Minggu, 3 Mei 2026, pukul : 13:16 WIB
Surabaya
--°C

Jualan Sepi, Pura Pura Sibuk

KEMPALAN: Sebuah video lewat di beranda Tik Tok saya, dengan nama akun : ‘Sahabat Bilal’.

Judul VT (video Tik Tok) tersebut mengundang kasihan : Jualan di sampingnya rame banget, ibu ini pura pura sibuk, padahal jualannya sepi.

Membaca judulnya saja saya sudah jatuh iba, apalagi mengikuti narasi VT ini dalam running tex-nya : trenyuh.

Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan ibu penjual ini, di deretan pedagang kuliner UMKM di situ, rata-rata ramai. Apalagi yang di sebelah kirinya persis : sangat ramai.

Tampaknya lokasi kuliner ini masih baru, ditandai dengan sejumlah gerobak dan tulisan di banner yang umumnya terlihat kinclong.

Video ‘Sahabat Bilal’ ini disuka 11, 2 ribu, dikomentari 3.300, dan dibagikan oleh 257 netizen.

Terlihat ibu berhijab berusia 40-an yang menjual bakso goreng dengan tuna asli ini dan yang berada di sebuah kios rapi, (pura-pura) sibuk pencat-pencet kalkulator. Sesekali tampak mengaduk sesuatu di sebuah wadah kecil. Bangku-bangku plastik di depan lapaknya, tak satu pun diduduki pembeli.

Menjadi menarik jika membaca komentar, ada nuansa polemik di situ.

Akun ‘@momyarkha’ berkomentar begini :

“Aku sekarang mengalami ini, kiri kanan rameh tiap hari. Jualan aku satu pun gak ada yang beli. Setiap udah tutup warung, di jalan aku selalu nangis sambil gendong salah satu anakku yang masih umur 1 tahun.

Sementara anakku yang sulung selalu bertanya, ‘kok gak ada yang beli’. Aku senyum aja. Selalu aku ngomong, ‘mungkin blom rezeki
kita, nak’. Ya Allah…, harus benar-benar sabar…”

Akun ‘@Abdulrozak’ menulis begini : “Kalau aku keluar jajan sama istri, di sebelah ada yang sepi, pasti aku sama istri beli supaya sama-sama dapat rezeki😇🤲.

Mereka jualan bukan supaya kaya, tapi supaya bisa makan 🥹🤲.”

Masih banyak komentar-komentar unik. Salah satunya seperti di bawah ini.

“Deket rumahku juga ada yang jualan sate, sepi pembeli. Dia pura-pura sibuk. Padahal gak ada yang beli. Sekarang udah tutup,” tulis akun ‘@Desi’.

Akun ‘Pantat Kuda Nil’ nyahut : “Tutup karena sudah habis jualannya?”

Dijawab oleh ‘@Desi’ : “Udah gak jualan lagi, kakak…”

Pada nuansa berbeda akun ‘@Cut Lira’ bertanya : “Pake kata-kata ‘pura-pura sibuk’, maksud dari video ini supaya apa ya ??? Serius nanya.”

Masih se-nuansa, ‘@bundaqila’ bertanya : “Maaf ya sebelumnya 🙏, kalau up load video seperti ini, apakah kita harus dapat izin dulu dari orang yang divideoin. Soalnya menurutku ya, gak semua orang kayaknya suka tiba-tiba rame di media…🙏”.

Senada, akun ‘@Ro Haini’ berkomentar : ” Daripada lu videoin, mendingan lu beli jualannya.”


VT macam ‘Sahabat Bilal’ yang diunggah di Tik Tok ternyata sangatlah banyak yang membahas tingkah laku penjual saat sepi pembeli. Hanya sifatnya lebih umum.

Misal yang diunggah akun ‘@Romli Saputra’, dimana VT-nya diberi judul : Pura-pura cuci piring biar keliatan ada yang beli.

Lantas diberi sub-judul :
Padahal dari ba’da subuh 04.30 belum ada penglaris. Ya Rabb …, begini amat”.

Sementara itu akun ‘Bahadur Idham’ yang berjualan cimol dengan gerobak lumayan besar, menampakkan narasi teks begini : Jualan sepi? Tenang, ada jurus supaya kelihatan laku.

VT ini memperlihatkan seorang laki-laki 35-an tahun pedagang cimol itu, tampak sedang memutar-mutar tombol kompor gasnya.

Lantas dilanjut dengan running tex :

  • Angkat telepon. Selanjutnya pura-pura bicara serius, seolah-olah sedang dapat pesanan banyak.
  • Lap-lap gerobak dengan semangat, padahal tidak ada debu.
  • Membolak-balik barang di gerobak, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang penting.
  • Pandanglah ke arah jalan, seakan menunggu pesanan yang mau diambil.

Akun lain yang menamakan ‘Triss Cilor’, menulis narasi begini di layar atas videonya : Pura-pura sibuk layani pembeli. Padahal sudah 3 jam belum laku satu pun. Sesulit inikah UMKM sekarang?

Lantas dikomentari akun ‘@mama zahra’ : “Semangat, Mas. Aku juga ngerasain kayak gini, kalau dagang gak laku rasanya cemas dan malu. Jaga semangat ya, Mas.”

Dijawab oleh pemilik akun ini, ‘Triss Cilor’ : “Iyah, rasanya malu banget 😭”.

Barangkali komentar pada VT akun ‘manggogeh’ yang di-like 20,5 ribu, dengannya komentar 1.518 ribu, dan di-share oleh 605 warganet ini menarik untuk disimak.

VT ini memperlihatkan seorang lelaki penjual kuliner di sebuah depot lumayan besar di kawasan Lampung, sedang dirundung susah.

Posisi kepala diletakkan di salah satu permukaan meja yang diganjal lengan kanan. Sesekali kepalanya diangkat, lantas menoleh ke arah belakang ke jalan raya. Mungkin maksudnya, siapa tahu ada yang datang, mau beli. Ruangan depot itu tak satu pun diduduki pembeli. Sepi mamring.

Di bagian atas layar video tersebut ditulisi begini :

  • Nangis karena rame pengunjung. ❌
  • Pusing, capek, gak kuat, pengen nyerah karena dagangan sepi banget. ✅

Akun ‘@Boboy’ memberi saran : “Coba evaluasi dulu, Bang.
Dari segi rasa, harga,
pelayanan.
Lantas yang beli suruh jujur kasih pendapatnya.
Kalo ada yang kurang segera perbaiki.
Semoga bermanfaat.”


Menjadi pedagang kuliner yang setiap hari ramai dengan pembeli dibutuhkan proses sangat panjang. Mungkin kisah adik kandung di bawah saya persis ini –maaf– bisa menjadi inspirasi.

Sekitar 30 tahun yang lalu adik saya tersebut adalah karyawan bagian iklan salah satu surat kabar harian di Surabaya.

Karena kondisi ekonomi yang sulit dengan 3 orang anak masih kecil-kecil, rumah cicilan di kawasan Kutisari Indah Barat, Surabaya, di-take over-kan. Hasilnya dibelikan rumah lebih kecil di kawasan kampung Brongkalan Sawah, Surabaya. Beban ekonomi mulai berkurang, karena sudah tidak ngangsur rumah.

Namun, mulai terasa lagi, saat anak-anak mengawali sekolah. Bagaimana jalan keluarnya?

Istrinya buka usaha jualan nasi bungkus, dititipkan di warung- warung seputar rumah.

Lantas berkembang menerima pesanan salah satu bagian kantor Pemkot Surabaya maupun karyawan manajemen Surabaya Plaza yang bayarnya sebulan sekali. Untuk itu sertifikat rumah digadaikan.

Di sela-sela itu menerima pesanan nasi tumpeng, yang lantas meningkat menerima pesanan hajat khitanan, dan meningkat lagi menerima order pesta pernikahan.

Tentu saja, tidak sesederhana itu. Ada proses ditipu, tidak dibayar, dibayar separuh karena pengiriman pesanan datang terlambat, dan lain-lain kejadian yang lantas menjadikan proses menuju lebih matang.

Pernah saat awal-awal menerima order pesta pernikahan, dalam tempo berdekatan pada Sabtu dan Minggu, menerima 5 order. Dari 5 order pesta pernikahan itu, 4 order tidak dibayar. Salah satu yang tidak bayar itu seorang jaksa. Alasan orang-orang yang tidak bayar, makanan yang disajikan bau.

Saya dapat informasi dari adik saya yang perempuan yang ikut bantu-bantu usaha kuliner istri adik saya ini.

Lantas saya konfirmasi ke adik kandung persis di bawah saya itu tentang kebenarannya.

“Benar, Pakdhe. Yang empat pesanan gak dibayar. Kayaknya dunia kuliner sarat persaingan. Gak fair. Ada yang menggunakan ilmu hitam,” jelas adik saya yang masih tetap jadi karyawan bagian iklan koran harian tersebut sampai dia pensiun.

Tapi istrinya saat saya tanya, bilang begini: “Gak ada itu Pakdhe yang main dukun-dukunan. Ada karyawan baru yang menutupi hidangan yang baru dimasak, maksudnya supaya tidak kena debu dan dikerubungi lalat,” yang lantas disambung, “Ya akibatnya, bau lah karena kelamaan ditutup. Mestinya selesai masak, wadah dibuka supaya uap panas masakan keluar. Saya yang kurang kontrol… “

Sekian tahun setelah sering menerima pesanan pernikahan, terasa ada problem. Mengingat tidak setiap minggu sekali ada order pesta pernikahan. Bagaimana nasib karyawan inti, jika tidak ada pesanan pesta mantenan?

Tebersit untuk bikin depot. Demi memperdayakan para karyawan, agar pemasukan usaha dan gaji karyawan lebih baik.

Lantas menyewa tempat di jalan kecil, Bronggalan Gang II. Ukuran sekira 3 x 6 meter. Lumayan laris depot prasmanan ini. Hanya parkir yang sulit.

Setelah 2 tahun, pindah ngontrak di jalan raya. Ukuran tempat 4 x 8 meter, cukup untuk enam meja. Sampai saat ini sudah berjalan 8 tahun, dari mula-mula harga kontrak Rp 25 juta hingga saat ini Rp 75 juta setahunnya.

Di depot ini punya karyawan 8 orang : 2 tukang masak, 5 pramusaji, dan 1 orang driver. Omsetnya rata- rata 7 juta rupiah sehari, sebagaimana diinformasikan anak sulung yang bertindak semacam manajer sejak ibunya meninggal 4 tahun lalu (Al Fatihah).

Ya, karyawan tetap ada 8 orang, sedangkan yang tidak tetap 10 orang yang diperlukan saat ada pesanan pesta pernikahan saja. Mereka umumnya murid SMK jurusan Tata Boga dan mahasiswa perhotelan.

Tempat usaha keluarga adik saya ini terletak di kawasan Pacar Keling, Surabaya, berupa depot prasmanan. Selain depot, difungsikan semacam “show room” dan marketing pesanan pesta pernikahan dan lain-lain, termasuk selamatan pembukaan kantor baru. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.