JAYAPURA – KEMPALAN: Setelah mendapat peringatan dari Pemerintah Provinsi Papua, akhirnya bupati Intan Jaya Natalis Tabuni kembali menginjakkan kaki di kantornya di Distrik Sugapa, ibu kota kabupaten, pada Rabu (10/2/2021).
Natalis datang bersama Kapolres Intan Jaya AKBP I Wayan G Antara dan Ketua DPRD Intan Jaya Panius Wonda. Mereka berniat memulihkan kondisi keamanan di kabupaten tersebut.
Meski sampai saat ini, kelompok kriminal bersenjata (KKB) masih berulah di Intan Jaya. Natalis telah mengimbau aparatur sipil negara (ASN) segera kembali ke Distrik Sugapa.
Para ASN diminta segera bekerja agar roda pemerintahan kembali berjalan. “Saya sudah terbitkan imbauan agar ASN segera naik (ke Sugapa) dan minggu depan pemerintahan sudah bisa berjalan,” ujarnya.
Ia memastikan, pemerintah bersama seluruh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Intan Jaya akan merangkul tokoh masyarakat, adat, dan agama. Mereka akan diajak untuk memulihkan kondisi keamanan di kabupaten yang terletak di wilayah pegunungan tengah Papua itu.
Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw menyampaikan, aparat keamanan akan berusaha membantu pemerintah kabupaten memulihkan situasi keamanan. Paulus meminta dukungan dari Pemkab Intan Jaya agar polisi bisa mengirim tambahan personel ke Intan Jaya. “Kita sudah bersinergi dengan bupati yang telah membentuk satuan kerja yang melibatkan para tokoh yang dianggap memiliki pengaruh di tengah warga masyarakat di Intan Jaya,” kata dia.
Alasan Bupati dan Jajaran Tinggalkan Tempat Tugas
Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni mengaku belum pernah berkantor di Distrik Sugapa sejak awal 2021. Ia dan jajarannya khawatir dengan kondisi keamanan di wilayah tersebut.
Natalis sempat menemani tim gabungan pencari fakta (TGPF) Intan Jaya pada akhir 2020. Saat itu, rombongan mereka justru ditembaki kelompok kriminal bersenjata (KKB).
“Saya sempat juga bersama TGPF ditembaki KKB, tapi memang kalau malam (di Sugapa) saya tidak nyaman juga,” kata Natalis.
Tak cuma Natalis, aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Intan Jaya juga merasa tidak nyaman saat berada di Distrik Sugapa.
Para ASN kerap didatangi anggota KKB yang meminta bantuan. Para ASN, kata dia, dituntut memenuhi bantuan tersebut.
“Bukan saya sendiri, seluruh PNS, terutama putra daerah jarang ada di tempat karena mereka dapat ancaman. (KKB) minta bantuan uang atau makanan, kalau tidak dikasih (KKB) malam-malam walau dingin dan hujan mereka bisa menuju ke rumah dengan senjata lengkap,” papar Natalis.
Natalis menjelaskan, KKB tanpa ragu melakukan tindak kekerasan kepada warga yang menolak memberikan bantuan.
“Kalau tidak dikasih mereka eksekusi. Buktinya ada dua warga ditembak karena dianggap dekat dengan aparat. Jadi kalau tidak kasih karena kebetulan tidak ada, lalu dibilang kamu merah putih, jadi kita juga disiksa,” kata dia.
Hal itu, kata dia, memang kondisi yang terjadi di Intan Jaya saat ini.
“Jadi itu keadaan real yang terjadi, kami dengan TGPF saja ditembaki. Wakapolda naik pesawat saja ditembaki, itu di kota loh,” jelas Natalis.

Pengungsi Kekurangan Bahan Makanan
Sementara itu, warga dari tiga kampung yaitu Bilogai, Kumlagupa, dan Puyagiya yang mengungsi ke Gereja Katolik St Misael Bilogai, Kabupaten Intan Jaya, sejak Senin, (8/2), belum terlayani dengan baik. Mereka kesulitan bahan makanan dan minuman.
Pihak Gereja Katolik St Misael Bilogai yang berada dibawah Keuskupan Timika, kesulitan untuk menyiapkan makan dan minum untuk 600-an warga yang mengungsi.
Para pengungsi ini dilaporkan tinggal di balkon gereja, pastoran, susteran dan rumah bina Bilogai di Sugapa ibukota Kabupaten Intan Jaya.
Diakon Yosep Bunai, Pr selaku Pastor pembantu di Gereja Katolik St. Misael Bilogai Dekenat Moni – Puncak, Keuskupan Timika mengaku kewalahan mendapatkan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.
Menurutnya, hingga hari ketiga jumlah pengungsi terus bertambah. “Mereka yang mengungsi itu tiga kampung, terdapat lebih dari 600 warga berlindung di kawasan gereja. Tapi sore kemarin dan pagi ini terus bertambah, kami tidak tahu jumlahnya sekarang,” ujar Diakon Yosep Bunai melalui rilis yang diterima Cenderawasih Pos (jaringan Kempalan.com).
Bunai mengaku kesulitan dalam memenuhi makanan dan minuman bagi warga yang mengungsi. Bahkan hingga kemarin pihaknya sudah mengeluarkan 200 Kg beras milik penghuni asrama SMP YPPK Bilogai.
“Beras 100 kg itu cukup untuk anak dan mama-mama saja, tidak termasuk dengan laki-laki dewasa atau bapak-bapak. Ini yang kami kewalahan betul,” ungkapnya.
Ia mengatakan, pihaknya sangat merindukan untuk kembali bersekolah sebab jika tak sekolah maka nasib masa depan anak-anak Intan Jaya akan terancam.
Sementara itu, Pater Yustinus Rahangiar, Pr, Pastor Dekan Dekenat Moni – Puncak, Keuskupan Timika meminta agar warga tetap bertahan di areal gereja Katolik karena situasi belum juga kondusif.
“Saya akan memulangkan mereka setelah situasi sudah kondusif. Selama masih belum aman mereka akan tetap tinggal di sini (gereja dan pastoran),” kata Pater Yustinus. (gr/oel/nat)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi