Senin, 23 Maret 2026, pukul : 12:19 WIB
Surabaya
--°C

Jika Pak Natsir Hidup Hari Ini: Apa yang Akan Dimainkan Indonesia di Krisis Energi Dunia?

Hari ini krisis itu kembali datang – dan bahkan dalam skala yang lebih besar lagi. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Indonesia akan kembali memainkan perannya atau sekadar menjadi penonton dalam sejarah energi dunia?

Oleh: Agus M. Maksum

KEMPALAN: Sejarah sering datang kembali dalam bentuk yang berbeda, tetapi dengan inti yang sama. Kadang ia tidak mengulang peristiwa yang persis sama, namun pola kekuatannya tetap serupa.

Tahun 1973, ketika Perang Yom Kippur meletus, dunia tidak hanya menyaksikan perang antara Arab dan Israel. Dunia menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar: minyak dijadikan senjata geopolitik.

Embargo minyak oleh negara-negara Arab membuat harga energi melonjak tajam. Ekonomi Barat terguncang. Industri global mengalami krisis.

Namun di balik peristiwa besar itu, ada kisah yang jarang dicatat dalam sejarah Indonesia. Kisah tentang Mohammad Natsir.

Melalui sebuah surat singkat pada Raja Faisal dari Arab Saudi, Pak Natsir berhasil membantu membuka kembali pasokan minyak bagi Jepang yang saat itu (sudah) mengalami krisis energi.

Minyak akhirnya mengalir kembali ke Jepang melalui Indonesia.

Akibatnya bukan hanya industri Jepang yang terselamatkan, tetapi Indonesia juga ikut menikmati boom minyak pada masa itu.

Kisah tersebut memberi satu pelajaran penting: Dalam geopolitik energi dunia, kepercayaan dan diplomasi kadang jauh lebih menentukan daripada kekuatan militer.

Dunia Kembali Memasuki Bab yang Sama

Hari ini dunia kembali memasuki bab yang hampir serupa. Konflik antara Israel dan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai merambat ke sektor yang paling sensitif dalam ekonomi global: energi.

Kilang minyak menjadi target. Terminal gas diserang. Selat yang strategis seperti Hormuz berada dalam tekanan militer. Jika krisis 1973 adalah keran minyak yang ditutup, maka krisis hari ini berpotensi menjadi sumur energi yang bisa diserang langsung.

Dampaknya jauh lebih besar. Produksi energi bisa terganggu di sumbernya. Distribusi energi global bisa terputus. Harga energi berpotensi melonjak tanpa kendali.

Dunia tidak hanya menghadapi krisis minyak. Dunia sedang menghadapi krisis sistem energi global.

Mengubah Arah Arus Energi Dunia

Dalam situasi seperti ini, pasokan minyak dari negara-negara Teluk sebenarnya tidak harus dihentikan untuk dunia. Yang lebih mungkin terjadi adalah pengaturan ulang arah distribusi energi global.

Pasokan minyak dapat diarahkan ulang secara strategis ke negara-negara industri yang sangat bergantung pada impor energi, seperti: Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, China serta negara-negara industri Asia lainnya.

Langkah ini bukan sekadar perdagangan energi biasa. Ini adalah strategi geopolitik energi.

Mengapa Skenario Ini Sangat Mungkin?

Skenario tersebut menjadi semakin realistis jika melihat situasi geopolitik sebelum konflik ini meletus. Sebelum perang antara Amerika – Israel melawan Iran terjadi, Donald Trump telah memainkan senjata ekonomi berupa tarif perdagangan atas banyak negara.

Kebijakan tarif tersebut tidak hanya menyasar China, tetapi juga menekan Uni Eropa.

Selain itu, ketegangan geopolitik meningkat ketika muncul ancaman serius dari Washington untuk memperluas pengaruh Amerika di kawasan Arktik, termasuk wacana kontroversial mengenai Greenland, wilayah otonom milik Denmark.

Langkah-langkah tersebut memperlihatkan bahwa sebelum perang energi ini meletus, ketegangan ekonomi global sebenarnya sudah meningkat terlebih dahulu.

Artinya ketika konflik energi terjadi, banyak negara industri dunia sebenarnya sudah berada dalam posisi mencari alternatif keseimbangan geopolitik baru. Di titik inilah energi dapat kembali menjadi alat diplomasi global.

Skala Kebutuhan Energi Dunia Industri

Untuk memahami besarnya permainan energi ini, kita perlu melihat kebutuhan minyak negara-negara industri besar.

Uni Eropa mengonsumsi sekitar 13–14 juta barel minyak per hari, dan sebagian besar harus diimpor.

Jepang mengonsumsi sekitar 3–3,5 juta barel per hari, hampir seluruhnya berasal dari impor.

Korea Selatan membutuhkan sekitar 2,5–3 juta barel per hari, juga sangat bergantung pada impor energi.

Yang paling besar adalah China.

China saat ini mengonsumsi sekitar 15–16 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestiknya hanya sekitar 4 juta barel per hari.

Artinya China harus mengimpor sekitar 11–12 juta barel minyak setiap hari.

Dengan kebutuhan sebesar itu, China menjadi pembeli energi terbesar di dunia.

Jika Pak Natsir Hidup Hari Ini

Pertanyaan reflektif yang menarik kemudian muncul: Jika Pak Natsir hidup hari ini – apa yang akan beliau mainkan dalam krisis energi dunia?

Mungkin beliau tak akan melihat konflik ini semata sebagai perang militer. Beliau mungkin melihatnya sebagai perang energi dan diplomasi global.

Mungkin beliau akan mendorong lahirnya kembali diplomasi energi antara dunia Islam dan negara-negara industri.

Mungkin beliau akan membangun komunikasi antara negara-negara Teluk dengan pusat-pusat industri dunia.

Karena sejarah telah menunjukkan bahwa satu tokoh Indonesia bernama M Natsir pernah memainkan peran penting dalam krisis energi global.

Hari ini krisis itu kembali datang – dan bahkan dalam skala yang lebih besar lagi. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Indonesia akan kembali memainkan perannya atau sekadar menjadi penonton dalam sejarah energi dunia?

Di tengah kobaran konflik energi global hari ini, pesan yang muncul bagi bangsa ini sangat jelas: Berhenti bergantung. Mulai berdaulat.

*) Agus M Maksum, Pengamat Teknologi dan Politik Digital

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.