Senin, 23 Maret 2026, pukul : 10:21 WIB
Surabaya
--°C

Sedekah di Era Digital

Oleh: Dr. Ade Tuti Turistiati
Dosen Komunikasi  Universitas Amikom, Purwokerto

KEMPALAN: “Jika tangan kananmu memberi, tak perlu tangan kirimu menjadi saksi”, begitu kira-kira sebuah ungkapan yang bermakna bahwa jika kita memberi sesuatu pada orang lain sebaiknya diam-diam. Tanpa diumbar tanpa pengumuman. Namun, di era digital dimana segala sesuatu dirasa perlu dan mudah diabadikan, tak ayal serah terima dengan label sedekah, sumbangan dalam bentuk uang atau barang tak luput dari jepretan.

Dengan dalih hanya untuk sekadar dokumentasi atau laporan, cekrek sana cekrek sini ternyata diunggah di media sosial dan menjadi konsumsi publik. Foto atau video pemberian sedekah atau sumbangan pun menjadi sumber konten media sosial dan menarik perhatian.  Ada benarnya bahwa memberikan sumbangan dan sejenisnya perlu disebarluaskan untuk menghindari fitnah, memotivasi orang lain agar mereka hatinya tergugah melakukan hal yang sama. Kepentingan si pemberi dapat  tersalurkan. Namun, bagaimana dengan si penerima? Perasaan mereka kadang-kadang terabaikan.

Di masa pandemi Covid-19 tidak sedikit orang-orang yang tadinya bekerja harus kehilangan mata pencaharian.  Untuk mencari pekerjaan baru atau melakukan wirausaha ternyata tidak semudah membalikkan tangan.  Uang tabungan sudah lama terkuras kebutuhan harian. Yang tadinya “tangan di atas”, sekarang “tangan di bawah”.  Kondisi tersebut kurang mengenakan tapi apa daya kondisi yang tidak memungkinkan.

Banyak dari saudara-saudara kita sebenarnya punya rasa malu mendapatkan bantuan apalagi jika harus diabadikan.  Seorang tetangga yang terkena PHK oleh perusahaan dimana sebelumnya ia bekerja sekarang tak berpenghasilan.  Ketika ia pinjam uang ia mengatakan “Saya malu … tolong jangan beritahu siapa-siapa”.  Ia cerita sebenaranya ia pun merasa malu menjadi bagian dari barisan penerima bantuan.  Jika ke bank untuk mencairkan bantuan dari pemerintah ia pun mengenakan masker dan topi agar tidak ada yang mengenali.  Orang sepertinya yang merasa malu menerima bantauan tapi memerlukan bisa jadi tidak sendirian.

Kita sudah sering menyaksikan melalui tayangan televisi atau sekedar baca di koran cetak maupun online berita menegenai pembagian sejumlah uang atau makanan.  Yang menerima datang berduyun-duyun, antri, bahkan berdesak-desakan.  Si pemberi duduk di depan meja, berdiri di balik pagar atau langsung bertatap muka tanpa sekatr  melakukan pembagian. Ada wajah-wajah yang nampak gembira akan mendapatkan bantuan namun ada juga wajah-wajah tertunduk malu.

Jika kita memberikan bantuan pada masyarakat atau seseorang terlebih jika kita ingin mengabadikan dalam bentuk foto ataupun video, sebaiknya minta izin dulu pada pihak penerima. Jika ia tak berkenan, jangan dipaksakan.

Nampaknya kita perlu belajar kembali dari kisah Umar bin Khattab. Dikisahkan pada suatu malam semasa kekhalifahan Umar bin Khattab, ia dan asistennya keliling rumah penduduk. Umar mendapati sebuah pondok yang kompornya masih menyala sementara tangisan anak-anaknya terdengar mengenaskan.  Umar pun mengetuk pintu dan menanyakan kenapa malam-malam memasak.  Ibu itu pun bercerita bahwa sebenarnya ia bukan memasak makanan melainkan merebus batu. Ia tidak punya makanan untuk dimasak. Sehingga ia berharap anaknya lama menunggu dan dapat tertidur. Demi mendengar penjelasan ibu tersebut Umar pun bergegas lari keluar untuk mengambil gandum dan bahan makanan dari baitul mal. Ibu dan anak-anaknya itu pun makan dengan lahap.

Kisah Umar mencontohkan kepada kita sebaiknya memberikan sedekah, zakat fitrah, bantuan, sumbangan dan sejenisnya lebih baik diantarkan pada yang membutuhkan, tidak meminta orang yang akan menerima datang pada si memberi.  Sesungguhnya, si pemberi lah yang memerlukan si penerima.  Muliakanlah mereka dan jaga harga dirinya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.