Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 21:06 WIB
Surabaya
--°C

Bu Mega, Kisah mengenai Kodok

KEMPALAN: Belajarlah dari kodok. Itu pesan yang disampaikan Megawati Soekarnoputri kepada kader-kader PDI-P melalui buku baru karangannya, yang dilaunching Kamis (25/3) kemarin.

Ini bukan buku politik atau  pemerintahan, tapi tentang kodok, kunang-kunang, dan kupu-kupu. Judulnya keren “Merawat Pertiwi, Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam”.

Mega meminta anak buahnya untuk meniru kodok, bukan karena kodok punya anak kecebong, tapi karena kodok hewan yang suka memakan nyamuk dan serangga,  dengan begitu kodok membersihkan lingkungan.

Tidak perlu pakai obat semprot untuk mengusir nyamuk dan serangga, cukup serahkan tugas itu kepada kodok. Maka tirulah kodok, karena kodok hidup untuk memberi manfaat dengan membersihkan lingkungannya.
Begitu pesan Bu Mega kepada anak buahnya di PDI-P.

Isi buku itu belum diketahui karena belum beredar di pasaran. Tapi dari pengantar yang diberikan Sekjen Hasto Kristiyanto diketahui bahwa buku itu berisi pesan-pesan Mega untuk menjaga dan merawat lingkungan serta belajar dari alam. Hobi Mega, yang sehari-hari suka menanam kembang dan tanaman hias, dikemas dalam buku ini dan dijabarkan sebagai pesan-pesan politik lingkungan.

Bill Gates, triliuner pendiri Microsoft, baru saja merilis buku “How to Avoid a Climate Disaster: The Solutions We Have and The Breakthroughs We Need”, berisi visi mengenai isu-isu lingkungan. Gates berpendapat bahwa setelah bencana pandemi Covid 19 bisa diatasi oleh umat manusia maka bencana besar yang akan menghadang manusia adalah bencana lingkungan.

Gates mengatakan bahwa daya penghancur bencana lingkungan jauh lebih dahsyat daripada virus mematikan seperti Covid 19. Karena itu Gates mengingatkan sejak dini agar para pemimpin dunia mengantisipasi persoalan lingkungan dan menjadikan penyelamatan lingkungan sebagi program politik utama.

Emisi nol adalah harga mati. Begitu penegasan Gates. Tidak bisa ditawar bahwa emisi karbon yang menjadi penyebab utama polusi udara yang merusak ozon dan atmosfer harus dihentikan sekarang juga. Emisi karbon harus nol.

Gates jelas dan tegas, tapi utopis, kalau tidak mau disebut muna alias hipokrit, karena selama ini Gates sendiri bersama Amerika Serikat menjadi negara perusak lingkungan terbesar dengan menyumbangkan emisi karbon paling banyak dibanding negara manapun di dunia. China tahun-tahun ini menjadi perusak lingkungan karena polusi karbon emisinya yang tinggi akibat laju industrialisasi yang kencang. Tapi, dibandingkan dengan Amerika yang sudah lebih satu abad melakukan industrialisasi besar-besaran dosa China relatif kecil karena baru melakukan industrialisasi besar-besaran kira-kira 20 tahun terakhir.

Meski begitu bukan alasan untuk terus membiarkan lingkungan rusak karena emisi karbon yang ugal-ugalan. Amerika, Eropa, China, dan semua negara di seluruh dunia wajib menjaga lingkungan masing-masing untuk menghindari kehancuran.

Amerika paling ngeyel, sampai sekarang masih tidak menolak teken Protokol Kyoto yang berisi pembatasan jumlah emisi karbon ke atmosfer. Semasa Donald Trump kebijakan lingkungan diabaikan sama sekali karena dianggap sebagai agenda liberal yang kekiri-kirian dan anti industrialisasi. Sekarang di bawah Presiden Joe Biden Amerika akan diuji kemimpinan lingkungannya di level internasional.

Kansnya tidak jauh beda dengan Trump. Presiden Demokrat di Amerika secara ideologis lebih peduli lingkungan dan menjadikan isu itu sebagai jualan kampanye. Tapi dalam praktiknya sama saja, tidak ada beda antara Demokrat dengan Republik. Menghadapi lobi industri otomotif Amerika yang powerful para presiden Amerika pasti bertekuk lutut karena industri otomotif merupakan penyumbang devisa terbesar dan penyerap tenaga kerja yang sangat vital.

Bencana dunia akan datang dari kerusakan lingkungan. Prof. Jared Diamond ahli sejarah dan antropologi Amerika malah memprediksi bahwa kiamat dunia akan dipicu oleh kerusakan lingkungan, yang selanjutnya akan menyebabkan bumi kolaps. Diamond menyebut proses penghancuran ini sebagai “ekosida” atau pembantaian masal oleh lingkungan. Dalam sejarah dunia, manusia mengenal pembantaian masal akibat perang atau karena penyakit pagebluk yang memakan korban jutaan orang dalam waktu singkat.

Pembantaian oleh manusia disebut sebagai genocide atau genosida. Di era global seperti sekarang makin kecil kemungkinan terjadi genosida. Tapi pembantaian masal oleh bencana lingkungan, ecoside (ekosida) akan menjadi ancaman nyata yang tanda-tandanya sudah tampak jelas di depan mata.

Prof Jared Diamond mendokumentasikan kehancuran peradaban-peradaban besar dunia dalam buku best seller “Colapse: How Socities Choose to Fail or Succeed” (2004) yang menggambarkan keruntuhan suku Maya, Aztec, peradaban di Pulau Picterin, peradaban Tanah Hijau, dan peradaban besar lainnya. Penyebabnya cuma satu, kata Diamond, runtuh karena lingkungan.

Diamond dianggap lebay karena fokus pada masalah lingkungan daripada lainnya, misalnya politik atau teknologi. Diamond mengakui bahwa dia seorang “environmental determinism”, yang meyakini bahwa kokoh dan runtuhnya peradaban bumi ditentukan oleh perlakuan terhadap lingkungan, bukan oleh politik, atau teknologi, atau lainnya.

Jared Diamond, Bill Gates, mantan Wapres Amerika Al Gore, adalah pemerhati lingkungan yang gigih dan visioner, yang menuangkan pemikirannya secara canggih dan konseptual. Megawati Soekarnoputri tidak sophisticated seperti mereka, pemikirannya mikro dan sederhana. Tidak seperti Jared Diamond yang melakukan riset lapangan dengan hidup belasan tahun di hutan-hutan tropis Brazil dan Papua, Bu Mega cukup riset kecil-kecilan di kebun rumahnya sambil tanam bunga dan lihat kodok sama kupu-kupu.

Pengamatannya yang sederhana itu pun dituangkan secara sederhana tanpa teori maupun konsep yang njelimet. Tetapi konsep sederhana itu bisa menjadi pemikiran besar dan bahkan revolusioner. Kerusakan lingkungan di Indonesia sudah cukup parah. Penggundulan hutan dan gunung serta eksploitasi pertambangan yang ugal-ugalan membuat masa depan Indonesia dalam bahaya. Banjir besar di Kalimantan, Jawa Tengah, Jakarta, dan beberapa wilayah lain sekarang ini merupakan buah dari kebijakan lingkungan yang acak adut.

Beberapa tahun yang lalu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pernah mendeklarasikan diri sebagai partai hijau. Bukan karena warna partai yang hijau, tapi karena garis politiknya yang pro-lingkungan. Tapi gagasan itu ternyata hanya numpang lewat saja dan sekarang hilang nyaris tak terdengar.
Mungkin penyebutan “green party” itu tidak didasarkan pada pemahaman filosofi lingkungan yang memadai, hanya karena sama-sama berwarna hijau kemudian menyebut diri sebagai “green party”.

Dalam tradisi politik Eropa, Amerika, dan Australia gerakan “green party” umumnya dipelopori oleh aktivis lingkungan yang beraliran liberal kiri. Para aktivis lingkungan ini kemudian menyalonkan diri sebagai anggota parlemen secara indpenden. Ada sedikit anggota parlemen dari partai hijau di Australia dan Eropa, tapi secara keseluruhan politisi hijau masih minoritas kecil.

Identifikasi sebagai gerakan kiri-liberal ini mungkin membuat PKB tidak nyaman untuk menyebut diri sebagai green party. Tapi gerakan lingkungan melalui politik green party mestinya lebih cocok dengan PDI-P karena unsur kiri dan liberal cukup kental di partai banteng ini.

Visi Bu Mega mengenai lingkungan layak diperhatikan oleh para politisi, terutama politisi PDI-P. Tapi soal ilmu kodok yang diajarkan Bu Mega sebaiknya dicerna dengan hati-hati, karena ada yang menyebut kodok  sebagai jenis hewan yang culas. Untuk bisa melompat kodok menjilat ke atas dan menginjak yang di bawah.

Jangan-jangan, para politisi kita memang bertipe kodok semua. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.