Senin, 27 April 2026, pukul : 04:11 WIB
Surabaya
--°C

Air Mata Kesyukuran Palestina

KEMPALAN: “Palestina milik bangsa Arab, sebagaimana Inggris milik bangsa Inggris, dan Prancis milik bangsa Prancis.” — Mahatma Gandhi.

Air mata bisa tertumpah karena dua sebab. Bisa karena kesedihan membuncah, tapi bisa juga karena rasa riang yang memuncak. Dalam dua hal ini, air mata biasa tertumpah tanpa bisa dibendung. Suasana demikian bisa muncul dari siapa saja yang masih punya rasa-hati.

Dua momen air mata tertumpah, itu yang dialami warga Gaza, Palestina. Di luar negara itu, apakah air mata bisa pula tertumpah melihat derita Gaza? Dimungkinkan, dan itu yang dirasakan penduduk belahan dunia Islam lainnya, termasuk Indonesia.

Bahkan jika itu “diteruskan” pada non muslim sekalipun, dua momen air mata tertumpah itu bisa juga terjadi, jika itu menyangkut kemanusiaan. Siapa yang tidak terenyuh lalu hati terusik melihat mayat anak-anak dan perempuan tak berdosa terkapar dengan kondisi tubuh tak utuh lagi, bahkan wajah pun sulit dikenali.

Anak-anak bahkan bayi pun jadi korban kebiadaban zionis Israel.

Maka dua momen air mata tertumpah, khususnya air mata kesedihan, itu bisa dirasakan siapa saja, tanpa ada penghalang tembok teritorial yang membatasi. Momen air mata tertumpah itu ekspresi antara sedih dan, atau riang gembira.

Itu bukan ekspresi yang dibuat-buat seperti artis sedang naik panggung pertunjukan drama atau tonil. Itu muncul dari kesadaran kemanusiaan. Memang tidak semua memilikinya. Beruntung jika memiliki rasa-hati yang masih melekat.

Momen air mata tertumpah mustahil bisa dirasakan mereka yang berhati tumpul dan otak sengkarut. Jenis manusia begitu tak mungkin punya empati, justru rasa riang hati jika zionis Israel itu terus menggempur warga tak berdosa dengan nafsu membantai.

Sebelas hari gempuran senjata berat ditumpahkan zionis bedebah, tanpa hinggap rasa kemanusiaan. Pikirnya itu bisa buat Palestina menyerah sembari tekuk lutut, maka sasaran sipil dihajarnya tanpa henti. Teriakan dunia internasional tuk hentikan kebiadaban tak juga menyurutkan agresor yang terus dan terus menggempur sasaran sipil sekenanya.

Brigade Al-Qassam, Pasukan Hamas Palestina.

Merasa jumawa dengan senjata modern yang dimiliki, itu jadi andalannya. Sedang Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas di Gaza terus melakukan perlawanan dengan roket-roketnya. Tidak semua mengena sasaran, tapi jika mengena jadi momok ketakutan tersendiri buat warga Israel.

Sebelas hari suasana mencekam di Gaza, tapi juga di tanah-tanah pendudukan Israel, terutama Tel Aviv dan kota-kota lain yang dihujani roket-roket Hamas yang bisa mencapai sasaran 300 km.

Suasana di Gaza bukannya tidak mencekam, bahkan amat mencekam. Tapi warganya siap untuk berada dalam suasana sulit bahkan kehilangan sanak keluarga sekalipun. Sehingga tak ada teriakan warganya agar menyerah saja.

Sedang suasana yang sama tidak terjadi pada warga Israel, yang tidak siap menderita apalagi kehilangan anggota keluarga. Maka desakan warganya untuk mengakhiri perang muncul dan menekan pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Secara psikologis warga Palestina memenangkan pertempuran itu. Maka tawaran sponsor utama Mesir untuk gencatan senjata, diterima tanpa reserve oleh zionis Israel. Bahkan menerima semua persyaratan yang diajukan Hamas.

Maka suara takbir berkumandang saat diumumkan gencatan senjata, dan itu tanda kemenangan Palestina. Semua warga pada pukul 02.00 dinihari tumplek blek memenuhi jalanan bersuka cita. Maka air mata kesedihan yang dirasakan warga Palestina sebelas hari mencekam, itu berubah jadi air mata kesyukuran.

Menang dalam Segala Hal

“Kami berjuang dalam perlawanan di pertempuran Pedang Quds ini dalam membela Al-Quds (Baitul Maqdis) dengan segala kemuliaan, kehendak dan tekad seluruh bangsa,” kata Abu Ubaidah, juru bicara Brigadir Al-Qassam.

Itulah sepotong kalimat Abu Ubaidah saat menyambut gencatan senjata, Jum’at (21 Mei), dan itu kemenangan buat Palestina. Perang sebelas hari dengan pemimpin dan pasukan Hamas yang secara mental lebih siap ketimbang pasukan zionis Israel.

Dengan andalan rudal roket yang diproduksi dan ditingkatkan jarak sasaran tempuhnya, yang itu patut dibanggakan. Mampu mencipta ketakutan, menggangu psikologis, dan menebar teror tersendiri bagi mental zionis.

Tidak itu saja, suasana anti zionis Israel merebak di seluruh pelosok dunia. Demonstrasi di seluruh penjuru dunia Islam terus bergema. Bahkan setelah gencatan senjata pun demonstrasi masih dilakukan di beberapa kota di negeri kita.

Bahkan di Barat pun ratusan ribu massa turun ke jalan meneriakan, “Kami Bersama Palestina”, itu di Inggris, Prancis dan lainnya. Tidak ketinggalan di Amerika warganya pun di banyak kota turun ke jalan memprotes kebidaban zionis Israel. Bedebah haus darah ini lalu jadi musuh bersama.

Warga London, Inggris, demo dukung Palestina.

Jika perang diteruskan berlama-lama, maka tidak menutup kemungkinan, dan ini momok yang paling ditakuti, boikot pada semua produk yang “beraroma” yahudi. Bagi yahudi boikot itu seperti membunuh dengan kesakitan luar biasa.

Palestina dalam peperangan sebelas hari itu juga menang dalam “mengambil hati” dunia internasional, dan itu tanpa beriba-iba untuk dibelaskasihani. Menang dalam perebutan opini itu muncul dengan sendirinya, dan itu atas ulah biadab zionis Israel, yang tanpa perasaan menghantam sasaran-sasaran sipil dengan korban berjatuhan tidak sedikit.

Pertempuran sejak 10 Mei itu menewaskan 243 orang, termasuk 66 anak-anak, dan melukai 1900 orang. Sedang kerusakan bangunan dan infrastruktur yang dialami Gaza, itu akan memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa dibangun sebagaimana semula, dan dengan biaya puluhan juta dolar Amerika.

Lalu pertanyaan muncul, sampai kapan gencatan senjata ini berlangsung? Bukankah yahudi bermental paling suka mengingkari perjanjian (Al-Baqarah 100). Jangankan kepada manusia, Tuhan pun ia ingkari (Al-Baqarah 64).

Namun setidaknya, kesyukuran atas kemenangan pertempuran itu bisa jadi awal jalan menuju kemerdekaan negara Palestina yang diharapkan. Dan kemenangan di Perang Pedang Quds (Syaiful Quds) itu menaikkan moral bangsa Arab Palestina, bahwa fajar kemenangan yang sesungguhnya (kemerdekaan) akan tiba.

Sebagaimana perkataan Mahatma Gandi, bahwa “Palestina milik bangsa Arab…,” maka sikap dan kegigihan untuk merebutnya kembali, itu dimungkinkan. Semua akan tiba pada waktunya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.