Perang AS-Iran, tak menghasilkan apa pun bagi AS. Keikutsertaan AS, berdasarkan provokasi Israel, tidak pula menguntungkan secara geopolitik. Secara tak sengaja, perang ini telah menguntungkan Iran di mata sekutu Teluk AS (GCC).
Oleh: Sabpri Piliang
KEMPALAN: Ancaman ‘apokaliptik’ (kiamat) Donald Trump, telah menghasilkan perdamaian semu. Penerimaan Iran atas ancaman penghancuran peradaban, pun semu. AS dan Iran, telah bertindak semu.
Trump mengambil konteks sosiologis yang berkaitan dengan sebuah aliran, demi memaksa Iran. Tak ada cara lain! Trump kehilangan cara normal, agar Iran seolah di posisi terancam dan kalah. Berhasil? Tidak!
Gencatan senjata, bukanlah suatu kemenangan. Karena Iran bukanlah menyerah. Dalam matematik peperangan, dengan skala itu, mestinya Iran sudah menyerah. “Bargaining” 10 poin, seharusnya tak bisa ditawarkan oleh pihak yang kalah. Trump setuju membicarakannya.
Trump sesungguhnya telah goyah, ketika peperangan memasuki minggu ke-3. Trump juga merasa limbung, ketika jet tempur canggih: F-35 ditembak (namun selamat), jet F-15E Eagle, KC-135, dua Black Hawk, dan dua Hercules C-130.
Tanda Iran tidak kalah (meski kehilangan pemimpin), makin terlihat pada awal minggu ke-6 peperangan. Dikejar ‘deadline’ 3 November 2026 (Pemilu Sela), serta ketiadaan penopang NATO (sekutu Eropa), dan begitu kuatnya cengkeraman Selat Hormuz. Iran bisa mengatakan, AS menghitung serius mereka.
Menghancurkan peradaban (apokaliptik), mengancam infrastruktur sipil Iran, cara Trump memberi rasa khawatir terhadap tombol nuklir. Narasi “Drunken Master” Trump, menimbulkan konklusi inklusif, dia telah kehilangan akal. Iran tidak juga menyerah!
Membaca ancaman demi ancaman fluktuatif, tersirat Trump sesungguhnya tidak ingin melanjutkan perang. Berbanding terbalik dengan ‘sekondan’nya (Israel), yang ingin terus berperang. Israel tak ingin berhenti berperang, dengan catatan AS terus mendampinginya.
Donald Trump sangat membutuhkan penopang untuk menghindari kesan lemah terhadapnya. Sehingga ancaman apokaliptik, menjadi “obat manjur”, memaksa Iran setuju berunding (gencatan senjata dua minggu).
Berulangkali tawaran gencatan senjata, entah ide mediator atau ide AS sendiri. Mulai gencatan senjata 45 hari, Iran selalu menolak. Iran ingin gencatan dan perdamaian permanen pengakhiran perang, yang tegas ditolak AS.
Setujunya Trump membicarakan 10 permintaan sulit Iran. Menjadi variabel untuk memperkuat asumsi bahwa Trump memang tengah tertekan dan galau. Poin yang diajukan Iran, merupakan titik berbahaya bagi masa depan Israel. Tapi, mengapa Trump mau menegonya?
AS berlari, atas gertakan! Iran berjalan, atas empiris “mengusir” AS – bonekanya (Shah Reza Pahlevi) tahun 1979. Rezim teokrasi Iran paham, gertakan ‘apokaliptik’ (kiamat dan eliminasi peradaban Iran), tidak berlaku karena hal yang sama pernah terjadi 47 tahun lalu.
Kemenangan ‘semu’ (sementara), Iran boleh berasumsi begitu. Meski Trump juga berasumsi sama, AS berhasil menggertak apokaliptik Iran, yang membawanya pada gencatan senjata.
“Garis merah”, tawaran Iran: cabut sanksi primer-sekunder, kontrol ‘sustainable’ Iran atas Selat Hormuz, penarikan militer AS dari Timur Tengah, akhiri serangan terhadap Iran dan sekutunya, pelepasan aset Iran yang dibekukan, resolusi DK PBB harus mengikat kesepakatan apa pun.
Anatomi gertakan ‘apokaliptik’ Trump versus psikologi ‘distingtif’ (istimewa) dari negosiasi Iran, menjadi fitur yang tidak mudah untuk di-iya-kan oleh Trump. Meski skeptis dengan karakter transaksional dari Trump, setidaknya Iran telah membuat cemas Israel.
Poin pelepasan aset, akan membawa Iran pada kekuatan kapital untuk berperang lagi dengan Israel. Penarikan militer AS dari Timteng, sama saja membiarkan Israel menjadi sasaran rudal Iran tanpa pembelaan cepat AS terhadapnya.
Paling fatal adalah menyetujui Iran melakukan kontrol berkelanjutan terhadap Selat Hormuz. Bagi Israel, idealnya Iran menyerah dan kemudian menyerahkan kontrol Selat Hormuz terhadap AS. Kenyataannya, AS setuju bernegosiasi dengan “garis merah” itu.
Tak ada yang membuat konklusi, Iran telah kalah. Strategi gencatan senjata Iran, merupakan keyakinan situasional sekadar umpan, untuk menguji konsistensi seorang penggertak (Trump).
Mengintimidasi Iran, agar membuka Selat Hormuz, Trump dapat terbebas dari pilihan pengerahan pasukan darat. Notabene, peperangan tidak akan berakhir hingga melewati tenggat Pemilu Sela AS (3 November), yang mengancam kekalahan Partai Republik. Selanjutnya “impeachment” Trump.
Perang AS-Iran, prinsipnya telah membuat Trump gelisah. Namun, Trump adalah sosok yang mampu menjalankan apa yang disebut manajemen persepsi.
Menggertak Iran secara ‘apokaliptik’, Trump berakting, untuk mendapatkan efek yang dia kehendaki. Apa? Trump menutupi ketidakyakinannya untuk menang, terutama setelah kematian demi kematian elite IRGC, tapi perang makin berlarut-larut.
Gencatan senjata AS-Iran, diyakini sebagai upaya menyelamatkan muka (Trump), dari keinginannya untuk mundur dari peperangan. Bahkan, Trump dianggap telah menerima nasihat yang salah sehingga menerima proposal Iran (The Guardian, 9 April 2026).
Kekalahan Strategis
Terlepas dari semua gertakan ‘apokaliptik’ Trump, rezim Iran hingga kini tetap utuh.
Masih memiliki uranium (unsur nuklir) yang sangat diperkaya, mengendalikan Selat Hormuz, dan memberikan proposal gencatan senjata “bergaris merah” kepada AS.
Perang AS-Iran, tak menghasilkan apa pun bagi AS. Keikutsertaan AS, berdasarkan provokasi Israel, tidak pula menguntungkan secara geopolitik. Secara tak sengaja, perang ini telah menguntungkan Iran di mata sekutu Teluk AS (GCC).
Secara gradual, negara GCC bisa meminta jaminan ‘security’ dari Iran, sekaligus menjaga jarak dari AS. Kegagalan AS menumbangkan rezim Mullah Iran, memberi konklusi pada negara Teluk, AS tidak absolut mampu melakukan apa yang AS inginkan.
Seandainya AS berhasil menumbangkan rezim teokrasi, seperti yang diinginkan Israel, Trump akan mendapat “karpet merah”, dan kekuatan AS menjadi jaminan keamanan Teluk untuk jangka waktu yang sangat panjang.
Israel yang dikejar target menghapus Hezbollah di Lebanon, kini menjadi faktor negatif untuk menggagalkan rancangan gencatan senjata dua minggu AS-Iran
Menggempur masif Lebanon, Israel seperti ingin menggagalkan rancangan yang telah disusun rapi oleh: Pakistan-Mesir-Turki. Pernyataan Wapres AS JD Vance, Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, akan memancing Iran kembali menutup Selat Hormuz.
Terlebih, pernyataan Sekretaris Pers Gedung Putih (Karoline Leavitt) yang telah menepis tentang poin-poin yang diajukan Iran. Leavitt mengatakan, rencana 10 poin Iran, benar-benar dibuang ke tempat sampah oleh Trump (The Guardian).
Tipis prakarsa gencatan senjata akan terwujud, lewat pertemuan Islamabad (Sabtu, 11 April 2026). Faktor Israel, tidak akan pernah membuat Trump sungguh-sungguh maju ke meja perundingan. Trump gagal mengendalikan “kegilaan” Israel.
Tapi, siapa tahu ada keajaiban. Delegasi Iran dan AS jadi bertemu di Islamabad. Bila, Trump mampu memaksa Israel memasukkan Lebanon dalam kesepakatan. Pertanda, Trump ingin mengakhiri perang.
*) Sabpri Piliang, Pengamat Timur Tengah

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi