Kamis, 30 April 2026, pukul : 20:44 WIB
Surabaya
--°C

Memaksa Gabung BOP, Harus Ksatria, Dong…!

Oleh karenanya ngotot coba-coba gabung BoP harus nyatakan jika gagal siap pulang nama. Bukan sekedar keluar dari BoP jika salah masuk, tetapi Prabowo bersama Gibran Rakabuming Raka siap keluar Istana.

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Rasanya sudah cukup suara yang mendesak Prabowo Subianto untuk segera membawa Indonesia keluar dari BoP (Board of Peace).

Kebersamaan dengan Amerika Serikat dan Israel adalah pengkhianatan konstitusi sekaligus pengkhianatan kemanusiaan karena keduanya adalah negara penjajah. Gaza merupakan bukti dari kezaliman Israel. Perlawanan Hamas terhadap Israel di Gaza masih belangsung. Pembantaian dan genosida juga berlanjut.

Di tengah pemboman dan pembataian Israel itu Amerika membentuk badan perdamaian yang bernama BoP di luar inisiatif PBB bahkan dituding tandingan. Presiden AS Donald Trump mengundang 60 negara untuk bergabung namun hanya 24 negara saja yang bersedia termasuk Indonesia.

International Security Force (ISF) dibentuk dan Indonesia ditunjuk menjadi Deputy Commander pasukan ISF ini di bawah komando Amerika.

Dibuat paket kerjasama dengan AS, yaitu Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan konten yang kontroversial.

Banyak kalangan menilai ini adalah perjanjian berat sebelah bentuk penyerahan kedaulatan Indonesia kepada Amerika “betapa bodohnya Prabowo”, seru penilai. Konsekuensinya mendesak agar perjanjian tersebut dievaluasi dan dibatalkan.

Atas berbagai desakan dan masukan akademisi, aktivis, ormas, ulama, tokoh, mahasiswa dan lainnya ternyata Prabowo ngotot ingin melanjutkan dahulu program tersebut.

Menurut “jubir abal-abal” Nusron Wahid, Indonesia harus berikhtiar dulu untuk menjalankan misi perdamaian BoP tersebut, “belum ikhtiar sudah disuruh keluar,” katanya. Indonesia rupanya hendak jalankan program coba-coba. Sungguh naif sekali.

Misi perdamaian palsu ala Amerika dan Israel, sudah harus mudah dibaca, kecuali Prabowo itu buta dan tuli. Tidak lama setelah meeting BoP di Davos, Amerika dan Israel melanggar Hukum Internasional dengan menyerang Iran dan membunuh Ayatullah Ali Khamenei dan petinggi Iran lainnya.

Jadilah bukti bahwa perang adalah nafas dan darah Amerika Israel.

Kini orang semua tahu bahwa Board of Peace itu sesungguhnya adalah Blood of Peace atau Board of War. Peace hanya narasi kedustaan atas Gaza Palestina. Amerika dan Israel ingin melumpuhkan bahkan menghancurkan Palestina dengan memperalat negara BoP, khususnya Indonesia. “Betapa bodohnya Prabowo”.

Dan, naga-naganya desakan keluar dari BoP dan batalkan ART akan disikapi masa bodoh oleh Prabowo. Nyalinya ciut kepada Trump dan Netanyahu.

Ia akan menjalankan misi BoP dan perjanjian ART dengan bersikap ambivalen atas slogan kerakyatannya dan membenarkan karakter keras kepalanya “kumaha aing“. Tentu itu haknya sebagai Presiden.

Tetapi, sebagai prajurit mantan Danjen Kopassus, Pangkostrad, dan Menteri Pertahanan maka Prabowo harus bersikap ksatria. Ia tentu ingat motto “Lebih baik pulang nama daripada gagal tugas”.

Oleh karenanya ngotot coba-coba gabung BoP harus nyatakan jika gagal siap pulang nama. Bukan sekedar keluar dari BoP jika salah masuk, tetapi Prabowo bersama Gibran Rakabuming Raka siap keluar Istana.

Jadi sesungguhnya berlaku Ultimatum Rakyat: “Keluar BoP atau Keluar Istana” dan Doktrin Tentara: “Lebih Baik Pulang Nama”. Itulah sikap Ksatria.

*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.