Senin, 27 April 2026, pukul : 00:17 WIB
Surabaya
--°C

2021, Bisnis Anggrek Ubaya Kembali Raih Hibah Ratusan Juta dari Pendanaan PPUPIK Kemenristek/BRIN

TRAWAS-KEMPALAN: Pusat Pembibitan Anggrek Ubaya (PPAU) pada tahun 2020 lalu sudah memperoleh kucuran dana hibah pengabdian masyarakat sebesar Rp197 juta dari Kemenristek/BRIN. Hibah itu diperoleh melalui skim pendanaan multi-tahun Program Pengembangan Unit Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Direktorat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat (DRPM) Direktorat Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN.

Tahun 2021 ini hibah yang sama kembali diraih oleh PPAU Ubaya. Sebagaimana diketahui, PPUPIK merupakan skim pendanaan untuk pengembangan unit usaha kampus yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui Kemenristek/BRIN.

Sisi depan greenhouse PPAU Ubaya di Integrated Outdoor Campus Ubaya di Trawas dengan logo Kemenristek/BRIN sebagai pemberi hibah skema PPUPIK kepada PPAU Ubaya.

PPAU Ubaya sendiri, kata Dr.rer.nat. Sulistyo Emantoko D.P., S.Si., M.Si., Ketua Tim PPAU yang doktor dari Postdam University, Jerman, mulai dirintis dengan pembangunan green house berukuran 25×12 meter di Integrated Outdoor Campus Ubaya Trawas pada tahun 2019.

Kampus ini berada di luar Kota Surabaya, di daerah lereng Gunung Penanggungan, Trawas, yang berhawa sejuk. Di dalam bangunan green house seluas 300 meter persegi ini, ribuan bibit anggrek dari berbagai jenis dikembangkan.

Saat itu, ujar pria yang menekuni bidang nutritional science tersebut, green house dibangun setelah mendapatkan pendanaan hibah kompetitif internal dari Ubaya senilai Rp600 juta.

Anggrek yang dikembangkan PPAU Ubaya di greenhouse di Trawas.

“Intinya, Fakultas Teknobiologi Ubaya ingin supaya bisa memiliki suatu unit yang bisa mendatangkan uang melalui unit bisnis kampus. Nah, ketika ada skema hibah PPUPIK dari pemerintah, saya pun mengajukan hibah pengembangan unit usaha kampus ke pemerintah dan membentuk Pusat Pembibitan Anggrek Ubaya (PPAU). Syukur, tahun ini, 2021 sudah dua tahun berturut-turut kita memperoleh hibah,” terang Emantoko yang juga Dekan Fakultas Teknobiologi.

Wakil Dekan Fakultas Teknobiologi Dr. Ir. Popy Hartatie Hardjo, M.Si. menambahkan anggrek yang dikembangkan dan dijual oleh PPAU Ubaya adalah dari jenis dendrobium dan phalaenopsis atau anggrek bulan. “Kami juga menyilangkan sendiri anggrek-anggrek, sehingga akan menghasilkan anggrek yang berbeda dengan yang ada di toko,” ujar dosen senior yang juga pakar penyilangan tanaman ini.

Selain melalui penyalur dan toko anggrek mulai Malang, Batu, hingga Surabaya, penjualan anggrek juga dilakukan melalui outlet yang ada di kampus Ubaya, market place e-commerce Tokopedia hingga media sosial. “Terus kami kembangkan. Omzet kami sudah tembus ratusan juta rupiah. Pasar anggrek masih luas, mulai dari penghobi anggrek, hotel, kantor-kantor, dan sebagainya,” pungkas Popy.

Omzet bisnis anggrek yang dikembangkan PPAU Ubaya tumbuh pesat. Pandemi membuat orang mencari aktivitas rekreasi yang jauh dari kerumunan dan patuh dengan protokol kesehatan.

Secara rutin, nyaris setiap pekan, dosen Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya Ida Bagus Made Artadana S.Si., M.Sc. rela menempuh perjalanan 70 kilometer dari rumahnya di kawasan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, menuju Integrated Outdoor Campus Ubaya di Trawas hingga ke Handoyo Budi Orchid, Malang. Tujuannya satu: mendistribusikan bibit anggrek fase seedling ke distributor anggrek itu.

Budi Orchid adalah salah satu distributor anggrek yang menampung bibit anggrek botolan yang ditanam green house Pusat Pembibitan Anggrek Ubaya (PPAU). Green house PPAU ini berada di bawah pengelolaan Fakultas Teknobiologi Ubaya. “Biasanya saya pergi bersama istri. Kebetulan saya hobi jalan, melihat-lihat pemandangan dan tempat-tempat baru,” ujar pria yang juga trainer senior Olimpiade Biologi nasional di Kemendikbud itu.

Hari itu, tak kurang 500 bibit anggrek dalam fase seedling dikirimkan Arta ke Budi Orchid menggunakan mobil Honda Brio putih kesayangannya. Nilai nominal uangnya untuk pengiriman bervariasi mulai Rp5 juta hingga belasan juta rupiah per sekali kirim. Dan, itu selalu rutin dikirimkan ke beberapa penyalur anggrek di Jawa Timur. “Kita juga ada kontrak penjualan anggrek dengan para penyalur anggrek ini,” terang Arta. (adjie kumara)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.