CAPE TOWN-KEMPALAN: Cendekiawan juga mantan aktivis anti-Apartheid asal Afrika Selatan, Farid Esack mengomentari perjuangan rakyat Palestina dan pendudukan yang dilakukan Israel terhadap negara tersebut.
Menurutnya, para penduduk Afrika Selatan akan merasakan “deja vu” ketika sampai di tanah Palestina atau Israel.
Bahkan sampai titik tertentu ia mempertanyakan apakah nasib mereka yang hidup di bawah Apartheid sama dengan di bawah Zionis? Bagi Esack, mereka yang hidup di bawah kuasa Zionis merasakan nasib yang lebih parah seraya mengutip dari John Dugard, bahwa rezim Apartheid di wilayah pendudukan Israel “lebih parah ketimbang yang terjadi di Afrika Selatan.”
Namun ia tak habis pikir dengan tindakan warga Afrika Selatan yang acuh tak acuh dengan nasib rakyat Palestina, padahal Afrika Selatan menghadapi perjuangan yang sama di masa lalu yang mendadak terlupakan dan tampak tidak berkaitan jika bicara tentang Palestina.
Ketika berbicara tentang Zionisme, wacana yang berkaitan dengan kemanusiaan justru ditingkatkan hingga pada wacana Ketuhanan, yang menurut Esack, tidak bisa diperdebatkan.
Menurut profesor tersebut, baik Apartheid di Afrika Selatan maupun Zionis di Israel sama-sama menggunakan retorika ketuhanan untuk membenarkan tindakan mereka.
“Dengan cara yang sama berakhirnya Apartheid Afrika Selatan berarti kemungkinan serius bagi banyak rasis kulit putih untuk menjadi manusia sepenuhnya dan dibebaskan dari rasisme mereka,” ujar Esack seperti yang dikutip Kempalan dari The New Arab.
Menurutnya, kebebasan orang Palestina akan turut membawa pembebasan banyak orang Israel dan Yahudi dari pemikiran rasis dan dari rasa takutnya atas orang Palestina. (The New Arab, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi