Senin, 23 Maret 2026, pukul : 12:15 WIB
Surabaya
--°C

Pulang Kotor

Jangan-jangan sejak Anda merasa gembira toilet di rest area harus gratis. Sebagian Anda mungkin pilih bayar asal bersih. Daripada gratis tapi kotor. Hanya sedikit dari Anda yang berprinsip: bersih dan gratis.

Oleh: Dahlan Iskan

KEMPALAN: Akhirnya saya bisa berlebaran bersama keluarga: berkat Lebarannya mundur ke tanggal 21 Maret. Padahal cucu-cucu sudah telanjur siap tanpa kakek – toh yang tukang bagi amplop adalah nenek mereka.

Padahal hari Kamis saya sudah kontak beberapa teman: ingin ikut salat Idul Fitri di tempat mereka.

Pilihan pertama di Jagat Ars, dekat BSD Serpong. Pengasuh pesantren itu mantan pemimpin redaksi Harian Rakyat Merdeka: Dr Budi Rahman Hakim.

“Sejak puasa, pesantren Jagat libur,” jawabnya. “Saya sendiri Lebaran di Sirna Rasa,” tambahnya.

Sirna Rasa adalah pesantren dan padepokan di Ciamis, Jabar. Dekat danau Panjalu. Di situlah mursyid tarekat Nahsabandiyah Qadiriyah bermukim: Abah Aos. Beberapa kali saya ke sana. BRH adalah wakil mursyid tarekat itu.

Lalu saya ganti pilih Lebaran di pesantren DQ. Saya tidak hubungi pemiliknya. Saya ingin datang tanpa kabar. Akan jadi jamaah biasa seperti pada umumnya.

Kamis sore saya dapat WA dari pemilik Darul Quran: “sejak menjelang puasa pesantren libur,” katanya. Saya lupa: semua pesantren libur pada  bulan puasa.

Tapi kenapa ia tahu saya akan ke DQ? Rupanya tamu di lobi hotel itu mendengar pembicaraan telepon saya dengan istri. Istri bertanya di mana hari Jum’at akan salat Idul Fitri – saya jawab di Darul Quran. Rupanya ia membocorkan “rahasia” itu.

Anda sudah tahu siapa pemilik Darul Quran: Ustaz Yusuf Mansyur. Benar. Ustaz YM diberitahu seseorang yang sedang berurusan di hotel itu. Ia seorang pengurus masjid yang sedang mencari kamar untuk tamunya dari Makkah. Sang tamu akan jadi pengkutbah pada salat Idul Fitri di masjidnya.

Saya sendiri bermalam di hotel itu bersama sembilan tamu: lima dari Xuzhou, dua dari Singapura, dua lagi baru tiba dari Osaka. Itu kali pertama saya bermalam di Swiss-Belhotel Serpong, dekat BSD, Tangerang Selatan – padahal Anda sudah tahu siapa pemilik hotel dan gedung perkantoran di pojok interchange tol BSD itu.

Akhirnya saya putuskan: akan ke masjid yang pengkutbahnya dari Makkah itu saja. Dekat. Kurang lima menit dari hotel. Berarti saya tidak jadi mengajak tamu-tamu saya menyaksikan satu bagian dari ritual Idul Fitri.

Kalau saja ke Jagat Ars atau ke DQ saya akan ajak mereka. Biar tahu apa itu Idul Fitri. Gantian. Saya bilang kepada mereka, saya sudah sering Idul Fitri di Tiongkok.

Malamnya saya dapat WA dari istri: pemerintah memutuskan Lebarannya hari Sabtu. “Berarti bisa Lebaran bersama anak cucu,” kata istri.

Tentu bisa. Kalau ada takdir.

Berarti Jumat pagi saya bisa lebih pagi berangkat ke Cirata. Tidak harus menunggu selesai salat Idul Fitri. Ada yang akan kami lihat di sana. Kan tidak harus selalu orang Indonesia yang belajar ke Tiongkok. PLTS terapung di waduk Cirata itu sangat menarik: pertama sebesar 200 MW di Asia Tenggara.

Saya sudah ukur jarak Swiss-Belhotel Serpong ke Cirata: tiga jam. Berarti cukup waktu untuk ke Surabaya dengan pesawat paling malam. Bahkan masih bisa satu acara lagi sepulang dari Cirata: mesong ke Grand Heaven di Pluit Jakarta. Jenazah Bambang Hartono sudah tiba dari Singapura. Akan disemayamkan di situ dua hari – sebelum disemayamkan di Kudus, pusat bisnis rokok Djarum.

Dari Kudus jenazah akan dibawa ke makam keluarga di Rembang. Di situ sudah lama disiapkan lubang untuk jenazah Bambang Hartono. Juga lubang untuk keluarga inti pemilik kerajaan bisnis grup Djarum (Rokok Djarum, Bank BCA, elektronik Polytron dan banyak lagi).

Anda sudah tahu: Bambang Hartono “gila” bridge. Olahraga otak itu masuk ke tulang sumsumnya. Suatu saat Bambang menghubungi saya: agar saya mau menjadi ketua umum GABSI – asosiasi olahraga bridge di bawah KONI. Tentu saya tidak mau. Saya bukan orang Manado.

Tapi Bambang merayu sedemikian rupa. Bahwa saya tidak mengerti bridge banyak yang akan bantu. Misalnya TP Rachmat, tokoh bisnis di balik sukses Astra. Kami pun rapat bertiga. “Secara teknis kan banyak yang bisa bantu,” kata TP Rachmat.

Tentu saya tahu di dunia bridge ada Eddy Manoppo bersaudara. Ada juga Bert Toar. Mereka juara-juara bridge Indonesia. Bridge-lah olahraga yang bisa membawa Indonesia ke forum dunia – di samping bulutangkis dan belakangan panjat tebing.

Maka saya jadwalkan pukul 16.00 ke Grand Heaven. Bersama rombongan dari Tiongkok itu. Dari sana sudah tidak jauh lagi ke bandara Cengkareng.

Dalam perjalanan ke Cirata kami sibuk cari tiket Jakarta-Surabaya untuk 10 orang. Kalau bisa pukul 18.00 atau setelah itu. Kami optimis sekali. Tepat di hari pertama Lebaran penerbangan biasanya justru lengang. Lupa kalau Lebarannya mundur.

Ternyata padat. Jangankan 10 orang. Untuk satu orang pun tidak ada kursi kosong. Jangankan yang jam 18.00. Yang pukul 20.00 pun penuh. Bahkan semuanya: sejak pagi.

Maka kami putuskan dari Cirata ke Cirebon. Jalan darat. Saya hubungi teman-teman di Cirebon: carikan mobil untuk 10 orang ke Surabaya. Mobil yang dari Jakarta hanya antar sampai Cirebon. Biar mereka bisa kembali ke Jakarta.

Kami pun janjian di rest area 207. Pindah mobil. Pindah bagasi. Pindah suasana kebatinan: siap menderita di jalan raya. Saya minta maaf kepada bos besar mereka: harus ikut school of suffering-nya AZA.

“Dari Cirebon masih berapa jam?” tanya bos besar itu.

“Kalau saya yang mengemudi biasanya lima jam,” kata saya. “Cirebon-Semarang dua jam. Semarang-Surabaya tiga jam,” kata saya lagi. “Tapi ini kan mobil komersial. Ukurannya besar pula. Mungkin bisa tujuh jam,” tambah saya. Saya tidak berani melirik ekspresi wajahnya.

Toh mereka juga tahu: perusahaan transpor umumnya menetapkan peraturan untuk sopir mereka: tidak boleh lebih 100 km/jam.

Kami berencana berhenti satu kali: di rest area Salatiga. Saya sering menjadwalkan istirahat di situ: Bersih. Indah. Dan yang penting ada yang jual durian – di lantai atas. Pasti tamu-tamu saya lupa penderitaan. Ganti bahagia bersama durian Indonesia.

Saya harus pilih rest area yang bersih. Belakangan saya mulai sering mengeluh di banyak rest area: toiletnya sudah tidak bersih lagi. Sudah kotor. Tidak terawat. Bau.

Jangan-jangan sejak Anda merasa gembira toilet di rest area harus gratis. Sebagian Anda mungkin pilih bayar asal bersih. Daripada gratis tapi kotor. Hanya sedikit dari Anda yang berprinsip: bersih dan gratis.

Saya tidak tahu: siapa yang harus memutuskan soal toilet di rest area ini. Yang jelas saya tidak bisa lagi berbangga di depan tamu dari Tiongkok: kami boleh kalah di semua bidang tapi masih menang di kebersihan toilet. Kini di toilet rest area pun kita kalah.

Sangat menyakitkan harus berhenti menulis di posisi kalah seperti itu. Ibarat suporter bola yang timnya kalah oleh gol di menit terakhir. Tulisan mohon maaf lahir batin di toilet rest area tidak akan mendapatkan maaf. (Disway)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.