Catatan Prof. Dr. Sam Abede Pareno, MM, MH.
KEMPALAN: Judul di atas adalah ucapan saya yang baru saja ini hari saya sampaikan pada seorang professor. Dia bilang, kalau La Nyalla jadi presiden Indonesia habis dikorupsi. Saya meresponsnya dengan mengajaknya berdiskusi agar tak ada fitnah di antara kita. Tapi, sudah berjam-jam menanti jawaban guru besar itu, tak kunjung datang. Diskusi atau dialog adalah tradisi intekektual yang merupakan academic culture (budaya ilmiah) dalam mencari dan menegakkan kebenaran. Kalau ada professor yang tak suka berdiskusi atau berdialog maka status professornya patut dipertanyakan, setidaknya kenapa dia tak berbudaya ilmiah?
Sudah sering saya mendengar pihak-pihak yang bersuara miring tentang La Nyalla. Beberapa tahun lalu tanpa setahu La Nyalla saya menemui sekretariat suatu organisasi keagamaan tingkat Jawa Timur, karena ketuanya menyatakkan bahwa La Nyalla menjalankan praktik premanisme melalui Pemuda Pancasila. Saya jelaskan tentag asal kata preman dalam bahasa Belanda, yaitu vrijman= orang bebas. Jadi preman berarti manusia bebas yang tidak terikat oleh pekerjaan formal.

Contohnya tukang becak, tukang parkir, penjaga kantor atau rumah, tukang catut karcis. Anggota PP (Pemuda Pancasila) mayoritas dari kalangan preman itu meskipun tidak sedikit yang alumni HMI, PII, dan kalangan professional. Namun saya paham bahwa yang dimaksud oleh ketua organisasi keagamaan itu mengenai premanisme, yaitu tindak kejahatan seperti mencuri, merampok, menodong, tawuran dan sebagainya. Saya jelaskan padanya bahwa bertahun-tahun selama La Nyalla memimpin PP Jawa Timur, tak seorang pun anggotanya yang terlibat tindak kejahatan, bahkan tawuran saja insyaa Allah tak pernah.
Karena yang saya hadapi ketua organisasi keagamaan Islam, terpaksa saya informasikan bahwa nasab La Nyalla adalah bangsawan Bugis Makassar yang disegani. Kakek dan saudara-saudara kakeknya adalah para pendiri Masjid Mujahidin di Jl Perak Barat Surabaya dan Masjid Al Falah di Jl Raya Darmo Surabaya. Saya pun menyindir pak ketua tersebut dengan menjelaskan mungkin ibadah kita kalah dibanding La Nyalla yang tak pernah meninggalkan tahajud, dhuha, puasa Daud, dan menyantuni yatim piatu serta amal jariyah lainnya.
Itulah klarifikasi yang saya lakukan demi seorang teman baik dan budiman bernama La Nyalla.
Sekarang ada lagi yang berasumsi bahwa Indonesia habis dikorupsi kalau La Nyalla jadi presiden. Asumsi seorang professor tanpa data dan fakta akurat dan tak berani adu argumentasi dengan saya, tapi saya justru bersyukur karena dengan peristiwa tersebut mengilhami saya untuk menulis artikel ini sekaligus juga sebagai klarifikasi. Harap maklum, meski dulu pernah dekat dengan La Nyalla, tak pernah saya berkonsultasi dengan beliau sebelum menuangkan tulisan. Saya tak berambisi jadi menteri sebagaimana tuduhan sang professor. Di samping usia sudah tua, sejak dulu saya ingin menjadi preman, manusia merdeka. Maka, profesi yang saya dalami adalah wartawan, seniman teater dan film, kemudian dosen. Benar-benar vrijman, lebih-lebih dengan adanya konsep kampus merdeka. Karena ideologi asasi wartawan, seniman, dosen adalah kebebasan.
Surabaya, 22 Mei 2021.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi