Kamis, 30 April 2026, pukul : 09:18 WIB
Surabaya
--°C

Akhir Ramadhan

Oleh: Ferry Is Mirza

KEMPALAN: Kurang dari 90 menit lagi kita mengenapi akhir puasa Ramadhan 30 hari. Dan besok kita merayakan Iedul Fitri 1 Syawal.

Dan Idul Fitri kali ini pasti bukan pertama untuk kita. Dari sejumlah tahun yang dilalui, sudah berulang kali permohonan ampunan kepada Sang Khalik dilantunkan pada saat Idul Fitri.

Tapi puasa dan doa yang dipanjatkan setiap tahun tidak mengubah apa-apa. Korupsi terus berjalan. Ketamakan semakin menjadi. Terorisme zionis Israel terhadap bangsa Palestine semakin mengganas. Perudungan (ujaran) kebencian terus berlanjut. Jumlah pemuja mimpi semakin tinggi.

Jika berpuasa di bulan Ramadhan hanya sebuah tradisi tahunan atau hanya pelengkap alias atribut penyerta maka hasilnya akan sama “kekosongan jiwa”. Tidak akan mengubah apapun juga. Lapar, dahaga dan doa mungkin tidak terdengar sampai ke langit.

Puasa di bulan Ramadhan dilakukan bukan semata-mata persoalan ketaatan dan kepatuhan umatnya. Tetapi, lebih merupakan bukti cinta kepada pemilik Bumi dan Langit serta berharap meraup kehormatan dari Sang Khalik.

Jika puasa dilakukan dengan keikhlasan dan penuh cinta maka puasa akan mampu membersihkan jiwa dari segala hawa nafsu yang kotor untuk menjadi jiwa yang  “premium” atau muttaqin.

Ramadhan membuat kita lebih mengkhawatirkan banyaknya ibadah yang kita lakukan. Bahkan mengurangi tidur. Tetapi sesungguhnya kita lebih patut khawatir berapa banyak dari ibadah kita itu yang diterima Allah.

Apakah kita masuk golongan insan yang bertakwa jika masih juga melakukan dosa besar ?
Padahal Allah jelas memperingatkan dalam ayat 27 surat al-Maidah : “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.”

Masih bersisa 90 menit menjelang 1 Syawal, mari sempatkan diri untuk menyantap hidangan ruhani agar puasa bisa merasuk ke dalam sukma dan hasil berpuasa mampu menyentuh wilayah rasa batin.

Tidak perlu risau dan mempertanyakan kembali manfaat puasa karena untuk mendapat jawabannya, manusia juga harus memiliki kematangan spiritual yang mumpuni.

Mungkin Sang khalik sedang memberi pelajaran bagi hambanya untuk lebih bertafakur dan bertadzakkur.

Semoga di waktu tersisa bulan suci Ramadhan ini Sang Khalik berkenan membukakan mata hati kita agar mampu melawan kemaslahatan dan ego duniawi.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan untuk memperbaiki semuanya. Menunggu dengan istighfar tak henti, berharap ridha Allah menerima ibadah kita.

Selamat menutup Ramadhan tahun ini, menyongsong Idul Fitri dengan menggemakan takbir merasuk dalam jiwa.

”Sejatinya setiap ibadah adalah lingkaran berkelanjutan. Menuntun hamba pada ketaatan dan pengabdian kepada Allah Ta’ala yang lebih tinggi nilainya“ (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.