Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 56)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Tiba di stasiun Tawang Hera bergegas membeli tiket, kebetulan saat itu sepi karena hari biasa. Hera selalu dapat tempat duduk setiap membeli tiket dari stasiun Tawang, karena pemberangkatan kereta berawal dari stasiun itu. Sejak peristiwa muntah-muntah sepanjang malam di bis saat pertama Hera menginjakkan kakinya di Semarang ketika jadi mahasiswa baru, sejak itulah Hera trauma tidak ingin naik bis lagi. Sepenuh apapun kereta masih lebih nyaman karena tidak membuat Hera mabok di perjalanan.

Hera duduk merenung, hatinya antara ploong gembira dan gamang. Gembira sudah lulus kuliah, gamang setelah lulus mau apa kemana dan bagaimana? Belum ada gambaran bagaimana nasibnya nanti. Yang sudah jelas gambarannya adalah dia akan menikah bersuamikan Danang, dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sesuai kesepakatan tidak boleh lebih dari lima bulan sudah harus menikah. Tetapi apakah Hera siap berumah tangga dengan segala keterbatasan Danang, gaji yang kecil, hanya pas-pasan untuk ukuran hidup di Jakarta, bagaimana nanti Hera menjalani hidup nya, sementara Hera belum ada pandangan dapat kerja dimana, wusuda saja belum, ijazah juga belum keluar. Hera sangat ingin sebelum menikah sudah harus mendapatkan pekerjaan, tapi mungkinkah? Hera juga berharap jika kelak berumah tangga ingin mandiri, kontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah ibunya. Yang penting bisa lepas dari rumah orang tuanya, yang tidak besar dan berpenghuni banyak.

Sebenarnya simbah nya Hera menginginkan agar setelah menikah cari kerja di daerah saja yang tidak jauh dari desanya. Tetapi tidak mungkin. Hera tidak sanggup hidup di desa, kerena lebih tidak memungkinkan mendapat pekerjaan selain menjadi guru honorer. Hera kelahiran Jakarta dan ingin berkarir di Jakarta. Di Jakarta lebih toleran. Perusahaan- perusahaan swasta lebih mementingkan kualitas dan kinerja yang bagus, daripada keturunan siapa. Kalaupun tahu dia anaknya wong mambu mungkin malah dikasihani. Yang jelas tidak akan mempersoalkan masalah yang tidak mutu yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan dan profesinya. Hera akan rajin membaca kolam iklan Lowongan kerja, rajin menulis surat lamaran kerja, rajin ke kantor pos mengirimkan surat lamaran kerja. Hera sudah lelah hidup dalam keterbatasan dan menginginkan anaknya kelak tidak mengalami nasib seperti dirinya.

Hera terhenyak dari lamunannya ketika  seorang bapak tegap parlente dengan diantar petugas permisi duduk di sebelah Hera. Melihat menampilannya, bapak itu pasti pejabat. Sangat mungkin karena suatu hal ia terpaksa naik kereta Ekonomi. Hera mempersilahkan. Hera merasa takut sehingga Hera ingin melanjutkan lamunannya. Tetapi si bapak itu membuka pembicaraan. Menanyakan apakah Hera tinggal di Semarang atau sedang ingin bepergian ke Jakarta. Hera menjawab, mungkin masih terbawa suasana senang dan bangga, ”Baru tamat kuliah, selesai ujian akhir dan lulus dengan baik.” Hera juga bercerita lulus dari Undip Semarang dan akan mudik ke rumah orang tuanya di Jakarta. Hera sengaja menekankan sudah tamat kuliah, terselip harapan barangkali di kantor si bapak pejabat itu ada lowongan pekerjaan. Si bapak itu tinggal di Jln. Sriwijaya Kebayoran Baru. Mendengar nama Jalan dan wilayahnya Hera sudah keder. Benar dugaan Hera, si bapak itu pasti pejabat tinggi. Wilayah Kebayoran Baru, ada Jln. Senopati, Jalan Sriwijaya, Jalan Trujojoyo, Jalan Wijaya, Jln Purnawarman, jalan di kawasan itu bernama kerajaan dan nama raja-raja. Sebuah kawasan elite, kompleks perumahan sangat mewah, penghuninya jika bukan konglomerat, ya tentu para pejabat tinggi. Hera memberanikan diri bertanya :

” Nuwun sewu maaf bapak, kok bapak naik kereta ekonomi?” tanya Hera.

” Iya nak, bapak tidak dapat tiket pesawat, tiket kereta eksekutif non ekonomi juga sudah ketinggalan semua, ini kereta terakhir ya terpaksa bapak ikuti” , begitu bapak itu menjelaskan.

“Oh begitu, sekali-kali bapak ikut merasakan naik kereta Ekonomi menjadi wong cilik. Ini kebetulan masih agak sepi. Nanti di stasiun besar akan bertambah lagi penumpangnya, sungguh tidak nyaman lho pak”, sahut Hera memberi informasi.

“Ngak apa nak, nanti jika ada kereta Bima dari Surabaya berhenti bersamaan, bapak akan pindah.Tadi bapak sudah pesan kepada petugas, nak boleh ikut pindah”, bapak itu sopan dan tulus menyampaikan hal itu.

“Terimakasih. Bapak sekali-kali bapak harus menikmati kereta ini sampai Jakarta”, Hera setengah bercanda.

” Iya nak nggak apa kita ngobrol bercerita apa saja namti tidak terasa”, kata si bapak.

” Nak boleh bapak tanya? Setelah lulus kuliah mau kerja dimana?”

” Dimana saja boleh pak, asal sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan saya. Barangkali bapak punya kantor, saya ingin melamar pekerjaan di kantor bapak”, Hera memberanikan diri. Hera membatin, “Tuhan Maha baik”.

” Bapak ada kantor, bapak punya Hotel di pinggir Danau Sentani di Papua, silahkan jika nak berniat ingin bekerja disana nanti bapak rekomendasi. Bapak sampaikan kepada anak bapak yang mengelola di sana”, tawaran bapak itu lagi. Wajah Hera berseri dalam keremangan dan senang ada centhelan jika kelak terpaksa tidak ada kerjaan.

” Baik bapak terimakasih.Wah jauh sekali ya ke Papua, ongkos pesawat nya pasti sangat mahal”, sambut Hera.

” Iya mahal dan seminggu sekali adanya tapi tidak apa. Jika nak berminat, nanti bapak akan fasilitasi transportnya”, bapak yang baik itu menawarkan.

” Anak saya kebetulan meminta bapak mencarikan untuk tenaga front office dan marketing, dan mengutamakan gadis Jawa, katanya rajin dan ulet”, kata bapak itu memberikan tambahan informasi. Hera sedikit tersanjung. Lalu si bapak membuka tas koper kecil persegi panjang. Hera kaget dan gemetar, di koper kecil itu terselip pistol. Baru kali itu selain di film-film TV, Hera melihat sebentuk pistol sungguhan. Hera sembunyikan rasa kagetnya. Bapak itu memperlihatkan album.

” Ini putri saya yang mengelola Hotel, lulusan dari Swiss” , kata si bapak sambil menunjukkan foto putrinya yang sangat cantik seperti indo dan juga foto hotel nya di pinggir Danau Sentani.

” Oya kenapa putri bapak milih orang Jawa, sepertinya sama saja bapak. Dari manapun berasal, soal tekun dan rajin tidak ada hubungannya dengan suku”, kata Hera sok nasionalis dan bijak.

” Anak saya lebih paham tentang hal itu, karena dia kesal memperkerjakan orang daerah. Maaf katanya kerjanya tidak bagus, sering gonta-ganti, katanya tidak betah.”

” Oh kok tidak krasan, kerjanya kan tidak berat kok tidak betah ya pak?” Hera menimpali asal saja.

“Karena itulah bapak dipesan supaya carikan orang Jawa.”

Tidak terasa sudah larut si bapak mempersilahkan Hera jika ingin berpejam istirahat. Hera pura-pura tidur. Padahal sungguh tidak bisa tidur karena Hera teringat akan pistol yang terselip di koper kecil si bapak yg tidak lepas dari pangkuannya. Kereta memasuki Stasiun Cirebon. Stasiun Cirebon termasuk stasiun besar karena pertemuan beberapa persimpangan. Banyak kereta yang melewati Jalur ini baik kereta jalur utara maupun selatan. Si bapak bangkit,

“Sebentar ya nak, bapak ingin tanyakan kepada petugas adakah kereta eksekutif yang sedang ngetem di stasiun ini, nanti kita pindah.”

Hera heran kenapa harus mengajaknya. Hera berpikir sejenak apakah harus ikut jika benar ada kereta eksekutif yang ngetem. Kalau dipikir memang Hera sungguh- sungguh sudah terlalu sering naik kereta Ekonomi sepanjang umurnya. Belum pernah sekalipun ia naik kereta eksekutif. Bapak itu kembali menghampiri tempat duduk Hera denga buru-buru.

” Ayo nak, kita pindah kereta Bima Surabaya – Jakarta, sebentar lagi memasuki Stasiun Cirebon. Mari bapak bantu bawaannya, apa ada yang di atas? Biar kita lebih cepat sampai Jakarta”, kata bapak dengan serta merta.

“Mohon maaf bapak saya tetap di kereta sini saja”, jawab Hera mengatupkan kedua tangannya.

“Tidak nak, ayo ikut bapak,  sudah terlanjur pesan dua seat pada petugas. Anggap ini hadiah kelulusanmu!”

Hera terharu dan terperanjat. Ingat saat ketika sedang ujian ‘sidang’ tidak ada satupun teman yang menyambutnya karena rata-rata temannya ambil mata kuliah KKN. Begitu juga teman kosnya Nunik dan Endah. Hera seperti kerbau dicocok hidungnya. Nurut saja. Ada perasaan sungkan yang luar biasa. Dan yang terpenting Hera belum sempat minta nomer kantor anaknya yang punya hotel di Sentani.

Hera ikut turun dengan satu travel bag dibawakan oleh bapak itu. Lima menit menunggu kereta Bima memasuki Stasiun Cirebon. Hera dan Bapak itu bergegas naik dan mendapat duduk yang nyaman di VIP. Dengan AC yang dingin kursi empuk bisa disetel, ada cover putih, di setiap seat ada pijakan kaki. Baru kali itu Hera merasakan nikmatnya naik kereta. Udara dingin serta wangi dan segar, tidak ada pedagang asongan berseliweran. Bapak itu memanggil pramugari kereta untuk menunjukkan daftar menu. Bapak memesan Bestik sapi, Hera ditanya ingin makan apa. Ia malah bingung,  sungguh tidak ingin makan sebenarnya. Tapi demi menghormati orang yang baik, Hera pesan nasi goreng, pilihan menu standar ketika orang dalam kondisi bingung.

Kereta berjalan sangat cepat, tidak terasa sudah memasuki stasiun Cikampek praktis Hera tidak tidur semalaman. Mentari sudah terbit diufuk timur, semburat sinarnya memantul pada jendela kaca. Bapak itu mencari pulpen dan menulis di secarik kertas. Letkol Drs Roeky dengan marga Manado di belakang namanya, Kapolda Sulawesi Utara. Bapak Kaploda itu memberikan secarik kertas alamat kantornya dan nomer telpon komplit. Bapak itu memberikan secarik kertas itu.

” Ini nak alamat bapak yang di Jakarta jika ada perlu mainlah ke rumah bapak”.

Hera menerima sobekan kertas dengan tulisan kuno miring ke kanan dan panjang-panjang rapi. Hera membaca tulisan itu semakin gemetar. Pantas bawa pistol dan sugih, batin Hera. Baru kali ini ada Kapolda nggotong travel bagnya anak ingusan, batin Hera sambil tertawa penuh kemenangan.

“Nak siapa? Sampai bapak lupa tidak tanya, sudah keasyikan ngobrol. ”

Hera sengaja tidak akan menyebut namanya jika tidak ditanya.

” Saya Hera pak.”

” Iya nak Hera bisa bikin lamaran, bisa dikirim ke alamat tersebut nanti akan diteruskan ke anak saya. Tapi yaitu tadi harus mau ditempatkan di Sentani. Nak Hera mungkin kerasan, tempatnya sangat indah. Hotel kami menghadap lautan Pasifik. ”

Hera sulit mengabstraksikan dalam bayangannya gimana keindahan hotel itu.

” Baik bapak, suatu saat Hera kepepet Hera akan berkirim surat lamaran ke alamat bapak”, sahut Hera agak sungkan.

” Wah kok nunggu kepepet to nak? ” bapak itu tersenyum.

“Prioritas saya cari kerja di Jakarta dulu pak, jika dalam setahun belum dapat pekerjaan di Jakarta , saya akan kabur ke Papua, ikut putri bapak “, kata Hera sambil tersenyum.

” Betul ya ditunggu. Sepertinya nak Hera cocok untuk posisi itu. ”

Kereta memasuki Bekasi jam 6 pagi. Hera menyampaikan ke bapak kapolda bahwa dia akan turun stasiun Jatinega. Karena rumahnya sudah dekat dari stasiun ini. Bapak itu juga akan turun Jatinegara karena jika turun Gambir akan lebih jauh jika pulang ke Jln Sriwijaya di JakSel.

” Baiklah nanti kita naik taksi dari Stasiun lalu ke arah Utan Kayu, bapak lanjut bablas ke selatan”.

Hera kembali terharu mendapat jawaban itu. Hera sungguh tidak menyangka mendapat hadiah dari Tuhan dengan lantaran si bapak Kapolda itu.

Kereta memasuki stasiun Jatinegara, Hera dan Bapak Kapolda  langsung turun dan taksi sudah berjajar menunggu penumpang. Baru kali pertama Hera akan naik taksi dari stasiun Jatinegara.

“Bapak nyuwun sewu dari Jatinegara ke Utan Kayu sudah dekat, ke arah utara, bapak akan ke arah selatan. Mohon maaf saya naik bajaj saja”,  Hera dengan hati- hati mengusulkan.

” Ohh begitu, sebenarnya tidak apa taksinya ke Utan Kayu sebentar. Emm tapi terserah nak Hera saja”, kata bapak Pejabat polisi itu menjabat tangan Hera. Seperti mimpi Hera bertemu dengan pejabat sebaik itu. Hera mengucapkan banyak terima kasih dan berharap bapak itu sehat dan bahagia selalu.

Tiba di rumah, dengan riang Hera bercerita tentang kisahnya di perjalanan dengan naik kereta mewah walaupun hanya dari Cirebon. Ibunya mendengarkan dengan senyum-senyum, campur haru dan trenyuh sebegitu gembiranya hati anaknya, bertemu dengan orang baik yang memberikan kenyamanan sesaat. Kepedulian yang langka dan Hera akan mengingatnya selalu. Pertemuan pertama dan terakhir dengan bapak itu, karena Hera tidak merasa begitu kepepet dalam perjalanan hidupnya walaupun juga tidak mulus.

Hera lalu bercerita komplit tentang Danang, tentang pak Camat orang tuanya, tentang kisahnya sejak awal. Juga tentang kelakuan Jimo yang konon ternyata juga nyinyir menghalangi hubungan cinta kakak sulungnya mas Eko dan istrinya. Ibu mendengarkan dengan seksama sambil menjahit, Hera duduk di sebelah ibunya dengan kursi bulat seperti dingklik yang tinggi. Ibu tidak berkomentar banyak, tidak melarang dan tidak juga senang. Ibu biasa saja.

” Ibu hanya berharap kamu bahagia dengan pilihanmu dalam situasi apapun.”

“Iya bu, semoga aku bisa bahagia dengan mas Danang”, kata Hera, tiba- tiba berlinang air matanya, kumat gembengnya. Karena, Hera yakin hidupnya akan berat.

” Ya sudah mantapkan hatimu, perjuangan cinta kalian yang berliku dan begitu panjang pasti diridhoi Gusti Allah” ibu memberikan support di saat hati Hera melemah.

“Orang seperti Jimo Belong selalu ada, kapan dan dimana pun. Tapi orang baik akan menemukan jalannya”, lanjut bu Ratmi.

Hera menyampaikan pada ibunya bahwa Hera akan ikut wisuda bulan depan, dan juga menceritakan bahwa dua bulan berikutnya Danang mau pindah kerja di Jakarta. Ibu Hera gembira mendengar itu. Dengan demikian Hera tidak jadi dibawa ke Kalimantan.

Hera hanya seminggu berada di Jakarta dan kembali ke Semarang menyampaikan perbaikan skripsi dan mendaftar Wisuda. Mengurus sewaan jubah dan toga, dan membenahi serta packing propertinya yang ada di kostnya.

Hera balik ke Semarang dengan kegamangan yang lebih dari biasanya. Entah mengapa tiba-tiba hati Hera diselimuti kegundahan dan keraguan. Benarkah Danang akan berjodoh dengan Hera. Masih ada kesempatan jika ingin mengurungkannya, batin Hera. Hera membayangkan hidupnya akan terseok-seok penuh keterbatasan. Dan,  Hera sudah bosan dengan keadaan itu. Tetapi jika melihat sosok Danang yang lugu , apa adanya dan tulus, Hera menjadi trenyuh. Pilihan Hera kepada Danang sungguh sebuah pertaruhan yang luar biasa.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait