Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 48)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera menulis surat untuk Larso menanyakan tentang suratnya yang terasa berbeda. Hati perempuan akan sensitif hanya dengan kalimat atau kata-kata yang tidak biasa.

Perasaan yang selama ini sudah melambung, tersanjung dan penuh harap serasa turun lagi. Walaupun khusus kepada Larso hati Hera merasakan harap-harap cemas. Tetap akan sakit jika sesuatu yang meski hanya harapan itu, terpelanting dari lambungan dan sanjungan yang sudah terlanjur tinggi.  Hati Hera mendadak jadi geram tanpa alasan yang jelas. Hera mengira-ira dengan intuisinya yang sebernarnya sudah jauh-jauh bekerja, mempersiapkan jika hal-hal yang tidak mengenakkan terjadi. Namun bisa-bisa hati akan tidak siap jika kenyataan pahit menjadi realitasnya.

Hera menulis surat kepada Larso dengan sangat hati-hati, walaupun hanya tulisan, tetapi ungkapan yang tercermin dalam kata dan kalimat tentu akan menggambarkan suasana hatinya. Hera mengirim surat via kilat khusus agar sampai dengan cepat. Kerisauan hati Hera ternyata terbaca oleh Larso. Tidak terlalu lama Hera menerima balasan dari Larso.

Dia menulis:

“Jeng Hera,

Kabarku baik dan sehat, begitu pula harapanku padamu.

Memang benar kecurigaanmu, suratku tidak seperti biasanya karena ada hal yang sangat mengganggu pikiranku. Maafkan ya jeng. Saat ini hati dan pikiranku sedang kacau, gundah dan bingung. PR besarmu sudah kulaksanakan. Tetapi hasilnya tidak bisa kusampaikan melaui surat. Kita harus ketemu jeng, supaya tidak salah paham. Apakah minggu kedua bulan depan kita bisa mudik dan bertemu di kampung??. Mohon beri kabar secepatnya ya jeng. Maturnwun.

Salam Sayang – Larso.”

Membaca surat Larso yang tidak panjang tanpa selingan humor, serasa bukan dari Larso. Entah mengapa rasa sengkring di hati Hera semakin menusuk-nusuk. Sakitnya disengat kalajengking hanya berdampak demam tinggi, planjeran di ketiak, lalu minum obat antibiotik, tiga hari sembuh. Tetapi sakit hati, urusan cinta, stigma dan fitnah sepanjang hidup akan terbawa. Entah kisah apa lagi yang Hera akan hadapi. PR besar Hera untuk Larso sepertinya membuahkan dilema.

Larso meminta pertemuan dan tidak ingin menyampaikan lewat surat, mungkin ceritanya rumit dan panjang. Hera merenung, memikirkan hal ini secara matang. Akhirnya Hera memutuskan untuk tidak mudik menemui Larso dan berkirim surat lagi kepada Larso agar menulis apa saja yang hendak diceritakan secara komplit melalui surat. Keputusan Hera ini bukan tanpa alasan. Alasan utamanya, Hera tidak ingin simbahnya tahu jika terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan dibicarakan di rumahnya. Kedua Hera tidak ingin bertatap muka dengan Larso saat menyampaikan hal-hal yang tidak mengenakkan secara langsung, Hera khawatir tidak bisa menjaga emosinya. Ketiga, Hera tetap ingin menyimpan nama Larso sebagai pribadi yang baik, peduli dan penuh kasih sayang. Dan ke empat, Hera tidak ingin menciderai hubungan kekerabatan kekuarga besar simbahnya dengan kelurga besar Larso. Biarlah jika ada luka, ketidakenakan, kekecewaan, dan sakit hati, Hera sendirilah yang akan menanggungnya, tidak perlu ada orang lain ikut merasakan dan turut menjadi korban.

Alasan-alasan itu tidak dikemukakannya kepada Larso. Hera hanya menulis surat ingin Larso segera menceritakan semuanya melalui surat secara komplit. Jika Larso tidak mau, berarti SELESAI. Larso tidak berhak meminta Hera untuk tidak salah paham, tidah berhak meminta untuk tidak sakit hati, untuk tidak marah dan sebagainya. Waktu terasa sangat lama dan panjang saat menunggu surat Larso yang bagi Hera sangat penting dan akan menjadi monumental ini. Seminggu, dua minggu berlalu belum ada balasan.

Malahan adiknya Danang berkirim surat lagi bilang terimakasih sudah dapat berita dan foto kakaknya. Adik Danang juga menanyakan kapan Hera pulang ke desa, dia mau main ke rumah. Hera membatin, apakah ada hal-hal yang penting, sehingga adik Danang mau main ke rumah. Hera segera menjawab bahwa minggu depan akan mudik. Hera bersurat kepada Larso kalau dirinya tidak mau mudik, tapi ternyata mudik. Hanya minggunya berbeda sudah lewat dari minggu yang diinginkan Larso. Sambil menunggu surat Larso yang mungkin berisi Bom.

Hera mudik kangen dengan simbahnya sudah 3 bulan lebih tidak bertemu. Dan ingin nyekar ke makam Mbah Eyang dan mbah Semarang. Hera merasakan adanya semacam hubungan transendental yang hanya bisa dipahami melalui aspek kerohanian, bukan hubungan yang bersifat material kebendaan. Ini berkaitan dengan nyekar dan hubungan dua alam yang berbeda.

Simbahnya Hera kaget dan gembira cucunya datang. Hera tampak semakin coklat kulitnya akibat terbakar matahari didesa pesisir di lokasi KKN. Simbahnya hampir tidak mengenali. Dalam hati Hera, bagaimana teman-temanya yang Tionghoa,  dari kulitnya putih menjadi merah kecoklatan. Sambil ngracik kinang mbah putrinya mendengarkan cerita pengalaman Hera di desa KKN, sementara mbah kakungnya leyeh-leyeh di kursi sedan. Simbahnya merasa terhibur dengan cerita-cerita Hera, sebab simbahnya yang buta huruf  tidak punya cerita lain selain Berita Radio dan cerita wayang. Simbah kadang tidak percaya dengan Berita Radio. Tidak terjangkau oleh pikirannya misalnya berita Menteri Penerangan membuka Festival Film Indonesia bersama para Artis. Simbahnya akan komentar Menteri Penerangan kok ngurusin bintang pelem, mbok ngurusin listrik masuk desa. Biar lampu teploknya pangsiun. Hera tersenyum geli. Listrik di desanya baru masuk menjelang Hera lulus kuliah. Simbahnya lebih suka mendengarkan cerita Hera daripada mendengar Berita Radio.

Suara motor terdengar masuk halaman dikendandarai gadis berambut panjang. Hera beranjak dari tempat duduknya.

“Hai adik ayu apa kabar?” Sapa Hera ramah menyambut adiknya Danang datang.

“Hallo mbakku manis,waah makin manis aja yang pulang dari ka ka en “, sapanya, mungkin mau bilang makin item nggak tega.

“Bilang aja makin gelap, aku tidak tersinggung kok hahaha. Yang blaka suta saja”, celetuk  Hera.

“Mbak kulitmu itu kok gampang banget berubah-ubah ya dulu waktu masih jadi gadis ibukota, saat pulang dari Jakarta nampak putih”, ucap adik Danang. Dia pernah ketemu Hera di Delanggu.

“Iya memang hawa dan air Jakarta membuat kulit bersih, semakin ke Barat akan  semakin putih lihat orang Padang, orang Aceh pasti putih, semakin ke timur akan berubah item dan kriting”, jawab Hera guyon.

“Kalau itu soal keturunan mbak. Kita keturunan Astronesia dari Asia Tengah dan yang di Indonesia timur itu turunan Melanesia dari India Selatan.”

“Wuih kamu pinter, nggak kayak masmu “, sahut Hera sambil ketawa.

Mereka tertawa. Adik Danang memperkenalkan dirinya ke simbah putri.

“Piye nduk ayu kabare mas Danang katanya kerja di Kalimantan”, kata simbah bertanya.

“Sae mbah sampun nyambut damel”, jawab Ayu.

“Yo syukur nek ngono”,  simbah ikut senang mendengarnya.

“Nggih mbah pengestunipun”, jawab Ayu.

Lalu Hera menarik Ayu mengajak duduk di meja persegi. Hera menanyakan apa keperluannya. Ayu bercerita bahwa orang tuanya senang mendapat berita tentang Danang. Semua itu berkat putra mantunya bude Danang. Ada perjanjian tidak tertulis bahwa bahwa putra mantunya bude Danang ingin menjodohkan mas Danang dengan adiknya yang kebetulan juga bekerja disana, di Kalimantan, di perusahaan yang sama. Hera tersentak kaget tapi pura-pura  biasa saja.

“Mbak aku ke sini atas kemauanku sendiri, mau minta maaf atas perlakuan keluargaku terutama orang tuaku yang sedemikian, semua adik- adik mas Danang suka sama mbak Hera”,  Hera mendengarkan dengan baik.

“Wah maturnuwun, wis ora popo yang penting semua baik-baik saja dan semua sukses” , jawab Hera tanpa ada rasa sedih.

“Seandainya nanti mas Danang tidak jadi dengan mbak Hera, masih maukan mbak Hera menganggap aku sebagai adik?”  tanya Ayu dengan mata berkaca-kaca.

“Yo tentulah lah dik, persaudaraan kita tidak terbatas pada aku jadi atau tidak dengan mas Danang”, kata Hera tegar.

“Mbak, perusahaannya mas Danang itu besar lho cabang usahanya banyak, pusatnya di Jakarta. Bujukin aja mbak supaya pindah Jakarta”, kata Ayu.

“Lha kok gitu, biarkan aja berkarir dulu di hutan. Belum ada setahun kok minta pindah”, kata Hera berpendapat.

“Maksudku biar mas Danang kabur dari Kalimantan, menghindari perjodohan itu” , Ayu menjelaskan maksudnya. Hera sedikit heran. Mengapa adiknya Danang punya pikiran semacam itu.

“Memang kenapa dik, gak masalah to kalo mas Danang mau …”

Hera masih tetap heran pada orang tua Danang. Sepertinya ingin berkompetisi dengan anaknya, adu kekuatan siapa yang menang. Arogansi senioritas di lingkungan sekolah ata tempat kerja, itu masih lebih bisa diterima akal. Tapi arogansi atas hak anak dari orang tuanya sendiri sepertinya sulit diterima. Strategi melarang yang pertama membuahkan hasil putus. Memang dianggap strategi yang sukses. Lalu pak camat ingin menjodohkan dengan anak kepala desa fovorit gagal, karena Danang kabur ke Sumatera. Setelah pulang mulai dilarang lagi berhubungan dengan Hera ,  gagal masuk pegawai BUMN. Lalu pergi ke Kalimantan ternyata bertujuan menyingkirkan dari Hera dan ingin menjodohkan lagi. Hera yakin tanpa dibujuk seperti saran adiknya pun, Danang akan kabur dari Kalimantan, apabila dia tahu tentang perjodohannya itu. Hera tidak akan bertanya pada Danang, kecuali Danang bercerita sendiri. Danang membawa komplit alamat kost, alamat kampus, bahkan Hera memberikan alamat Jakarta. Siapa tahu Hera sudah selesai kuliah dan kembali ke Jakarta.

Hera kembali ke Semarang dan mulai sibuk dengan sekripsinya. Tidak disangka saat Hera menuju perpusatakaan fakulas, ia melewati loket kaca di sana berjejer surat wesel pos  dan Hera kaget setengah mati, ada satu wesel bernilai nominal 150.000 berasal dari Kalimantan. Hera paham dengan tulisannya yang berhuruf kapital semua. Tulisan siapa lagi kalau bukan tulisan Danang. Hera antara senang, haru dan bahagia melihat wesel itu. Di saat- saat banyak keperluan, ada uang cukup besar. Jumlah itu tiga kali lipat dari jumlah kiriman kakaknya. Nazar Danang untuk memberikan gaji pertamanya kepada Hera benar-benar dipenuhi.

Hera segera mengambil wesel pos itu dan bergegas membawanya ke kantor pos di jalan Imam Barjo tidak jauh dari Kampus. Hatinya berbunga-bunga. Dia berencana akan mentraktir temannya, Nunik dan Endah, makan di Resto Kentucky Fried Chiken dengan Pepsi Cola yang diimpi-impikan. Hera juga membeli semua kelengkapan untuk skripsi, kertas satu rim. Biasanya beli eceran. Lalu ia membeli tipex dan thinnernya. Ia juga beli tipex kertas, beli pita mesin tik brother buluknya dan macam- macam peralatan tulis lainnya. Hera membayar kos dua bulan sekaligus dan tidak ingin minta wesel dari kakaknya di bulan itu. Benar-benar seperti rejeki nomplok yang tidak pernah dibayangkan.

Hera pun segera menulis surat balasan, terpaksa memakai alamat kakak sepupu iparnya. Karena Hera merasa wajib memberitahukan kepada Danang bahwa weselnya sudah diterima. Hera mulai menyimpulkan, ternyata di antara ketiga cowok itu Dananglah  yang paling mengerti kesulitan Hera. Setidaknya di masa itu. Larso, Agung, Danang….

Seminggu setelah wesel Danang, surat Larso datang. Hera gemetaran membukanya. Suratnya tebal, pasti sesuai saran Hera untuk bercerita komplit. Hera mengatur nafas, dan meraih segelas air putih untuk menenangkan diri, rasa sengkring mulai terasa lagi menusuk hatinya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait