TUCSON-KEMPALAN: Intelektual kaliber dunia berdarah Yahudi, Avram Noam Chomsky, kembali menuding AS berada di balik pembantaian warga Palestina. Tudingan ini keluar seiring kian gencarnya serangan balik Israel ke sejumlah pemukiman warga Palestina di Jalur Gaza.
Dalam wawancara dengan C.J. Polychroniou dari Truthout.org, Rabu (12/5), secara lugas Chomsky menyebut peran AS dalam pembantaian itu. Tujuannya, agar warga Palestina segera keluar dari Kota Suci Yerusalem. Ditegaskannya, kebijakan dasar pemerintah Israel yang didukung AS menggunakan strategi “teror dan pengusiran” guna memperluas wilayah pendudukan.
Chomsky yang kini mengajar di Universitas Arizona mengakui selalu ada liku-liku baru dalam tiap babak konflik Israel-Palestina. ”Namun, pada intinya itu cerita lama, menelusuri kembali seabad ke belakang, mengambil bentuk baru setelah penaklukan Israel tahun 1967 dan keputusan 50 tahun lalu, oleh kedua kelompok politik utama, untuk memilih ekspansi daripada keamanan dan penyelesaian diplomatik,” papar dia.
Dan AS, selalu memberi dukungan material dan diplomatik yang krusial kepada Israel. Chomsky juga menegaskan, tujuan zionisme adalah untuk menyingkirkan negara Palestina dan menggantikan mereka dengan pemukim Yahudi, yang ditampilkan sebagai “pemilik sah tanah” yang kembali ke kampung halamannya setelah ribuan tahun diasingkan.
Kebijakan Zionis, lanjut Chomsky, bersifat oportunistik. Jika memungkinkan, pemerintah Israel–dan memang seluruh gerakan Zionis–mengadopsi strategi teror dan pengusiran.
”Ketika keadaan tidak memungkinkan, mereka menggunakan cara yang lebih lembut. Seabad yang lalu, perangkat itu diam-diam dengan cara mendirikan menara pengawas dan pagar, dan sesegera itu pula akan berubah menjadi pemukiman (untuk Yahudi), itu fakta-fakta di lapangan,” urai pakar linguistik ini.
Penaklukan Israel tahun 1967 memungkinkan perluasan ke wilayah yang ditaklukkan. Walau hal ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, namun para pemimpin Israel tetap dilindungi otoritas hukum tertinggi mereka.
Yang lebih mencolok, ungkap Chomsky, proyek-proyek baru difasilitasi oleh perubahan radikal dalam hubungan AS-Israel. Hubungan pra-1967 umumnya hangat tetapi ambigu. Setelah perang 1967, mereka mencapai tingkat dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk negara penerima bantuan.
Lebih jauh, Chomsky menyebut, kemenangan Israel menjadi hadiah besar bagi pemerintah AS. Perang proxy telah berlangsung antara Islam radikal (yang berbasis di Arab Saudi) dan nasionalisme sekuler (Mesir di zaman Nasser).
Layaknya Inggris, AS cenderung lebih memilih Islam radikal, yang dianggapnya tidak terlalu mengancam dominasi kekaisaran AS. Israel menghancurkan nasionalisme sekuler Arab.
Pentagon terkesan kehebatan militer Israel pada 1948, dan kemenangan tahun 1967 kian memperjelas, bahwa Israel yang termiliterisasi dapat menjadi pangkalan yang kokoh bagi kekuatan AS di wilayah tersebut. Chomsky menegaskan, ada tujuan imperial AS yang meluas dalam dukungan terhadap Israel.
Dominasi regional AS bertumpu pada tiga pilar: Israel, Arab Saudi, Iran (saat itu di bawah Shah). Secara teknis, mereka semua berperang, tetapi dalam kenyataannya aliansi itu sangat dekat, terutama antara Israel dan tirani Iran yang mematikan.
Chomsky mengurai, dalam kerangka internasional tersebut, Israel bebas untuk menjalankan kebijakan yang bertahan saat ini, selalu dengan dukungan besar-besaran AS meskipun sesekali ada ketidakpuasan. Tujuan kebijakan langsung pemerintah Israel adalah untuk membangun “Israel Raya”, termasuk “Jerusalem” yang sangat diperluas yang mencakup desa-desa Arab sekitarnya.
Menurut Chomsky, Trump melampaui para pendahulunya dalam memberikan kebebasan Israel melakukan kejahatan. Salah satunya adalah kontribusi besar AS mengatur Kesepakatan Abraham (Abraham Accords). Isinya, perjanjian diam-diam antara Israel dan beberapa kediktatoran Arab.
Kesepakatan itu merupakan komponen kunci visi geostrategis Trump. ”Untuk membangun aliansi reaksioner negara-negara brutal dan represif, yang dijalankan dari Washington, termasuk Brasil Jair Bolsonaro, India Narendra Modi, Hongaria Viktor Orbán, dan akhirnya yang lain seperti mereka,” papar intelektual yang dicekal masuk Israel ini.
Sejauh ini, Biden mulai mengambil alih program-program tersebut. Dia telah membatalkan kebrutalan Trumpisme yang serampangan, seperti menarik garis kehidupan yang rapuh untuk Gaza. (truthout.org/reza maulana hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi