Transformasi IAIN-UIN

Presiden Tetapkan Enam IAIN Berubah Jadi UIN, Bagaimana Penjelasannya?

  • Whatsapp
Prof. Dr. Suyitno, M.Ag, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam

JAKARTA-KEMPALAN: Pendidikan dapat dimaknai secara harfiah sebuah wadah transmisi ilmu yang memberikan peningkatan kualitas di sektor sumber daya manusianya. Pendidikan merupakan pondasi dari sebuah bangsa. Oleh karenanya, sekolah yang berkualitas adalah sebuah misi yang harus dicapai bagi para bangsa ini.

Perguruan tinggi memiliki berbagai variasi klasifikasi sesuai dengan tingkatannya. Mulai dari sekolah tinggi, institut yang fokus pada sektor yang sempit saja, hingga universitas yang mencakup berbagai studi ilmu.

Ketika jumlah perguruan tinggi di sebuah negara mengalami penambahan volume, maka hal ini menjadi indikator negara tersebut memiliki upaya dalam melakukan eskalasi di sektor edukasi. Hal ini selaras dengan apa yang dimaktubkan dalam peraturan presiden baru-baru ini.

Peraturan presiden tersebut berisi adanya transformasi atau perubahan bentuk dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Dalam keterangannya, akan ada enam institut yang akan menjadi Universitas.

Enam peraturan presiden ini secara resmi ditandatangani oleh Joko Widodo sebagai Presiden RI pada Selasa (11/5). Dari pengesahan ini, total kurang lebih ada Universitas Islam Negeri di seantero negeri ini.

Menyikapi pengejawantahan peraturan presiden mengenai hal ini, Suyito selaku Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIktis) mengucapkan selamat dan rasa syukur atas munculnya peraturan presiden mengenai trasformasi dari IAIN menjadi UIN ini.

Ia juga mengungkapkan bahwa proses perubahan bentuk ini banyak dipengaruhi oleh peraturan Menteri Agama Nomor 20 tahun 2020. Yang mana hal ini sebagai pengganti dari peraturan Menteri Agama Nomor 15 tahun 2014.

“PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) yang telah berubah bentuk menjadi UIN harus mampu menyelenggarakan integrasi keilmuan Islam dan Sains serta memiliki distingsi terhadap program studi yang ada dengan kampus lain,” ujar Suyitno dalam keterangan resminya.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) harus menjadi poros edukasi yang tetap menginternaslisasikan pola pikir dan strategi pengelolaan yang relevan dengan zaman. PTKI harus menjadi lembaga yang adaptif dengan perubahan zaman yang serba cepat dan dimanis.

“Ketidakmampuan lembaga untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, akan menjadikan lembaga tidak responsif serta lambat,” tuturnya.

Adapun keenam Institut Agama Islam Negeri yang berubah bentuk menjadi Universitas Islam Negeri. Yaitu, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (Perpres No 40 tahun 2021), UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto (Perpres No 41 tahun 2021), UIN Raden Mas Said Surakarta (Perpres No 42 tahun 2021), UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (Perpres No 43 tahun 2021), UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (Perpres No 44 tahun 2021), dan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu (Perpres No 45 tahun 2021). (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait