Tangan di Atas, Tangan di Bawah

waktu baca 3 menit
Ilustrasi Dalang (*)

KEMPALAN: Ini berkaitan dengan cerita wayang, dalam dimensi wayang kulit. Sebagaimana cerita wayang yang paling sering mengangkat episoda-episoda Pandawa-Kurawa, maka setidaknya demikianlah inti cerita di bawah ini, kendati dalam versi yang unik.

Suatu hari seorang pelukis terkenal yang sering bolak-balik Jakarta-Surabaya bercerita tentang wayang dengan semangatnya. Katanya, wayang itu sarat filosofi yang bermuara pada kontradiksi baik dan buruk. Golongan baik dipresentasikan oleh Pandawa. Sedangkan golongan buruk oleh Kurawa.

Dalam jejer wayang kulit misalnya, kata pelukis ini, Kurawa diletakkan di bagian kiri layar, sedangkan Pandawa di bagian kanan. Di bagian kiri layar itu, terutama di deretan paling belakang, berjajar tokoh-tokoh berwajah sangar dan berpostur raksasa. Sementara di sebelah kanan, golongan Pandawa, berjajar para ksatria dan begawan yang berpostur gagah, berwajah bagus, dan santun.

Lanjut pelukis tadi, pada gambaran ksatria Pandawa tersimbolkan sosok yang senantiasa memberi, suka beramal, pembela keadilan dan kebenaran. Oleh karena itu posisi tangan mereka selalu di atas dengan bentuk jari-jari melengkung ke bawah seperti baru memberi sesuatu. Atau seperti bentuk telapak tangan yang menangkup, melengkung ke bawah.

Sedangkan golongan kiri, di bagian belakang itu, yang sebagian digambarkan dengan wajah-wajah beringas, licik dan beberapa berpostur raksasa, posisi telapak tangan mereka terbuka, mlumah, menengadah seperti gambaran orang yang meminta-minta.

Sebagaimana kita ketahui, orang yang meminta-minta termasuk golongan paling rendah pada strata sosial masyarakat. Ketika cerita pelukis ini saya teruskan kepada seorang teman yang pemimpin redaksi (pemred) sebuah koran harian dari grup Jawa Pos sekitar 30 tahun lalu, sang pemred yang juga ketua organisasi kepemudaan terbesar di Jatim ini, sesaat diam seperti merenung.

Lantas tiba-tiba disusul tawanya yang lepas meledak, dan diakhiri dengan kalimat: “Ya, ya, ya…, tapi itu kan wayang. Dalam realitas sekarang, malah kebalikannya. Mirip paradoks. Justru para ksatria yang digambarkan telapak tangannya dalam posisi menangkup ke bawah itu yang minta-minta.” Lho ?!

Kemudian, lanjutnya: “Dan posisi tangan para raksasa yang telentang seperti minta-minta itu justru dipenuhi harta-benda berlimpah-ruah. Sementara, telapak tangan para ksatria yang posisinya menangkup seolah habis memberi sesuatu, sesungguhnya gambaran baru saja memunguti sesuatu –cek dan uang– dari telapak tangan para raksasa yang telentang. Bukan gambaran sehabis memberi !”

Para raksasa, kata teman saya yang pemred itu, adalah simbol para konglomerat hitam. Sementara para ksatria dengan tangan di atas adalah gambaran para birokrat korup atau politikus busuk, yang siap mengambili cek miliaran rupiah dan gepokan dollar dari para raksasa konglomerat hitam. “Zaman telah berbalik! Ha-ha-ha…!”

Ada-ada saja, mas pemred ini…he-he-he. Kalau yang beliau maksud tadi, itu mah Pandawa abal-abal…

Amang Mawardi, penulis, tinggal di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *