TEHERAN – KEMPALAN: Pemerintah Iran ingin Amerika Serikat mencabut semua sanksi terhadap negaranya dan menolak pelonggaran “langkah demi langkah” apa pun dari pembatasan, seperti yang dikutip dari Iran Press TV dan Reuters pada hari Sabtu (3/4).
Iran, China, Rusia, Prancis, Jerman dan Inggris yang merupakan pihak dalam kesepakatan 2015 mengadakan pembicaraan virtual pada hari Jumat (2/4) untuk membahas kemungkinan kembalinya Amerika Serikat ke kesepakatan tersebut.
Kedua negara mengatakan pada hari Jumat (2/4) bahwa mereka akan mengadakan pembicaraan tidak langsunv di Wina mulai minggu depan sebagai bagian dari negosiasi yang lebih luas untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan global.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan fokusnya adalah pada “langkah-langkah nuklir yang perlu diambil Iran untuk kembali ke kepatuhan” dengan perjanjian itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengatakan bahwa Teheran menentang peringanan sanksi secara bertahap.
“Tidak ada rencana step to step yang sedang dipertimbangkan,” kata Khatibzadeh kepada Press TV.
“Kebijakan definitif Republik Islam Iran adalah mencabut semua sanksi AS,” imbuhnya.
Tujuan pembicaraan di ibu kota Austria itu adalah untuk mencapai kesepakatan dalam dua bulan, menurut seorang pejabat senior Uni Eropa, koordinator kesepakatan itu.
Mantan Presiden AS Donald Trump menarik diri dari pakta nuklir pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, yang mendorong Teheran untuk melanggar beberapa pembatasan nuklir.
Pengganti Trump Joe Biden ingin menerapkan kembali perjanjian tersebut, tetapi Washington dan Teheran berselisih tentang siapa yang harus mengambil langkah pertama. (Iran Press TV/Reuters, Belva Dzaky Aulia)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi