Selasa, 14 April 2026, pukul : 06:59 WIB
Surabaya
--°C

Ganjar lawan Pacul

KEMPALAN: Lamun sira sekti aja mateni, lamun sira banter aja ndisiki, lamun sira pinter aja minteri (Jika kamu sakti jangan membunuh, jika kamu cepat jangan mendahului, jika kamu pandai jangan sok pintar).

Kalimat itu adalah deretan tiga filosofi Jawa yang diucapkan oleh Jokowi beberapa saat setelah menang dalam pilpres 2019. Setelah memenangkan pertarungan yang dahsyat melawan Prabowo, Jokowi ternyata kemudian merangkul Prabowo dan membawanya masuk ke kabinet menjadi menteri pertahanan.

Ketika menjelaskan alasan politik atas langkahnya itu Jokowi mengutip tiga filosofi Jawa itu. Secara tidak langsung Jokowi mengatakan bahwa dengan memenangkan pilpres dia mendapatkan kesaktian sebagai seorang presiden. Dengan kesaktian itu dia bisa membunuh siapa saja lawan-lawan politiknya. Tapi, Jokowi memilih tidak membunuh lawan politiknya. Ia malah merangkulnya.

Jika kamu cepat jangan mendahului. Jokowi ingin mengatakan bahwa harmoni dan keserasian adalah nilai luhur dalam budaya Jawa. Meskipun kamu punya kecepatan, tapi kalau kamu lari sendirian di depan maka barisan akan kacau dan tidak tercapai harmoni. Bagi orang Jawa harmoni, keselarasan, sangatlah penting untuk menciptakan ketenteraman hidup. Jokowi ingin menyampaikan message kepada semua orang agar menjaga harmoni dan keselarasan, dengan tetap menjaga barisan dan tidak saling mendahului.

Jika kamu pandai jangan memintari yang lain. Jokowi mengingatkan bahwa kepandaian tidak ada artinya kalau menjadikan seseorang arogan dan merasa paling pintar. Apalagi, kalau kepandaian itu dipakai untuk mengakali seseorang. Jokowi menyindir lawan-lawan politiknya yang selama ini menyepelekannya dengan mempertanyakan intelektualitasnya. Malah ada politisi yang menyebut Jokowi plonga-plongo. Jokowi membalasnya dengan mengutip filosofi Jawa itu.

Filosofi Jokowi itu kemarin (23/5) sebagian dikutip lagi oleh Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, Ketua Bidang Pemenangan pemilu DPP PDIP, ketika menjelaskan  mengapa Ganjar Pranowo, gubernur Jawa Tengah, tidak diundang dalam acara konsolidasi pemenangan pemilihan umum 2024 di Semarang, Sabtu (22/5). Acara itu dihadiri oleh Puan Maharani dan mengundang seluruh anggota dewan dan kepala daerah PDIP Jawa Tengah.  Ganjar sebagai tuan rumah malah tidak diundang dalam perhelatan itu.

Ditanya alasan mengapa tidak mengundang Ganjar, Bambang Pacul dengan blaka suta tanpa tedeng aling-aling menjawab bahwa Ganjar wis kemajon, sudah terlalu maju. Maksudnya, kelewatan, karena tidak bisa menyembunyikan ambisinya untuk nyapres pada pilpres 2024. Dengan kemajon berarti Ganjar dianggap banter (cepat) tapi mendahului barisan, alias ndisiki.

Dengan begitu, Ganjar dianggap melanggar filosofi ‘’lamun siran banter aja ndisiki’’, kalau kamu cepat jangan mendahului. Karena, menurut Bambang Pacul, Ganjar mendahului perintah partai yang sampai sekarang belum memberi instruksi kepada kader untuk mempersiapkan diri maju sebagai capres pada pilpres 2024.

Bambang Wuryanto Pacul Menyemprit Ganjar

Selain kemajon, Pacul juga menganggap Ganjar keminter alias sok pintar, dan melanggar filosofi ‘’lamun sira pinter aja minteri’’. Meskipun kamu pandai jangan memintari atau sok pintar. Tentu saja ini serangan yang langsung menampol muka Ganjar Pranowo sebagai gubernur. Apalagi Bambang Pacul juga menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Jawa Tengah yang seharusnya menjadi mitra politik Ganjar yang juga sama-sama kader PDIP.

Perang dingin antara Pacul vs Ganjar akhirnya menjadi perang terbuka. Ganjar yang selama ini banyak melakukan manuver politik, dengan aktivitasnya yang tinggi di media sosial, dianggap sudah kebablasan. Ganjar kelihatannnya juga tidak mengindahkan peringatan Pacul agar mengerem aktivitasnya di medsos.

Kata Pacul, popularitas di lembaga survei tidak menjadi faktor untuk menentukan calon presiden PDIP. Seorang pemimpin yang ideal adalah memimpin langsung di lapangan terjun bersama rakyat, bukan sekadar popular di medsos dan di lembaga survei.

Puan Maharani juga menohok Ganjar dengan mengatakan bahwa pimpinan harus terjun langsung mengurusi rakyat, bukan sekadar sibuk di media sosial.

PDIP rupanya belajar betul  dari kasus Jokowi yang pernah melakukan manuver seperti yang ditiru Ganjar sekarang ini. Sejak menjadi walikota Solo, lalu menjadi gubernur DKI, Jokowi sangat intens memainkan politik pencitraan melalui media sosial.
Karena manuver yang terorkestrasi secara rapi itu Megawati menghadapi fait accompli yang dilematis dan tidak punya pilihan. Mega pun harus merelakan rekom pilpres 2014 untuk Jokowi.

Mega tidak berkutik ketika melihat kenyataan bahwa popularitas Jokowi sudah teramat jauh melewati populairitas Mega sendiri. Ketika itu sebenarnya Mega masih menyimpan keinginan untuk maju lagi sebagai capres. Tapi ia hanya bisa melongo karena kecolongan oleh manuver Jokowi.

Megawati dan elite politik PDIP sudah terlalu terlambat untuk mengendus manuver Jokowi, dan sudah kemajon terlalu jauh ketika menyadari bahwa langkah Jokowi sudah tidak mungkin lagi dihentikan. Mega dihadapkan pada fait accompli yang tidak bisa lagi terpaksa menyerahkan rekom kepada Jokowi. Mega berusaha mendegradasikan Jokowi dengan menyebutnya ‘’si kurus yang menjadi petugas partai’’.

Jokowi sukses menundukkan Mega dengan tiga filosofi Jawa yang ampuh itu. Jokowi sakti ketika itu karena sudah punya senjata sakti hasil survei yang tinggi. Tapi dia tetap bergaya lemah dan tidak mateni.

Jokowi sudah bergerak cepat mendahului orang-orang lain dengan pencitraan yang ditata rapi sejak dari Solo sampai ketika menjadi gubernur DKI. Tapi dia tetap bergaya selow, tidak ndisiki. Karena itu tidak ada yang menyadari tetiba Jokowi sudah ada di pole position paling depan dan tidak mungkin lagi disalip.

Jokowi juga sangat pintar dengan segala manuvernya itu. Dia outsmart lebih cerdik dari lain-lainnya, tapi dia tetap bergaya plonga-plongo dan tidak minteri. Menghadapi fait accompli beruntun ini Mega tidak punya pilihan lain kecuali mengikhlaskan rekom PDIP untuk Jokowi, karena Jokowi benar-benar sekti, banter, dan pinter.

Megawati menyerahkan rekom pilpres 2014 kepada Jokowi

Kali ini Mega tentu tidak mau kecolongan dua kali. Apalagi manuver Ganjar sudah terlihat terang-terangan. Tapi, untuk menghentikan Ganjar secara terbuka tentu Mega harus punya orang. Dan tidak ada orang lain yang paling cocok melakukan eksekusi itu kecuali Bambang Pacul. Maka Bambang Pacul muncul sebagai jago pukul mewakili Mega dan Puan.

Mega, tentu, tidak mau kecolongan dua kali. Dia tidak ingin skenario memajukan Puan Maharani sebagai capres atau cawapres 2024 berantakan karena manuver Ganjar.

Ibarat balapan mobil, Ganjar yang sudah ada di pole position sudah langsung kena diskualifikasi. Ia tidak boleh lagi ikut balapan. Atau kalau mau ikut balapan harus start di belakang atau ikut grup lain.
Ganjar yang hobi gowes roadrace pasti paham pentingnya pole position.

Ibarat main sepakbola Ganjar sudah kena kartu kuning. Ia dianggap terlalu banyak membuat pelanggaran dan karena itu harus kena semprit dan langsung diganjar kartu kuning. Sekali lagi bikin pelanggaran Ganjar akan diganjar kartu kuning kedua dan diusir dari lapangan.

Game over? Belum tentu. Politik adalah the art of possibilities, seni dari segala sesuatu yang mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Tidak mustahil fenomena Jokowi 2014 terulang lagi sepuluh tahun kemudian.

Mungkin ada siklus sepuluh tahunan dalam politik di Indonesia. SBY menjadi ikon politik baru pada 2004 ketika tampil sebagai ksatria, gagah tampan, tinggi, besar berwibawa, dan intelek. Rakyat terpesona oleh sihir SBY selama 10 tahun.

Lalu muncul Jokowi yang mendekonstruksi citra priyayi-ksatria SBY dengan menampilkan diri sebagai wong cilik, bagian dari rakyat, bukan elite dan bukan bagian dari masa lalu. Jokowi tampil tepat waktu ketika orang mulai mencari alternatif dari SBY yang flat dan membosankan. Jokowi muncul sebagai antitesa SBY pada saat yang tepat.

Citra Jokowi yang merakyat banyak dikagumi. Tapi banyak juga yang membenci karena melihat intelektualitas Jokowi yang, dalam banyak kasus, terbukti tidak cukup mumpuni. Penampilan fisik Jokowi yang tidak terlalu elegan juga menjadi nilai minus tersendiri bagi para haters.

Ganjar bisa menjadi antitesis baru bagi Jokowi. Ia bisa meneruskan citra Jokowi yang easy going gampang dekat dengan rakyat. Tapi, Ganjar bisa mengungguli penampilan fisik Jokowi karena Ganjar lebih charming.

Dalam hal olah intelektualitas Ganjar juga lebih baik dari Jokowi. Begitu pula dalam komunikasi politik, Ganjar jalu lebih lancar dari Jokowi yang sering kepeleset.

Ganjar, mungkin, bisa menjadi paduan antara citra SBY yang charming dan intelek, plus citra Jokowi yang dekat dengan rakyat.

Pertandingan masih panjang. Tarung terbuka Ganjar vs Puan ini baru menit awal babak pertama. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.