Sabtu, 18 April 2026, pukul : 22:54 WIB
Surabaya
--°C

Bangsa yang Ditempa Api Sejarah: Iran dan Ingatan Panjang Sebuah Peradaban

Maka jika ada pihak yang merasa gagal memahami langkah-langkah mereka, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya strategi diplomasi, tetapi juga cara membaca sejarah.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Jauh sebelum dunia mengenal peristiwa yang kita sebut sebagai Revolusi Islam Iran, peradaban Persia sudah lebih dulu menapaki gelanggang sejarah sebagai bangsa yang akrab dengan dentuman perang dan perdebatan ide.

Mereka bukan pemain baru yang muncul tiba-tiba di panggung geopolitik. Dari lembaran kuno hingga abad modern, bangsa ini telah berkali-kali diuji oleh api konflik dan tekanan kekuasaan.

Sejarah mencatat, pada masa awal Islam, seorang lelaki Persia bernama Salman al-Farisi memainkan peran penting dalam peristiwa Perang Khandaq.

Gagasannya tentang strategi parit menjadi titik balik yang menyelamatkan Madinah dari kepungan koalisi. Itu bukan sekadar taktik militer; itu bukti bahwa kecerdasan bisa lebih tajam daripada pedang.

Bangsa ini tumbuh dari tradisi panjang ilmu pengetahuan, tata kelola negara, dan seni bertahan hidup. Mereka pernah bersitegang dengan kekaisaran besar, berganti rezim, bahkan dihantam embargo dan sanksi.

Namun seperti batu kali di sungai Brantas yang terus digerus arus, mereka tidak hancur – justru mengeras dan mengilap.

Ada warisan intelektual yang mereka jaga, dan ada pula romantika kesatria yang diilhami oleh figur-figur besar dalam sejarah Islam seperti Ali bin Abi Thalib.

Di sana, keberanian bukan hanya urusan fisik, melainkan juga keteguhan sikap. Perpaduan antara nalar dan nyali itulah yang kerap membuat mereka sulit ditebak.

Seringkali, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan juga Israel memandang Iran dengan kacamata yang sempit. Seolah-olah bangsa ini dengan memori sejarah ribuan tahun bisa ditekan hanya dengan sanksi ekonomi atau gertakan militer.

Bukankah itu seperti mencoba memadamkan kompor arang dengan meniupnya pelan? Bukannya padam, bara justru membesar.

Pertanyaannya sederhana: apakah mungkin sebuah bangsa yang pernah membangun peradaban besar dan bertahan dari berbagai badai akan runtuh hanya karena tekanan eksternal? Ataukah justru tekanan itu menjadi pupuk bagi daya tahannya?

Di Indonesia, kita mengenal pepatah “sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang”. Persia tampaknya mempraktikkan pepatah serupa dalam versi mereka sendiri. Mereka mungkin terpojok, tetapi jarang benar-benar menyerah.

Bahkan dalam keterbatasan, kreativitas mereka sering muncul. Batu bisa menjadi simbol perlawanan, seperti ketika rakyat kecil melempar ketidak-adilan dengan apa pun yang tersedia.

Di tengah riuhnya opini global dan propaganda yang berseliweran di media sosial – yang kadang lebih panas daripada komentar netizen soal harga cabai – seringkali yang luput adalah pemahaman historis.

Kita menilai hari ini tanpa membaca kemarin. Kita mengomentari strategi tanpa memahami akar budaya.

Iran, dengan segala kontroversinya, tetaplah satu bangsa dengan memori kolektif yang panjang. Mereka bukan sekadar aktor politik modern, tapi pewaris peradaban tua yang terbiasa hidup di bawah tekanan.

Mengabaikan dimensi sejarah itu sama saja seperti membaca novel dari bab terakhir lalu mengaku paham keseluruhan cerita.

Maka jika ada pihak yang merasa gagal memahami langkah-langkah mereka, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya strategi diplomasi, tetapi juga cara membaca sejarah.

Karena bangsa yang ditempa ribuan tahun tidak mudah ditebak arahnya, apalagi dipaksa menyerah hanya oleh suara keras dari luar.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.