, masalahnya adalah nama perusahaannya yang kurang jelas Rogge… rogge…ada kata GmbH…Melihat rangkaian huruf terakhir jelas menunjukkan bahwa perusahaan asing dari Jerman, dan alamat persisnya tidak punya. Jangankan nama perusahaan yang susah dilafalkan oleh lidah ndesonya Hera. Nama dari kakak temannya Danang pun juga susah dilafalkan…nama yang berbau Eropa Timur tepatnya Rusia ….Svet…..”Aduuh gimana nanti mencarinya”, batin Hera.

Tapi, Hera optimis, bukan Hera namanya jika patah semangat. Dengan sepotong informasipun dan ancer-ancer STM Penerbangan yang ngetop karena hobi tawuran, Hera akan jabanin sampai ketemu. Hera mempersiapkan berkas lamaran menulis surat lamaran kepada Manager HRD tanpa menyebut nama. Karena posisi yang dilamar adalah typist, tidak lupa Hera melampirkan sertifikat semacam ijazah Mengetik. Dari Yayasan tempat ibunya mengajar khursus jahit. Hera dibuatkan Ijazah mengetik tingkat terampil sepuluh jari, padahal Hera hanya bisa ngetik dengan lincah sebelas jari alias dua jari kadang empat jari. Itu dilakukan pada saat bikin skripsi. Di pikiran Hera  yang ada adalah konsep Learning by Doing. Yang penting nyemplung dulu di dunia kerja, nanti akan menyesuaikan dan belajar di situ. Hera membeli map karena lamaran akan diantar sendiri. Hera naik bis yang murah 100 rupiah. Sengaja mengambil jam yang sepi yaitu antara jam 10.00 -11.00 bus Jurusan Pulo Gadung – Blok M adalah rute padat dan terkenal banyak copetnya. Hera duduk sambil merenungkan nama-nama yang susah itu. Ini adalah kali pertama Hera memasukkan lamaran bukan melalui post tapi datang sendiri mengantar lamaran tanpa diundang.

Sebuah keberanian ekstra, mungkin saking kepepetnya pingin cepet kerja. Hera turun persis di depan Sekolah STM Penerbangan, lalu menyeberang. Hera telusuri jalan itu dan memperhatikan plang yang tertera tidak ada nama yang berbau kata Rogge…GmBH.. ada kantor Radio jelas bukan, lalu jalan lagi ada Rumah makan jelas bukan, lalu rumah besar dengan pagar tertutup pasti bukan, jalan lagi ada kantor bank OEB ini satu-satunya kantor tapi kok bank, bisik hati Hera.  Di samping Bank masih dalam satu area ada kantor dibatasi undakan tangga keramik jika belok ke kanan kantor Bank OEB, jika belok ke kiri adalah kantor tidak ada nama asing itu tapi ada nama PMO (Project Manajement Office). Hera nekat, mungkin perusahaan yang dicari ada di dalamnya. Hera mendorong pintu kaca dan menuju meja resepsionis.

” Selamat siang mbak.”

” iya, ada yang bisa saya bantu?”

” Emm…mau bertemu bu Svet…bu Svetlana…” kata Hera dengan percaya diri.

” Silakan Lalu resepsionist yang sibuk itu mempersilahkan duduk “. Hera disilahkan duduk di ruang tunggu.

“Alhamdulillah”. Hati Hera lega,  berarti tidak salah. Hera duduk di ruang tunggu ber AC.

Tak lama kemudian Office Boy datang membawakan dua kaleng soft drink Sprite dan AW Root Beer. Dengan senyumnya yang ramah meminta agar Hera menunggu sebentar karena sedang ada acara. Hera tersanjung, anak kemarin sore mau nyari kerja kok disuguhin soft drink.Terdengar sayup-sayup lagu happy birthday, mungkin sedang ada yang berulang tahun. Hera menatap kaleng minuman di hadapannya, yang satu sudah familiar, yang satunya belum tapi penasaran seperti apa rasanya. Hera belum berani minum. Tapi hatinya merasa lega. Lima belas menit kemudian seorang Ibu manis berambut ikal, perut nya buncit karena hamil, datang membawakan Kue tart. Dalam hati Hera berucap ” mimpi apa ini hari dijamu Kue lezat dan soft drink segar mewah?”

Benar-benar hari baik bagi Hera. Ibu manis itulah yang bernama Svet… Svetlana…sebuah nama indah dari negeri Beruang Merah. Hera memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya melamar pekerjaan sebagai typist atau apa saja yang sesuai ke kemampuannya. Ibu Svet menerima berkas lamaran Hera dan memang benar di kantornya sedang butuh seorang typist. Hera ditanya berapa gaji yang diharapkan, Hera kaget dan menjawab sambil tersipu

“Monggo saja ibu, sesuai standar dan aturan yang berlaku di perusahaan ibu”, kata Hera. Bagi Hera yang utama adalah bekerja menjadi manusia yang produktif dan mengenal dunia kerja.

“Baiklah kalau begitu, silahkan tulis nomer telpon rumah di map agar sewaktu-waktu bisa dihubungi” , kata ibu Svet ramah dan bersahabat.

Dengan mantap dan penuh harap, Hera menulis nomor telepon rumahnya. Setelah ngobrol sejenak Hera akhirnya tahu nama dan perusahaannya adalah Rogge Marine Consulting GmbH. Sebuah Konsultan pengawas yang ditunjuk oleh ADB Loan. Untuk Project Infrastruktur pembangunan Pelabuhan atau Pusat Pendaratan Ikan termasuk tempat Pelelangan Ikan, di bawah Direktorat Perikanan sebagai penerima LOAN dari ADB. Hera pamit dan ijin untuk membawa Soft drink Aw Root Beer untuk sangu di jalan. Bu Svet mempersilahkan agar dibawa semua tapi Hera membawa satu kaleng saja. Kue tartnya pun Hera malu untuk mencoleknya. Hera lalu keluar dan menunggu bis tepat di halte tidak jauh dari kantor itu. Hatinya riang dan lega tidak disangka mendapat hidangan yang istimewa.

Entah mengapa seperti ada suatu ikatan atau kesamaan yang tidak kasat mata antara Svet dan Hera. Ada gelombang elektro magnetik yang saling menarik, yang tidak bisa dijelaskan. Hera sampai di rumah sekitar jam 2 siang. Baru siap-siap mau makan siang ada dering telepon. Hera segera mengangkatnya suara ramah di seberang sana memperkenalkan sebagai Office Manager dari kantor ibu Svet.

“Ya anda bisa mulai bekerja minggu depan yaitu tanggal 15 di pertengahan bulan.”

Hera serasa nggak percaya. Secepat itu balasan dari kantor tadi.  Hati Hera riang tiada terkira mendengar kabar itu. Hera diminta segera masuk kerja?? Tidak salah dengarkah??  Hera luar biasa bahagia melebihi kebahagiaannya saat lulus ujian sarjana dan diwisuda. Inilah tonggak awal Hera nyemplung Learning by doing kerjaan apa saja, typist juga tidak masalah. Hera menceritakan berita gembira itu kepada ibunya. Ibunya sangat senang mendengarnya.

“Oalah syukur nduk. Akhirnya kamu dapat kerja. Semoga cocok.”

Seluruh keluarganya turut berbahagia.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.