Rabu, 24 Juni 2026, pukul : 12:04 WIB
Surabaya
--°C

Teknologi Badan Penelitian Pertanian Berdampak Signifikan pada Petani

JAKARTA-KEMPALAN: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian merintis sebuah teknologi yang fokus pada sektor pertanian. Hadirnya teknologi ini secara kontekstual memberikan manfaat yang signifikan terhadap para petani. Dampak yang terlihat adalah perubahan perilaku petani dalam mengolah tanaman padi di sawah.

“Tadinya petani di sini menanam pada lokal yang panennya setahun sekali, tetapi sekarang mereka sudah mulai berubah menjadi setahun dua kali karena yang ditanam adalah varietas unggul yang umurnya lebih pendek,” ucap Nor Dahniar pada awal Maret 2021 lalu.

Hadirnya inovasi teknologi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian berhasil merubah konstruksi dan perilaku petani dari yang tradisional. Kini para petani dapat memanfaatkan penggunaan varietas dan pengolahan lahan.

Nor mengilustrasikan bahwa didesanya terdapat satu kelompok tani tidak pernah menanam padi unggul. Namun, kini mereka dapat mulai menanam varietas unggul baru pada inpari 42 di lahan seluas 20 hektar.

Hal ini berbanding lurus dengan kondisi saat masa panen. Dimana produktivitas yang dihasilkan mencapai 5 ton/hektar berdasarkan ubinan. Jumlah tersebut secacara kuantitas mengalami eskalasi dibandingkan hasil beberapa bulan sebelumnya yang hanya 1,5 ton/hektar.

Dr. Susilawati, peneliti Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian, mengutarakan bahwa di provinsi Kalimantan Tengah tingkat adopsi teknologi pada para petani memiliki perbedaan. Oleh karena itu, perlu adanya pendampingan dan penyediaan demplot di setiap lokasi sentral agar para petani dapat belajar dengan teknologi yang dihadirkan.

Adapun teknologi yang dimaksud adalah pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT) padi rawa yang disebut dengan RAISA (Rawa Insentif Super Aktual). Dalam RAISA, terdapat komponen teknologi yang sudah dihasilkan Balitbangtan seperti penggunaan varietas, penggunaan amelioran, sistem tata air, rekomendasi pemupukan serta pengendalian hama penyakit berdasarkan spesifik wilayah.

Berdasarkan kajian khusus yang telah dilakukan Balitbangtan di lahan rawa lima kabupaten di Kalteng, dari beberapa komponen RAISA, salah satu komponen teknologi yang sulit diadopsi petani itu adalah pengelolaan tata air. Sementara yang paling mudah diterima adalah varietas dan cara tanam jajar legowo. (Rafi Aufa Mawardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.