KEMPALAN – Tak banyak yang tahu, dari sebuah rumah sederhana di Jalan Mawar No. 10, suara pernah menjelma jadi kekuatan. Dari ruang yang tak luas itu, Bung Tomo menyalakan api semangat arek-arek Suroboyo dalam kobaran Pertempuran Surabaya.
Radio menjadi jembatan antara ketakutan dan keberanian. Kata-kata menjadi peluru moral.
Kini rumah itu telah tiada. Lahan tersebut berubah fungsi, dan di atasnya berdiri bangunan baru milik Jayanata.
Perubahan itu memunculkan kegelisahan di tengah sebagian warga yang merasa ada yang hilang lebih dari sekadar tembok dan atap.
Ketua Paguyuban Arek Suroboyo Ngobrol & Olah Pikir (PAS Ngopi), Warsito atau Cak War menilai, hilangnya rumah radio tersebut adalah alarm bagi kesadaran sejarah kota.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan pada 26 Februari 2026 di Taman Bungkul, ia menegaskan bahwa Surabaya tidak boleh kehilangan jejak-jejak penting pembentuk identitasnya.
“Rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Di sana, rakyat kecil merasa punya republik. Di sana, semangat perlawanan dirawat lewat suara,” ujar Cak War.
Dia menegaskan bahwa pihaknya tidak anti pembangunan maupun investasi. Namun, menurutnya, pembangunan semestinya berjalan beriringan dengan pelestarian memori sejarah. Tanpa itu, kemajuan hanya akan menghasilkan kota yang tinggi secara fisik, tetapi dangkal secara batin.
Bagi PAS Ngopi, hilangnya situs tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi kebijakan perlindungan bangunan bersejarah.
Mereka mendorong audit sejarah dan tata ruang atas kasus ini, serta mengusulkan agar Jalan Mawar No. 10 ditetapkan sebagai titik cagar memori perjuangan, meskipun bangunan aslinya telah hilang.
Selain itu, mereka mengajukan gagasan pembangunan penanda sejarah yang informatif, bahkan replikasi rumah radio sebagai sarana edukasi kebangsaan.
Usulan lain adalah menghadirkan patung Bung Tomo di sekitar kawasan itu sebagai pengingat visual bahwa di tanah tersebut pernah berdiri keberanian.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang menyebut sejarah sebagai cermin bangsa. Tanpa cermin, bangsa bisa kehilangan wajahnya sendiri. Senada dengan itu.
Buya Hamka menulis bahwa sejarah adalah guru kehidupan—penuntun agar generasi berikutnya tidak kehilangan arah moral.
Surabaya selama ini dikenal sebagai Kota Pahlawan. Setiap 10 November, heroisme dikenang dengan upacara dan tabur bunga. Namun bagi Cak War, mengenang tak cukup hanya seremoni.
Jejak konkret harus tetap hadir agar generasi muda dapat belajar langsung dari ruang-ruang sejarahnya.
“Kalau tempatnya hilang tanpa penanda, lambat laun orang akan lupa. Dan ketika lupa, identitas pun terkikis,” katanya.
Di tengah gemuruh pembangunan dan arus modernitas, suara warga yang menyerukan pelestarian sejarah menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati bukan hanya tentang gedung megah dan investasi besar. Ia juga tentang kesetiaan merawat akar.
Rumah itu memang sudah tak berdiri. Namun pertanyaannya, apakah ingatan tentang sejarah akan ikut runtuh. Atau justru bangkit menjadi kesadaran baru untuk menjaga sejarah Surabaya tetap hidup?
Rokimdakas
Wartawan & Penulis
27 Februari 2026

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi