Vaksin Penunggang Gajah
KEMPALAN: Korban paling menderita dari pagebluk Covid 19 adalah orang miskin dan negara-negara miskin. Akibat pandemi ini orang miskin semakin banyak karena banyak yang kehilangan pekerjaan. Angka remsi pengangguran Indonesia adalah 10 persen yang berarti 27 juta orang menganggur.
Kalau dibandingkan dengan Australia berarti seluruh penduduk Australia yang berjumlah 25 juta menganggur. Pun pula kalau dibanding dengan Malaysia berarti 90 persen warga negeri jiran yang berjumlah 31 juta tidak punya pekerjaan.
Itu kalau kita percaya kepada statistik. Menganggur adalah aib bagi setiap orang. Karena orang akan merahasiakannya kepada orang lain. Banyak orang setiap hari keluar meninggalkan rumah supaya kelihatan bekerja meskipun tidak ada yang dia kerjakan. Di jalanan kota-kota besar sekarang ini setiap hari di jam kerja banyak orang-orang nongkrong di pinggir jalan seharian menunggu kalau ada orang yang memberi sedekah makanan atau uang. Mereka adalah pengemis-pengemis terselubung korban pagebluk.
Pandemi ini masih jauh dari selesai. Banyak vaksin sudah ditemukan tapi semua ahli epidemologi tidak ada yang berani menjamin kapan pagebluk ini berakhir. Pakar penyakit menular Amerika Serikat Anthony Fauci mempredikis kondisi ini bisa terus berlangsung sampai dua atau tiga tahun ke depan, berarti manusia harus berdamai dengan virus ini sampai 2024. Melinda Gates, istri Bill Gates, memberi wawancara kepada media Amerika (9/3) dan mengatakan bahwa dengan beredarnya berbagai vaksin terbaru maka seluruh dunia baru akan bebas pandemi pada 2022. Itu pun Melinda tidak yakin apakah di awal tahun atau akhir tahun.

Sampai sekarang virus itu sudah menjangkiti 117 juta manusia di seluruh dunia dan sudah menelan korban jiwa 2,6 juta orang. Itu data resmi dari John Hopkins University yang selama ini dianggap paling berkompeten dalam riset mengenai pandemi. Di Indonesia angka resmi terjangkit sudah tembus 1,5 juta orang dengan jumlah korban meninggal 37 ribu orang.
Harapan terbesar adalah vaksin bisa segera menghentikan penyakit itu. Tetapi umat manusia sekarang ini menghadapi musuh yang tidak kelihatan tapi cerdik dan mematikan. Vaksin baru saja ditemukan tetapi penyakit itu sudah bermutasi dan berubah bentuk dan cepat menjelma menjadi mahluk baru dengan kemampuan penularan 50 sampai 70 persen lebih kuat dari varian sebelumnya.
Amerika baru saja mengumumkan penemuan vaksin baru buatan Johnson and Johnson. Vaksin ini punya kemampuan efikasi 95 persen untuk bisa membunuh virus Covid. Vaksin baru ini lebih canggih dari vaksin Sinovac buatan China yang efikasinya sekitar 55 persen. Beda dengan vaksin Sinovac yang butuh dua kali suntikan dengan jeda waktu dua minggu vaksin baru ini cukup butuh satu kali suntikan, single shot, untuk memberikan perlindungan kekebalan.
Pemerintah Indonesia juga baru saja mendatangkan satu juta unit vaksin buatan Astra-Zenica Inggris yang bekerja sama dengan Universitas Oxford, salah satu universitas tertua di dunia. Bersama dengan vaksin Pfizer-Moderna buatan Amerika yang bekerja sama dengan BionTech Jerman vaksin Astra-Zenica adalah pioner terdepan penemuan vaksin anti-Corona.
Persoalan utamanya adalah harganya lebih mahal dan transportasinya rumit karena membutuhkan kontainer pendingin sampai minus 70 derajat selsius. Karena itu semua vaksin yang sudah siap pakai itu masih butuh waktu lama untuk bisa didistribusikan ke seluruh dunia terutama ke negara-negara miskin di Asia dan Afrika.
Para pakar di seluruh dunia sudah sepakat bahwa pandemi ini bisa selesai kalau tercapai kekebalan kelompok, herd immunity, paling sedikit 70 persen dari total penduduk. Populasi dunia sekarang sudah mencapai 7,75 miliar kepala. Bisa dibayangkan betapa mahalnya untuk bisa mencapai herd immunity dengan memvaksin sekitar enam miliar manusia, rasanya hal itu mustahil melihat ketimpangan kaya-miskin yang lebar di antara negara-negara dunia sekarang ini.
Di Amerika pun herd immunity menjadi tantangan yang luar biasa sulit. Sampai sekarang dari sekitar 330 juta penduduk Amerika baru sepuluh persen yang sudah divaksin. Itu pun memunculkan banyak penolakan dari berbagai kalangan. Banyak negara bagian Amerika yang sudah menghentikan keharus memakai masker bagi warganya. Dengan alasan agar roda ekonomi segera bergerak banyak negara bagian yang sudah mencabut pembatasan sosial dan membolehkan restoran buka dengan kapasitas penuh 100 persen.
Negara-negara bagian yang nekat dan sembrono itu umumnya dipimpin oleh gubernur dari Partai Republik yang selama ini dikenal anti-masker dan anti lockdown. Sebuah pesta motor gede dengan puluhan ribu orang peserta digelar tanpa ada yang memakai masker dan menjaga jarak. Ajang gathering seperti sangat potensial menjadi super-spreader yang bisa menularkan virus dengan sangat cepat. Vaksin seampuh apapun tidak akan banyak gunanya kalau disiplin masyarakat payah.
Selama ini masyarakat di seluruh dunia terbelah menjadi dua dalam menyikapi pandemi. Ada yang memakai otak dan ada yang memakai emosi. Yang pakai otak menggunakan nalar rasional untuk mencerna persoalan dengan melihat data, fakta, dan sejarah. Kelompok rasional ini percaya kepada ilmu pengetahuan kedokteran dan dikategorikan sebagai kelompok pro-science. Kelompok ini lebih disiplin memakai masker, menjaga kebersihan dan melakukan physical distancing secara ketat termasuk taat bekerja dari rumah.
Kelompok lainnya lebih banyak memakai intuisi atau perasaan untuk menilai keadaan. Kelompok ini lebih mengedepankan emosi daripada nalar, karena itu mereka percaya kepada teori konspirasi meskipun tidak ada argumen dan fakta yang meyakinkan untuk mendukungnya. Kelompok ini tidak percaya kepada ilmu pengetahuan kedokteran dan malah menganggapnya bagian dari konspirasi untuk menangguk keuntungan. Mereka dikelompokkan sebagai anti-science. Wajar kalau kelompok ini tidak mau pakai masker dan tidak peduli terhadap jaga jarak.
Untungnya, atau celakanya, jumlah kelompok kedua yang emosional ini lebih besar dari kelompok rasional. Dua kelompok ini juga mempunyai afiliasi politik yang berseberangan, yang rasional memilih Partai Demokrat dan kelompok emosional lebih memilih Partai Republik.
Di Indonesia polarisasi semacam itu juga terjadi. Ada kelompok emosional yang percaya kepada teori konspirasi, mereka tidak percaya bahwa virus ini ada dan menuduhnya hanya akal-akalan rumah sakit dan dokter untuk cari uang. Ada kelompok rasional yang percaya bahwa pandemi ini nyata adanya. Mereka pro-science dan percaya bahwa ilmu pengetahuan kedokteran akan menyelesaikan penyakit ini. Tapi kelompok kedua ini justru banyak yang menolak untuk divaksin meskipun mereka percaya bahwa vaksin adalah cara ampuh mengatasi pandemi.
Inilah anomali, keanehan, dalam masyarakat Indonesia. Survei yang dilakukan ahli politik Burhanudin Muhtadi menunjukkan hampir 60 persen responden menolak divaksin, bukan karena tidak percaya kepada vaksin tapi karena tidak percaya kepada pemerintah Jokowi. Kalangan ini curiga bahwa vaksin Sinovac yang diimpor Jokowi dari China tidak halal dan tidak ampuh. Proyek vaksinasi ini dianggap sebagai bagian dari proyek-proyek investasi besar China di Indonesia selama ini.
Tudingan itu lebih didasari oleh emosi daripada nalar rasional. Meskipun sudah dipaparkan fakta-fakta ilmiah dan dilakukan sosialisasi besar-besaran kelompok ini tetap bergeming. Faktor politik emosional menjadi hal utama yang menghalangi vaksinasi daripada faktor rasional. Survei menunjukkan para penolak vaksin adalah pendukung Prabowo-Sandi dalam pilpres 2019.
Nalar dan emosi diibaratkan sebagai manusia yang menunggang gajah. Pawang gajah banyak kita jumpai di Lampung, dan lebih banyak lagi di wilayah India. Ketika menunggang gajah sang pawang harus berhati-hati untuk memahami keinginan sang gajah karena sang gajah tidak bisa dipaksa. Jadi sebenarnya pawang penunggang gajah itu menjadi tidak sepenuhnya mengendalikan gajah, sebaliknya si pawang justru lebih banyak mengikuti kemauan si gajah.
Jonathan Haidt, ahli psikologi moral penulis buku “The Righteous Mind: Why Good People Divided by Politics and Religion” (2010) memakai tamsil gajah dan penunggangnya itu untuk menggambarkan hubungan emosi dengan nalar.
Menurut Haidt, penunggang gajah itu mewakili nalar dan si gajah mewakili emosi. Jadi, sebagaimana lazimnya para penunggang gajah yang lebih menurut kepada si gajah, nalar manusia juga lebih banyak menuruti keinginan emosi. Setiap kali menghadapi situasi tertentu manusia lebih cenderung memakai emosinya untuk melakukan judgement, penilaian. Ketika kemudian diberi penjelasan rasional sudah tidak ngefek lagi karena sudah terburu emosi.
Ukuran dan berat gajah yang bisa 100 kali lipat manusia juga menunjukkan betapa kuat dan dominannya emosi dibanding akal.
Ketika mendapatkan informasi soal vaksin Sinovac buatan China seseorang langsung memakai emosinya untuk memberikan vonis kilat bahwa vaksin itu haram dan vaksin itu bagian dari muslihat China terhadap Indonesia. Penjelasan-penjelasan rasional yang diberikan kemudian tidak akan banyak mengubah pandangan emosional itu.
Perang para buzzer di media sosial yang heboh dan gegap gempita itu adalah perang antara gajah lawan gajah, sama-sama tidak memakai nalar dan sama-sama emosional. Gajah-gajah bertarung pelanduk mati terinjak-injak, akan makin banyak orang miskin yang menderita akibat tarung gajah.
Apakah antar gajah itu bisa berdamai? Jangan mengharap gajah berdamai kalau pawangnya masih tetap berhantam. Yang punya otak nalar adalah para pawang maka yang harus berdamai adalah para pawang, bukan para gajah. (*)
