Kamis, 30 April 2026, pukul : 08:25 WIB
Surabaya
--°C

Fadil Jaidi-Ulil Abshar Empati pada Palestina, dan Dunia Sempit Hendropriyono

KEMPALAN: Siapa yang tidak bangga dengan anak muda, Fadil Jaidi, selebgram yang cukup dikenal. Tentu bukan bangga pada penghasilan atau pendapatan sebulan yang didapatnya, tapi bangga pada kepribadian yang dipunya. Punya empati tinggi dalam membantu sesama, dan itu pada tragedi kemanusiaan di Palestina.

Gaza di Palestina yang dibombardir tentara zionis Israel, meluluhlantakkan tempat tinggal warga sipil, sekolahan dan bangunan lainnya. Lebih memprihatinkan anak-anak dan warga perempuan yang tidak berdosa harus meregang nyawa. Begitu pula laki-laki warga sipil.

Melihat itu Fadil dan anak muda lainnya, Taqy Malik, prihatin, terenyuh dan merasakan kepedihan yang sangat. Katanya, ini bukan konflik agama semata, tapi masalah kemanusiaan. Mestinya semua pihak yang punya nurani melihat konflik Israel-Palestina, itu seperti dua anak muda ini, yang bergerak dengan inisiatifnya.

Fadil Jaidi dan Taqy Malik: empati Palestina.

Mereka berdua melakukan langkah mulia sebagaimana keahliannya. Maka keduanya masing-masing mencoba mengumpulkan dana lewat jejaringnya masing-masing.

Fadil menargetkan Rp 2 miliar bisa ia dapatkan, sedang Taqy menarget Rp 1 miliar, yang bisa didapatnya. Dalam sepekan Fadil bisa mengumpulkan Rp 6 miliar, lalu hari berikutnya tembus Rp 7 miliar. Sedang Taqi mendapatkan hampir Rp 6 miliar. Angka fantastis. Jauh melebihi target. Subhanallah.

Siang kemarin, Rabu (19 Mei), Fadil melangkah menyerahkan Rp 3 miliar ke MUI untuk diteruskan pada lembaga-lembaga di Gaza. Lalu Rp 1 miliar pada PMI, yang diterima langsung oleh Pak Jusuf Kalla. Sisanya disalurkan ke lembaga lainnya.

Tentu dua anak muda itu memahami, bahwa peristiwa kemanusiaan itu bukan semata persoalan Israel dan Arab. Untuk memahami persoalan kemanusiaan ini tidak perlu harus menunggu tua dulu baru tersadar. Bahkan banyak yang berumur lanjut, tapi hati makin tersumpal.

Gelar Kadrun Buat Ulil

Ulil Abshar Abdalla namanya. Tentu tidak asing lagi nama ini, semua mengenalnya dengan baik. Tapi pekan-pekan ini ia dapat gelar “kadrun” dari sekelompok manusia yang tidak jelas bentuk konkritnya. Manusia yang muncul di medsos dengan nama anonim. Dan itu karena sikap Ulil yang tegas membela Palestina yang terzalimi.

Dalam konteks ini, namanya lalu bisa disebut dengan Ulil Al-Kadrun, meski ia tidak pernah berada dalam kelompok yang disebut cebong maupun kadrun. Terpanggil pada nilai kemanusiaan, menyebabkan sikapnya jelas berpihak pada Palestina. Ulil membenci zionis Israel, tapi tidak pada agama Yahudi. Setidaknya itu yang dinyatakan.

Lalu jadi menggelikan, jika seseorang yang bersikap mencari dan menemukan nilai kebenaran, semacam Ulil, yang karena berbeda dengan yang diinginkan kelompok tertentu, lalu gelaran itu mesti disematkan. Ulil karena sikapnya itu harus dikadrun-kadrunkan. Intelektualitas seorang Ulil ingin ditundukkan oleh kemauan tidak jelas, dari kelompok yang menganggap penjajah (Israel) itu mulia.

Tentu Ulil punya alasan yang kokoh, kenapa ia lalu harus bersikap membela Palestina. Itu karena propaganda Israel yang ingin membenarkan kejahatannya terhadap warga Palestina, itu mulai “ditelan” oleh kalangan di negeri ini.

Tidak itu saja, sebagian bahkan menyalahkan warga Palestina, karena dianggap memprovokasi Israel sehingga melakukan tindakan balasan secara militer.

Ulil Abshar Abdalla, intelektual muslim Indonesia.

Bagi Ulil masalah Palestina ini bukan masalah kompleks, pelik. Tapi masalah sederhana, dan itu menyangkut keadilan dan penjajahan. Ia berandai melihat itu, dengan sesederhana sebagaimana masalah Belanda menjajah Indonesia.

Memang baru periode belakangan ini muncul kelompok, tidak banyak sih, yang beropini bahwa kesalahan ada pada Palestina, atau setidaknya tidak perlulah membantu yang nun jauh di sana. Di negeri sendiri ini masih banyak yang hidup sulit dan perlu bantuan.

Ulil seperti juga Fadil dan Taqy, dengan caranya sendiri membantu kesulitan yang dihadapi warga Palestina. Dan tentu banyak lagi yang bergerak membantu penderitaan Palestina dengan caranya sendiri. Dan seringan-ringan membantu Palestina, ujar khatib Jum’at siang ini, adalah dengan doa. Itulah bentuk empati kemanusiaan.

Hendropriyono dalam Dunia yang Sempit

Usianya sudah tidak muda lagi, mantan Kepala BIN, Jenderal (Purn) AM Hendropriyono. Meski sudah masuk kategori tua, ia masih kerap bicara memberi pandangannya tentang negeri ini. Dibanding kawan-kawan seangkatannya, Akmil 1967, atau bahkan dengan jenderal yunior angkatan di bawahnya, ia terbilang memang paling banyak omong dan tetap eksis sebagai manusia politik.

Meski terkadang pandangannya tidak pas betul, bahkan pandangan terakhir yang ia sampaikan amat tidak Pancasilais, bahkan tidak patut omongan itu bisa keluar dari mulut seorang dengan pangkat jenderal.

“Palestina dan Israel bukan urusan kita, melainkan urusan mereka, bangsa Arab dan Yahudi,” kata Pak Hendro.

Lalu dia tambahkan, “Apakah pengkritiknya tahu siapa Palestina dan Israel itu? Apakah pengkritik itu kenal dengan Mahmoud Abbas, atau kenal dengan Ismail Haniyah, atau kenal dengan Reuven Rivin, atau Benjamin Netanyahu? Saya yakin tidak kenal. Yang dia kenal adalah anak, istri, mantu dan cucu sendiri.”

Sungguh dunia sempit pandangan Jenderal Tua satu ini. Memangnya negeri ini hidup dalam masyarakat dunia yang sempit, egoistik, dan tidak saling bantu-membantu. Membantu itu tentu tidak menunggu suatu negara makmur baru membantu.

Di depan sohib-sohibnya yang sudah pada sepuh-sepuh, yang tampak muda memang Pak Hendropriyono dengan rambutnya yang hitam kelimis, kumisnya pun tertata rapi, dan wajahnya masih tampak segar. Bisa jadi itu berkat perawatan rutin dan bermacam vitamin yang dikonsumsinya.

“Kalau ada yang melecehkan saya karena membela falsafah dasar bangsa kita, Pancasila, tolong merapatkan barisan dengan saya untuk membela diri, bangsa kita sendiri. Ironis sekali orang yang mengeritik saya membela Pancasila, dari membela diri sendiri, tapi dia menggebu-gebu membela Palestina.”

AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN.

Memang sulit dipahami omongannya itu, apa ada yang bisa memahami apa yang disampaikannya. Pastilah sulit dipahami, bagaimana mungkin Pancasila diversikan sesuai seleranya. Bukankah Pancasila mengajarkan hal-hal kebaikan, keadilan dan sarat akan nilai kemanusiaan.

Ucapannya itu seperti orang yang tidak tahu sejarah. Setidaknya pantas dikatakan bahwa Pak Hendro ini memang tidak membaca sejarah dengan baik, bahkan mungkin tidak pernah dengar, bahwa Palestina yang saat itu sebagai negara merdeka, yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. Bahkan sejarah juga mencatat, ada seorang pengusaha Palestina mendengar kemerdekaan Indonesia, lalu orang itu memberikan semua hartanya untuk Indonesia.

Pada saat itu Indonesia adalah negara miskin, maka bantuannya itu amat bermanfaat. Soal-soal begini kalau orang memahami sejarah, atau pernah mendengar soal itu pastilah tidak akan bicara seperti Pak Hendro ini. Memang tidak persis tahu apa maksud dari yang diucapkannya itu, kecuali setidaknya ketidaksukaan pada orang yang berempati pada Palestina.

Hal yang pasti, bahwa empati itu memang dimiliki manusia yang bersih hati, sehingga perasaan ikut merasakan kesulitan pihak lain, dan lalu terpanggil ikut membantu. Tidak masalah jika ada pihak yang tidak punya empati, seperti Pak Hendro itu. Menjadi bermasalah, saat ia mengajak orang lain untuk ikuti apa yang dimauinya.

Lalu siapa yang dimaksudnya mengkritiknya itu. Kritik itu muncul saat dirinya ngajak-ngajak orang lain untuk tidak berempati, bahkan terkesan tidak suka jika ada yang berempati pada Palestina. Memang ada yang mengkritik pada mereka yang membela penjajah Israel, yang biasa disebut dengan “yahudi pesek”.

Pak Hendro ini mungkin sudah lama tidak membuka Pembukaan UUD 45, padahal di situ dijelaskan gamblang, bahwa Indonesia selalu berdiri membela kemerdekaan suatu negara dari cengkeraman penjajahan. Maka hukum membela Palestina itu wajib. Kok malah dikatakan, “Palestina bukan urusan kita.”

Melihat sikapnya itu, bolehlah kita mengatakan, bahwa Pak Hendro itu bicara asal bicara. Atau boleh juga mengatakan, tampaknya ia tidak mengenal dengan baik sejarah akan hubungan Indonesia-Palestina. Jika sedikit paham akan sejarah itu, maka mustahil keluar kalimat tidak selayaknya darinya.

Meski sekalipun tidak ada hubungan sejarah yang baik dengan suatu negara yang dijajah, maka Indonesia akan selalu berdiri membela kemerdekaan suatu negara dari penjajahan. Itu amanat konstitusi. Apalagi pada Palestina, sebuah negara yang memiliki ikatan historis luar biasa.

Sosiolog UI, Tamrin Amal Tomagola, menanggapi Jenderal Tua ini dengan telak. Begini katanya, bahwa pernyataan Hendropriyono itu tak mewakili semua masyarakat. Dirinya dan banyak lagi warga Indonesia masih merupakan manusia yang punya rasa kemanusiaan. Maka kami ikut merasakan betapa kejamnya rakyat Palestina diperlakukan.

“Urusan Palestina adalah urusan kami. Kami tidak memaksa yang bukan manusia lagi untuk menjadikan Palestina sebagai urusannya,” telak tampolan Pak Tamrin.

Apa yang dikatakan Pak Hendro soal Palestina, ada yang menilai itu tidak berdiri sendiri. Apa yang diucapkannya itu ada kaitan dengan pengalihan isu politik yang sedang marak. Dan karena kedekatan sang jenderal dengan Teuku Umar, maka apa yang disampaikan Novel Baswedan berkenaan dengan kemungkinan dana Bansos yang dikorupsi Rp 100 triliun, tentu itu menyambar PDIP. Karenanya, sang Jenderal Tua itu boleh jadi “pasang badan” agar isu korupsi Dana Bansos tidak dibicarakan. Bagian dari pengalihan isu? Wallahu a’lam. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.