KEMPALAN: Puasa Ramadan adalah momentum bagi umat Islam untuk merefleksi diri, muhasabah. Salah satunya, bagaimana selama ini pola konsumsi yang telah dilakukannya.
Salah satu hal yang paling nampak pada saat mengonsumsi menu buka puasa adalah seseorang, karena laparnya, maka ia akan mengambil porsi besar dan mengambil “semua” yang di meja dalam piringnya. Dalam benaknya, dia lapar dan akan menghabiskan semua hidangan yang lezat tersebut.
Namun faktanya, dia tidak mampu menghabiskan semua yang diambil dan diletakkan di atas piringnya. Dia hanya bisa menghabiskan sebagian dari apa yang ada di atas piring itu. Lalu, sebagian lainnya dkemanakan? Orang pun enggan memakan makanan sisa yang terkena mulut orang lain. Dan tentunya dibuang di tempat sampah, menjadi sampah makanan.
Itu adalah fenomena hanya di bulan puasa, fenomena pada rumah tangga. Di luar bulan puasa dan rumah tangga, yang makannya bisa jadi lebih dari dua kali, menunjukkan jumlah sampah makanan yang fantastis.
Sampah pangan sendiri diartikan sebagai hilangnya sejumlah pangan antara rantai pasok pangan, mulai dari proses produksi agrikultur, penanganan dan penyimpanan pasca-panen, proses distribusi, dan terbuangnya makanan layak konsumsi akibat kesalahan konsumen, seperti perilaku konsumtif dan pengolahan pangan yang buruk.
Dari data yang hasilkan oleh Food Sustainable Index” (2018) terbitan The Economist Intellegent Unit bersama Barilla Center For Food and Nutrition Foundation menyebutkan rata-rata setiap penduduk Indonesia membuang sekitar 300 kg makanan per tahun. Fakta di atas menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang dengan perilaku konsumtif pangan yang tinggi, melebihi negara adidaya sekelas Amerika Serikat yang masing-masing warganya membuang 23 kilogram lebih sedikit dari penduduk Indonesia.
Ironisnya di saat begitu banyak pangan yang dibuang, masih banyak penduduk Indonesia yang kelaparan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 13,8 persen balita di Indonesia mengalami kurang gizi dan 3,9 persen lainnya menderita gizi buruk. Fakta lain menyebutkan 34,74 persen rumah tangga di Indonesia masih memanfaatkan bantuan beras miskin (Raskin) dari pemerintah.
Dari banyaknya sampah pangan yang ada mencerminkan kepribadian seseorang. Dari cara kita memperlakukan makanan tentu akan mencerminkan bagaimana kita memperlakukan nikmat yang Allah karuniakan. Orang yang berhati-hati dalam makannya tentu mencerminkan orang yang berhati-hati dalam kehidupannya, dalam pekerjaannya, dan semua bidang lainnya.
Jika orang tanpa segan atau tanpa sadar memboroskan sumber daya makanannya saja, maka dia pun tidak segan atau tidak sadar akan memboroskan pemakaian listrik di rumah atau di kantor, membuang-buang kertas, menyia-nyiakan bahan bakar, menyia-nyiakan waktu di media sosial, dan menyia-nyiakan sumber daya lainnya.

Jika diakumulasi akan kita temudkan jumlah yang luar biasa hanya dari sisa-sisa yang terbuang dari seluruh dunia.
Dalam Quran Surat Al-Isra: 26-27, Allah berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Dalam ayat tersebut mengindikasikan secara jelas bagaimana seseorang untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada secara hemat (bukan kikir), tidak menghambur-hamburkannya, dan agar tidak berperilaku seperti setan.
Jika dikaitkan dengan kepuasan, pada dasarnya kepuasan seseorang dalam pemanfaatkan barang/jasa bukanlah pada pemanfaatan keseluruhannya. Tetapi kepuasan seseoang itu pada sebagian kecilnya. Misalnya makan pada saat lapar. Nilai kepuasan yang diraih pada piring pertama adalah 100 persen. Kepuasan pada piring kedua sudah drastis berkurang menjadi lima puluh persen. Pada piring ketiga malah tidak merasakan nikmatnya makan, yang ada adalah kekenyangan atau kelebihan dan menjadi siksaan.
Bulan Ramadan mengajarkan umat Islam untuk sabar, menahan diri untuk tidak memperturutkan hawa nafsu, dan untuk berlaku tengah, wasath. Sehingga dalam mengonsumsi jangan sampai berlebihan sampai menimbulkan kemubadziran atau yakni berlebih-lebihan atau membuang-buang/menyia-nyiakan rizki Allah. Karena itu Islam mengajarkan untuk selalu proporsional dalam konsumsi.
Solusi yang diajarkan islam atas kelebihan adalah bersedekah. Islam meminta untuk menyedekahkan apa yang menjadi kelebihan dalam rizki yang dikaruniakan Allah, baik berupa makanan maupun barang lainnya. Karena kepuasan seseorang bukan pada memiliki seluruhnya, tetap pada apa yang menjadi kebutuhannya saja. Dan Kebutuhannya itu sangatlah terbatas.
Dalam konteks tersebut Allah mengingatkan bahwa rizki yang Dia karuniakan berupa makanan berasal dari alam dan alam adalah sumber daya milik semua manusia, yang kalau kita menyian-nyiakannya sama dengan membuang makanan yang di atas piring orang lain.
Memang benar bahwa uang yang dipakai untuk membeli makanan itu adalah miliknya, dari hasil kerjanya. Meski demikian, ia tidak bisa kemudian menghambur-hamburkan atau menyia-nyiakan rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Karena sisa dari apa yang telah dikonsumsi itu pada hakikatnya adalah milik orang lain.
Allah berfirman dalam Al Quran Sruat Adz-Dzaariyaat [51]: 19, “Bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain (orang yang meminta-minta dan orang yang tidak meminta-minta).”
Itulah bentuk atau cara Allah mengingatkan umat-Nya bahwa setiap rezeki yang diperoleh ada hak orang lain. Hak tersebut bisa dalam pengertian untuk mengeluarkan zakat, namun dalam konteks rizki Allah maka jangan sampai kita membuang rizki, karena itu adalah hak orang lain.
Karenanya Islam mengajarkan untuk sangat berhati-hati dengan rizki yang Allah karuniakan. Dalam AL Quran Surat Rahman Allah mengulang-ulang peringatanNya, “Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?” Bahwa nikmat yang Allah karuniakan kepada manusia jangan sampai kemudian rizki tersebut terbuag sia-sia.

Karenanya harus ada perhitungan yang matang memanfaatkan rizki Allah. Jangan sampai rizki itu tersia-siakan. Menyia-nyiakan rizki itu sama dengan mendustakan nikmat Allah, inkar kepada Allah dan menjadi saudaranya setan.
Demikian juga halnya dengan sedekah yang kita berikan, jangan sampai mengalami kesia-siaan. Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).
Menyukuri nikmat Allah adalah dengan memanfaatkan dengan benar apa yang Allah karuniakan kepada kita dengan perhitungan yang matang. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah mengatakan,” …. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)
Lalu, fenomena yang terjadi pada dapur-dapur rumah tangga, warung kecil hingga restoran besar, kita sering melihat banyak sisa-sisa makanan yang terbuang sia-sia saat bersih-bersih dan usai restorannya tutup.
Pada beberapa waktu belakangan, kita pun bisa mengapresiasi bagi event organizer atau pun penyelenggaraan perkumpulan yang menghadirkan banyak orang dengan mendata kebutuhan konsumsinya, agar tidak terjadi kesia-siaan.
Selain itu juga ada sebuah perkumpulan orang yang mengumpulkan sisa-sisa makanan dari restoran-restoran kemudian yang diberikan kepada orang miskin dan tunawisma.
Itu akan menjadi kesadaran kolektif untuk kita tidak berlaku menyia-nyiakan rizki Allah yang ada di hadapan kita.
Bisa jadi menyia-nyiakan nikmat itulah yang memicu murka Allah sehingga banyak bencana hanya karena persoalan yang kita anggap sepele atau remeh itu. Dan di bulan Ramadan kita bisa mulai meredam murka Allah dari cara kita berbuka puasa. (Dr. Kumara Adji, Penulis adalah dosen pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Manajer Kantor Layanan Lazismu Umsida)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi