Bertahun-tahun kemudian, putrinya mengunjunginya, dan sekarang memberikan penghormatan kepada tokoh yang pernah menyebutnya sebagai simbol persatuan anti-imperialisme.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Nama Soekarno kerap muncul dalam berbagai kisah tentang gerakan anti-imperialisme abad ke-20. Kekaguman terhadap proklamator Indonesia itu tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga dari sejumlah figur dunia seperti Nelson Mandela, Yasser Arafat, hingga Jawaharlal Nehru.
Bahkan ikon revolusi Amerika Latin, Che Guevara, pernah menyebut nama Soekarno sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling ia kagumi dalam sejumlah catatan biografinya.
Namun ada kisah lain yang jarang dibicarakan publik: bagaimana nama Soekarno muncul dalam memoar seorang ulama-politikus Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam buku memoarnya yang berjudul “Cell No.14”, Khamenei mengenang masa ketika ia dipenjara oleh rezim Mohammad Reza Pahlavi sebelum ada Revolusi Iran 1979.
Di balik dinding sel yang dingin itu, nama Soekarno tiba-tiba hadir sebagai jembatan percakapan antara seorang aktivis Islamis dan seorang tahanan komunis.
Cerita itu dimulai ketika seorang aktivis komunis baru saja diseret masuk ke sel penjara. Kondisinya lemah dan tampak belum makan. Khamenei muda, yang saat itu tengah berpuasa, memberikan jatah makanan berbuka miliknya kepada tahanan tersebut.
Awalnya sang aktivis komunis hanya diam bahkan bermuka masam. Namun setelah beberapa suap makanan masuk ke mulutnya, tenaganya perlahan kembali.
Khamenei tetap menemaninya hingga malam, seperti orang asing yang tiba-tiba menjadi teman sekamar dalam perjalanan kereta panjang tanpa tiket pulang.
Ketika Khamenei hendak menunaikan salat malam, pria komunis itu tiba-tiba berbicara. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak percaya pada agama apa pun. Bagi sebagian orang, pernyataan semacam itu bisa menjadi awal debat ideologis panjang – atau bahkan pertengkaran kecil di ruang sempit.
Namun respons Khamenei justru berbeda. Ia menunda salatnya sejenak dan tersenyum dan memulai percakapan dengan menyebut nama Soekarno.
Menurut Khamenei, tokoh Indonesia itu pernah berusaha menyatukan kekuatan anti-imperialisme dunia tanpa menuntut kesamaan ideologi, ras, agama, atau etnis.
Khamenei lalu menyinggung peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Dalam pandangannya, konferensi tersebut adalah contoh bagaimana bangsa-bangsa Asia dan Afrika bisa duduk bersama karena memiliki nasib yang sama, memiliki kebutuhan yang sama: sama-sama ingin merdeka dari dominasi kekuatan besar.
Dengan kata lain, Soekarno menawarkan satu ide sederhana yang kuat: persatuan bisa lahir dari kebutuhan bersama, bukan dari keseragaman keyakinan.
Bukankah ini seperti orang-orang di warung kopi desa – yang berbeda pilihan politik, tetapi tetap duduk satu meja karena sama-sama butuh secangkir kopi hangat?
Percakapan itu tampaknya berhasil mencairkan ketegangan di dalam sel. Sang tahanan komunis menjadi lebih tenang. Setelah itu Khamenei menyarankan rekannya beristirahat, sementara ia bersama tahanan lain melanjutkan ibadah malam.
Di tengah kerasnya penjara politik, nama Soekarno seolah menjadi bahasa bersama yang dipahami semua orang. Seorang Islamis Iran dan seorang komunis menemukan titik temu bukan lewat doktrin, melainkan melalui gagasan tentang kemerdekaan dari penindasan.
Pertanyaannya, bagaimana seorang presiden dari Asia Tenggara bisa menjadi referensi dalam percakapan ideologis di penjara Iran?
Apakah karena Soekarno memang berhasil menjadikan anti-imperialisme sebagai bahasa politik lintas ideologi? Atau karena gagasan Bandung memang dirancang seperti jembatan bamboo – sederhana, tapi cukup kuat untuk menyeberangkan banyak pihak?
Puluhan tahun kemudian, hubungan simbolik itu kembali muncul dalam momen berbeda.
Setelah wafatnya Ali Khamenei, Presiden Indonesia kelima, Megawati Sukarnoputri – putri Sukarno – menyampaikan belasungkawa dan penghormatan atas tokoh yang ia sebut sebagai syahid perjuangan.
Jauh sebelumnya Megawati pernah mengunjungi Sayyid Ali Khamenei, dan beliau lebih banyak bercerita tentang Soekarno kepada Megawati daripada pembicaraan formal kenegaraan.
Sejarah kadang bergerak dengan cara yang aneh. Nama Soekarno pernah menenangkan dua tahanan politik di sebuah sel penjara Iran.
Bertahun-tahun kemudian, putrinya mengunjunginya, dan sekarang memberikan penghormatan kepada tokoh yang pernah menyebutnya sebagai simbol persatuan anti-imperialisme.
Di situlah politik dunia kadang terasa seperti lingkaran: orang-orang yang tak pernah duduk satu meja ternyata tetap terhubung oleh gagasan yang sama – keinginan untuk merdeka.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi