Kamis, 12 Februari 2026, pukul : 11:37 WIB
Surabaya
--°C

Pepesan Kosong Publisher Right

Wawancara dengan Ilham Bintang (Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat)

KEMPALAN: Dewan Pers sedang menyusun draf “Publisher Right” untuk diajukan ke pemerintah. Tujuannya untuk melindungi publisher media massa dari jarahan platform digital. Draf ini menjadi perdebatan serius di kalangan wartawan, ada pro dan ada kontra.

Berikut petikan wawancara dengan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Ilham Bintang, dalalam beberapa kesempatan:

Tanya: Apa sikap PWI terkait usulan tentang regulasi publisher right ini?

Jawab : saya tidak dalam kapasitas menyuarakan sikap institusi. Yang saya utarakan selama ini adalah pandangan pribadi sebagai jurnalis dan publisher.

Saya menganggap regulasi publisher tidak tepat kalau dibuat bercampur baur dengan ranah jurnalisme. Kita dididik sejak awal oleh para pendahulu kita menjaga newsroom, dan melindungi supaya tidak diintevensi kepentingan bisnis. Maka itu, sejak dulu, kita mengenal istilah pagar api ( firewall).

Apakah diajak diskusi oleh Dewan Pers dalam penyusunan drafnya?

Pengurus Harian PWI setahu saya diajak. Tapi PH  PWI tidak pernah membicarakan itu secara institusional dengan kawan-kawan di Dewan Kehormatan PWI. Dalam aturan organisasi PWI, DK-PWI mendapat amanah untuk mengawasi wartawan anggota PWI mentaati kode etik jurnalistik dan kode perilaku wartawan. Termasuk di dalamnya tentu saja menjaga pagar api itu. Mungkin karena Publisher dominan ranah bisnis, sehingga DK PWI tidak disertakan.

Apa saja catatan penting Anda soal aturan-aturan yang harus dimuat dalam regulasi publisher right?

Dalam konteks karya jurnalistik, UU Pers No 40/1999 sudah lebih dari cukup. Amanah UU itu sudah memberi pedoman  bagaimana produk jurnalistik yang baik dari pelaksanaan prinsip kerja profesional. UU itu luar biasa, merupakan produk reformasi bangsa. UU itu juga mereformasi UU Pers terdahulu. UU sebelumnya, disebut UU Pokok Pers  Nomor 21 Tahun 1982 Tentang Perubahan UU No 11/1966 Ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan UU No 4/1967. UU Pers 40/1999, tidak lagi memerlukan PP dan Peraturan Menteri untuk pelaksanaan tehnis. Kenapa seperti itu? Karena kita tidak  mau lagi menerima blanko kosong seperti yang terjadi di era Orde Baru. Lewat PP dan Permen atau SK Menteri yang menjadi turunan UU Pers 22/82 itulah akses pemerintah mengkooptasi pers.

Sekarang, pemerintah tidak punya akses sama sekali untuk mencampuri urusan pers. Urusan dan masalah pers biarlah diurus dan diselesaikan oleh insan pers sendiri. Dan, kita harus konsisten atas pilihan kita bersama. Jangan goyah lagi.

Posisi pers seperti  itu memang bukan tanpa masalah. Tidak ada alokasi anggaran untuk pers di dalam APBN. Tetapi itu lebih bagus daripada harus ikut menetek dan mempertanggungjawabkan anggaran kepada rakyat. Lebih baik kita di luar dan terus meningkatkan peran pers mengawasi pengololaan APBN. Supaya demokrasi Indonesia berjalan baik.

Apakah regulasi hak cipta perlu  didorong karena pendapatan iklan perusahaan media anjlok akibat kemunculan platform digital?

UU Hak Cipta sudah ada.  Perlindungan  hak atas kekayaan intelektual sudah berjalan, meskipun belum kita rasakan optimal. Buktinya, seniman musik kita sudah banyak yang menikmati hak berupa pembayaran royalti. Yang perlu didorong adalah pengawasan dan penegakan hukumnya. Disrupsi akibat kemajuan pesat tehnologi informasi memang berdampak luas. Menjungkirbalikkan  hampir semua tatanan, termasuk tatanan moral. Dampak disrupsi tehnologi menimpa bukan hanya kita melainkan juga masyarakat dari negara  penemu   teknologi digital  tersebut.

Soal pemasukan iklan media yang Anda tanyakan, itu pertanyaan klasik. Kapan tidak terjadi seperti itu? Di masa Orde Baru, Reformasi, dan masa sebelum terjadi shifting di era digital, sudah seperti itu. Tidak semua media menikmati kue iklan. Hanya media-media tertentu saja, yang kreatif, inovatif dan yang cepat merespons setiap perubahan maka itu mereka unggul. Coba Anda telusuri sejarah media dan multi media kita, Anda akan menemukan berapa banyak media yang bergelimpangan jadi mayat. Ambil data terdekat saja, di era Presiden Habibie, ketika Menpen M Yunus membuka kran SIUPP.  Saya lupa angka persisnya, tetapi lebih 2000 SIUPP yang ditandatangani Menpen M Yunus. Cari berapa yang selamat terbit hingga sekarang? Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari. Lebih banyak mati termasuk media yang dulu sangat kokoh.

Di era digital, semakin banyak lagi yang tewas. Saya menilai kita terlambat berubah, malah ada juga kawan yang tidak mau berubah.

Sebagian itu yang  pongah, seperti masih bermimpi mengembslikan kejayaan dan kebanggaan masa lampau. Atas nama sejarah perjuangan dan andil media mainstream dalam kemerdekaan ada beberapa teman masih berharap  bantuan subsidi pemerintah. Kawan itu mungkin menyesal mengajak saya diskusi. Meskipun media saya banyak juga tewas di era digital, tetapi saya menentang gagasan memohon subsidi itu.

Siapa yang mau dibantu? Sekitar 90 % media mainstream multi platform pemiliknya adalah para konglomerat yang sering dijuluki ologarki dalam rezim pemerintahan sekarang. Di tangan mereka banyak juga media legendaris dimatikan karena mereka capek membiayai penerbitannya. Di dalam petabumi media kita itu sebenarnya, saya meragukan gagasan membuat Publisher Right. Ini siapa hendak menolong siapa?

Dunia pers, dunia wartawan, memang bukan tempat enak, sejak sejarah pertamanya. Bukan taman kanak – kanak tempat kita bersenang, bergembira ria. Kata Karni Ilyas, sejak dalam sejarahnya pers adalah dunia kompetisi. Ada yang berkibar ada yang jatuh. Tapi yang jatuh tetap bersemangat untuk bangkit. Itu baru wartawan.

Publisher Right, saya ragu bisa menjadi solusi seperti yang diharapkan teman-teman. Apalagi kita tahu sekarang di masa pancaroba disrupsi, tiga empat tahun ke depan, entah seperti apa lagi perkembangan tehnologi?  Apa tiap kali ada perubahan kita bikin regulasi.

Silahkan saja kawan-kawan memperjuangkan. Yang penting, tidak ada revisi UU Pers 40/1999. Sebab itu bukan cuma prakarsa insan pers, tetapi seluruh bangsa Indonesia.

Bagaimana kondisi bisnis media di era teknologi digital saat ini?

Saya sudah menjawab pertanyaan itu di point 4. Intinya : ini era kompetisi yang amat ketat. Buktinya, ada beberapa orang yang berhasil memanfaatkan disrupsi dan berhasil mendapatkan keduanya : poin dan koin. Deddy Corbouzier selalu saya jadikan contoh. Dapat uang mengalir dan kehormatan. Banyak tokoh pejabat militer dan sipil, menteri hingga Wakil Presiden “terpaksa ” datang menemuinya untuk wawancara. Dia buat SOP itu untuk medianya.

Silahkan Anda mengatakan medianya bukan media pers. DC bukan wartawan. Tetapi yang menonton produknya jutaan. Riel jutaan. Terukur. Dia toh tak pernah mengeklaim Podcastnya adalah media pers. Dia tidak juga mengaku sebagai wartawan. Tapi fungsinya, sesuai tupoksi wartawan dalam UU Pers. Ini juga wajib diketahui teman-teman, informasi itu bukan milik wartawan tapi milik rakyat. Maka di dalam Pasal 17 UU Pers 40/1999 ada Bab Peran Serta Masyarakat, yang mengakomodasi orang- orang seperti DC dan netizen pada umumnya.  Karena kita bisa menyaksikan beberapa peristiwa, besar, dan penting secara Nasional, netizen yang angkat pertama kali, baru menyusul media mainstream. Kasus Wadas, sebagai contoh terbaru. Juga ketika Presiden Jokowi bikin kerumunan di Sumatera Utara awal Februari. Padahal, kepala negara baru sehari sebelumnya mengimbau masyarakat jangan keluar rumah kalau tidak penting. Imbauan itu terkait melonjaknya kasus virus Covid19. Itu netizen yang angkat pertama. Netizen membuat semua pejabat sadar. Tidak ada satu jengkal pun tempat dibumi yang tidak punya mata dan telinga. Saya kira itu juga yang membuat masyarakat berpaling perhatiannya menkonsumsi berita dari media mainstream. Hati-hati. Anda tidak bisa melarang atau membunuh mereka.

Apakah keberadaan platform eksternal merugikan atau justru menguntungkan bisnis?

Kita jangan menyangkal, pernah satu kurun, mungkin juga sampai sekarang, menguntungkan. Platform itu memudahkan media kita diakses oleh pembaca dan pemirsa. Di Indonesia saja ada 200 juta orang yang sudah terhubung dengan internet. Artinya pasar sangat luas. Artinya netizen akan semakin berjaya. Artinya, sebagai wartawan, kita juga punya halaman seluas samudera untuk berkarya di media sosial.

Ayolah cepat  berubah berdaptasi dengan kaidah- kaidah digital. Dunia bergegas. Indonesia bergegas. Itu bukan dunia maya sepenuhnya. Nyata : sudah banyak yang sukses. Kita baru saja ribut,rumah Raffi Ahmad dipasangi mesin ATM. Begitulah adab orang sukses. Ayo kejar pencapaian itu. Jangan baru saja memulai bisnis di era digital, langsung mau sukses kaya Om Liem, Eka Cipta, Hari Tanoe, Chairul Tanjung. Dalam seminar di HPN 2022 di Kendari, Chairul Tanjung pun berseru : pers harus mandiri!

Kemajuan pesat teknologi informasi belum melahirkan aturan yang bisa mengintervensi pasar. Pasar terlalu kuat untuk ditaklukkan apalagi Publisher Right yang tingkatannya Perpres. (*)

Editor: DAD

Menikmati Penerbangan 25 Jam Jakarta-New York, Dua Kali Matahari Terbit, Dua Kali Tenggelam

KEMPALAN: Setelah menempuh perjalanan 14 jam 40 menit dari Doha, Qatar, pesawat berbadan lebar Qatar Airways, QR 705, mendarat mulus di bandara John F Kennedy (JFK), New York City, Amerika Serikat. Tepatnya, Jumat (3/2) malam pukul 22.40 waktu setempat. Atau, Sabtu (4/2) pukul 10.40 WIB. Itu berarti perjalanan Jakarta – New York menelan waktu sekitar 25 jam.

Sebelumnya, pesawat Qatar QR 959 yang menerbangkan kami ke Doha lepas landas Jumat (3/2) pagi pukul 08.45 WIB dari Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan ditempuh 8 jam, dan dua jam transit di Hamad International Airport Doha, Qatar, untuk ganti pesawat.

Inilah untuk pertama kali perjalanan saya menelan waktu selama itu, setelah masa pandemi. Sebelum ini, ” latihannya” hanya ke Singapura, Kuala Lumpur, dan paling jauh Melbourne, Australia, yang waktu tempuhnya “hanya ” 7 jam.

Persoalannya, pandemi belum benar-benar reda. Di Indonesia, Presiden Jokowi baru mencabut PPKM (Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan tetap disarankan menaati protokol kesehatan. Begitu pun dengan Presiden AS Joe Biden baru akan mencabut aturan Covid19 di AS bulan Mei yang akan datang.

Dalam urusan ledakan kasus Covid19 negeri Paman Sam kampiunnya. Penularan mencapai 102 juta kasus dan menelan korban 1,1 juta jiwa meninggal. Malah, hingga 3 Februari, penularan Covid19 di AS masih 64.375 kasus. Secara harian dalam seminggu, rerata 44.255 kasus. Di New York sendiri selama pandemi tercatat 3.2 juta kasus, 44.765 yang meninggal. Sampai 3 Februari masih ada 2.192, kasus harian rerata 2.096.

Maka, perjalanan ke AS ini memang harus ekstra waspada. Selain menaati protokol kesehatan tadi, tentu wajib memperbanyak doa.

Kunjungan ke New York kali ini “diprovokasi” putra kami dr Yassin Mohammad dan istrinya, dr Abigail Audy yang memimpin Klinik Keluarga Indonesia, Bamed. Klinik Bamed mensupport Kami., salah satu dari jenama (brand fesyen) Indonesia yang akan tampil di New York Fashion Week yang berlangsung 9-14 Februari.

Bersama Imam Shamsi Ali (kiri)

Kami. membawa koleksi Charaka yang terinspirasi dari kekayaan lokal, yaitu Kain Tapis Lampung. Pekan Mode New York merupakan pagelaran pekan mode yang diselenggarakan pada bulan Februari dan September setiap tahunnya di New York City, Amerika Serikat. Pekan mode ini merupakan salah satu dari “empat besar” dunia (bersama dengan Paris, London, dan Milan).

Tiga sekawan
Kami. dimotori oleh tiga sekawan sejak SMA, yaitu Istafiana Candarini, Nadya Karina, dan Afina Candarini kemudian meminta dukungan Bamed. Mereka meyakini NYFW merupakan panggung efektif untuk memasarkan produk busana Muslim ke dunia internasional. Point ini yang memprovokasi : Meletakkan Busana Muslim dalam peta mode dunia. Ideal sekali. Memang butuh support berbagai pihak.

Seat saya di pesawat beruntung flatbed, berfungsi tempat tidur sekaligus. Kebetulan hari itu deretan kiri kanan banyak kosong, sehingga selain berjarak bisa cepat tidur pulas. Dari Doha- New York lebih lapang lagi, Qatar menyediakan seat selain flatbed juga pakai pintu segala, yang menjamin nyaman tidur selama penerbangan. Sama sekali tidak merasakan guncangan. Hal lain yang patut diapresiasi : tepat waktu dan keramahtamahan awak kabinnya melayani. Wajar Qatar Airways mengantongi medali tujuh kali berturut sebagai maskapai terbaik dunia.

Hampir seluruh negara di dunia memang menganggap pandemi telah berakhir. Diukur dari penurunan jumlah kasus yang cukup signifikan dan secara kualitatif tidak lagi berdampak buruk. Tapi tetap saja harus tahu diri. Saat check in di Bandara Soekarno Hatta, petugas Qatar Airways pun tetap memeriksa riwayat vaksinasi penumpang.

Musim dingin

Ini juga kali pertama saya masuk Amerika pada saat musim dingin ( winter). Sabtu (4/2) pagi saat tiba di New York, saya mencoba test tingkat kedinginan dengan keluar hotel. Dinginnya ternyata masih menusuk. Sinar matahari memang cerah namun tidak bisa menghalau hawa dingin. Padahal, pakaian yang dikenakan sudah berlapis – lapis. Mulai dari long john, sweater sampai jacket/ coat. Angin yang sesekali bertiup kencang membuat kulit wajah terasa kebas. Maklum saja cuaca minus 14 derajat celcius.

Saya pertama kali ke negeri Paman Sam tahun 1991. Tujuan Los Angeles, California. Waktu itu bersama Prof Salim Said, tokoh pers Rosihan Anwar, dan wartawan / redaktur kebudayaan Harian Pos Kota, Dimas Supriyanto ditugaskan pemerintah mengawal film produksi Nasional ” Bibir Mer” karya sineas Arifin C Noer yang ikut berkompetisi di seksi film berbahasa asing di Piala Oscar.

Resto Thailand “Nur” New York menyediakan makanan halal

Di AS masuk musim semi. Tidak serepot sekarang menyiapkan perbekalan baju dingin. Begitu juga dengan dua kunjungan berikutnya. Seperti saat ke Hawai menghadiri pernikahan putri Raja Sinetron pasangan Raam – Raakhe Punjabi tahun 2011. Juga musim semi. Acara perkawinannya saja di alam terbuka di pantai Hawai.

Kunjungan berikutnya pada tahun 2013. Karena musim semi kami leluasa jalan- jalan ke belasan negara bagian AS di Pantai Timur. Lalu terbang 6 jam ke Los Angeles negara bagian AS di Pantai Barat.

Dua kali matahari terbit dan terbenam

Masih lekat dalam ingatan trip di tahun 1991 sangat mengesankan karena memiliki daya tarik sendiri. Waktu itu kami menumpang pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta- Denpasar- Biak – Honolulu – Los Angeles. Rute Garuda ini istimewa karena selama penerbangan kita menikmati fantasi dua kali matahari terbit dan dua kali matahari terbenam. Pesawat Garuda juga masih menyediakan beberapa kursi smoking area. Meskipun duduk di kursi ekonomi yang sempit dan kaku, dengan penerbangan 24 jam tetap enjoy karena boleh merokok. Sayang rute itu sudah lama stop.

Bersama 7 Brand Indonesia

Kembali ke New York Fashion Week. Kami. merupakan satu dari 7 brand fesyen Indonesia yang akan tampil di New York Fashion Week. Keberangkatan 7 jenama Indonesia itu mendapat sokongan resmi pemerintah. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan awal minggu melepas keberangkatan 7 jenama Indonesia itu. Yakni : Kami., Buttonscarves, Zeta Privé, AM by Anggiasari, Lenny Hartono, Nada Puspita, dan Ayu Dyah Andari x BT Batik Trusmi.

Tak cuma itu, Mendag pun menugaskan khusus Sekjen Kemendag, Suhanto, untuk mengawal langsung misi meletakkan produk Indonesia untuk merintis jalan jenama Indonesia diperhitungkan di peta fesyen dunia.

Di hari pertama di New York saya manfaatkan kesempatan berkunjung ke Masjid Al Hikmah di daerah Queens bersilaturahmi dengan Imam Shamsi Ali, pengasuh masjid itu. Setelah itu mengunjungi Masjid Nurul Amin Mukminin yang hari itu mengadakan kajian agama bersama Ustadz Arifin Jayadiningrat diikuti puluhan jamaah. Saya bersilaturahmi dengan pemilik dan pengasuh masjid itu, Amir Samaila dan Syaiful Hamid.

Shamsi, Amir, dan Syaiful kebetulan ketiganya asal Sulawesi Selatan. Semula ketiganya merupakan pengasuh Masjid Al Hikmah. Kemudian mengembangkan pendirian masjid di banyak tempat di New York. Mereka itulah antara lain yang berjasa mengenalkan ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin di masyarakat New York yang majemuk. Semoga misi Kami. mengenalkan busana Muslim menambah syiar Islam di negeri Paman Sam. (*)

Editor: DAD

In Memoriam Lieus Sungkharisma: Perginya Sang Aktivis Tanpa Jeda

CATATAN: Ilham Bintang

KEMPALAN: Saya terakhir bertemu aktivis tanpa jeda ini 5 Oktober lalu. Kami sama-sama menghadiri diskusi politik yang diselenggarakan media portal Inilah.com di sebuah Cafe di Blok M Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pembawa acara talkshow itu Rahma Sarita menampilkan pembicara utama Eep Saefullah Fatah dan Rocky Gerung, antara lain. Saya dan Lieus juga diminta Rahma sebagai penanggap.

Selesai diskusi kami melanjutkan kongkow lepas kangen sambil menikmati kopi dan penganan yang dihidangkan tuan rumah, wartawan senior Muchlis Hasyim. Berbeda dengan penampilan umumnya di depan publik, hari itu Lieus lebih banyak tertawa lepas. Dokumentasi foto hari itu memperlihatkan suasana gembira tersebut.

Aktivis Asli

Lieus Sungkharisma asli aktivis tanpa jeda. Paling tidak sejak kami berkenalan pertengahan tahun 80-an posisinya tetap seperti apa adanya sekarang. Momen perkenalan kami waktu Lieus bersama Erros Djarot gencar mengkritisi dugaan praktik monopoli dunia perfilman di Tanah Air.

Selasa (24/1) malam datang kabar duka mengenai Lieus yang mendapat serangan jantung.
Lieus sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Pondok Indah, Jalan Boulevard Bintaro Jaya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, namun jiwanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia dalam usia 63 tahun.

Sebagai aktivis Lieus sangat menonjol bukan hanya karena sikap dan keberaniannya frontal menentang praktek penyimpangan penguasa. Tetapi juga karena ia keturunan Tionghoa. Jarang, kalau tak mau dikatakan tidak ada sama sekali aktivis Tionghoa secemerlang dia dari etnik Tionghoa. Dia bahkan lebih islami dibandingkan orang Islam. Tahun lalu ketika mengetahui ada penentangan pembangunan masjid dari kalangan etnik Tionghoa di kompleks perumahan kami, dia langsung terjun ke lapangan. Lieus menghujat penentang sebagai pihak yang tidak tahu diri dan intoleran. Saat bertemu di acara diskusi Inilah.com air mukanya berseri mengucapkan selamat atas keberhasilan pembangunan Masjid At Tabayyun di komplek Taman Villa Meruya.

Foto bersama setelah acara talk show

Lieus selalu tampil menyuarakan kebenaran di hampir berbagai kasus ketimpangan di negeri ini. Baik kesenjangan sosial, ekonomi, politik, dan penegakan hukum. Ia sudah berkali-kali merasakan penangkapan dan penahanan oleh pihak yang berwajib. Dari rezim pemerintahan Soeharto hingga pemerintahan Jokowi. Namun itu tidak membuatnya berhenti. Kelak yang betul -betul membuatnya bisa berhenti hanya Tuhan melalui serangan jantung semalam.

Coverstory Tabloid Cek&Ricek

Tabloid Cek&Ricek dengan cover story tentang Hartati Murdaya baru beredar ketika saya mendapat informasi Lieus mengadu ke Polda Metro Jaya dengan membawa Tabloid C&R edisi itu. Saya berpikir Lieus mungkin memprotes isu utama mengenai dugaan skandal asmara pengusaha tajir yang juga merupakan tokoh umat Budha di Tanah Air. Maklum, Lieus juga tokoh umat Budha. Saya pertama kali mengenalnya sewaktu dia menjabat sebagai Ketua Umum Gemabuddhi -organisasi generasi muda Budhis pada tahun 1985.

Saya mengontak Lieus. Tawanya pecah di balik ponsel. “Terbalik, Boss,” katanya disertai suara derai tawa. Lieus kemudian bertandang ke kantor redaksi.

Benar. Duduk perkaranya terbalik. Lieus ke Polda justru untuk melaporkan Hartati Murdaya atas dugaan telah mencemarkan nama kalangan umat Budha di Indonesia.Tabloid C&R dibawa ke kantor polisi, sebagai salah satu bukti untuk mendukung pengaduannya. Ada banyak lagi alasan yang mendasari ia mengadukan Hartati Murdaya, seperti yang diceritakan ketika bertandang di kantor redaksi hingga berjam-jam.

Lieus Sungkharisma (Nama Tionghoa: Li Xue Xiung) lahir 11 Oktober 1959. Menurut catatan redaksi, Lieus pernah menjadi Ketua Umum Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI); Wakil Bendahara Depinas SOKSI (Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) periode 1986-1991; Ketua DPP AMPI (Angkatan Muda Pembaruan Indonesia) dan DPP KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia); Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabuddhi) pada tahun 1985. Ia juga pernah menjadi Ketua Perhimpunan Pengusaha Tionghoa DKI Jakarta dan Ketua Umum Multi Culture Society, sekaligus Wakil Presiden The World Peace Committee. Lieus mengelola tabloid bernama Naga Post dan belakangan punya Podcast, saluran digital untuk menyampaikan pendapat dan kritik merespons ketimpangan.

Lieus mengaku sebagai pendukung Joko Widodo pada pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, namun kemudian menjadi pendukung Prabowo Subianto pada pemilihan umum Presiden Indonesia 2019. Lalu menjadi pendukung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni pada pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2017. Selain itu, Ia adalah salah satu dari pendukung Jusuf Kalla-Wiranto pada Pemilihan umum Presiden Indonesia 2009. Pernah dalam suatu kesempatan saya tanya, mengapa dia tampak menyempal sendiri dari kebanyakan turunan Tionghoa yang diam dan lebih memilih menekuni dunia usaha saja. Sama sekali seperti haram terlibat di dunia politik apalagi menjadi aktivis seperti Lieus? Jawabnya singkat saja.” Sebab hidup bukan hanya untuk mengurus diri sendiri saja dan keluarga. Ada banyak lagi kewajiban bagi orang yang diberi hidup,” katanya.

Selamat jalan kawan. Istirahatlah dengan tenang. (*)

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.