Kisah ‘ART’ di Era Covid-19

waktu baca 5 menit
Ilustrasi ART (*)

KEMPALAN: Kami punya tiga anak, yang sulung laki-laki, yang nomor dua dan bungsu masing-masing perempuan. 

Yang lelaki sudah berumah-tangga, punya dua anak  laki-laki dan perempuan, tinggal di Sidoarjo. 

Yang kedua masih lajang, dan yang ketiga sudah berkeluarga punya anak satu. 

Yang nomor dua bekerja dan ditempatkan di kota yang jaraknya dari Surabaya sekitar 45 kilometer. 

Sedangkan yang bungsu kerjanya di Surabaya yang jaraknya relatif dekat dari rumah, sekitar 6 kilometer. Saat ini, karena si bungsu dan suami bekerja, cucu dari anak ketiga itu diasuh oleh ART dimana saya dan istri ikut membantu mengawasi dan mengasuh (terutama saat pukul 16.30 – 18.00, mengingat ART pengasuh sudah pulang sejak 16.30, sedangkan bapak – ibu cucu saya tersebut baru pulang kerja sekitar pukul 18.00). 

Di samping ART pengasuh cucu, sehari-hari kami dibantu ART ‘part time’. 

Waktu anak-anak masih SD dan TK, oleh sobat saya wartawan Yamin Akhmad saya pernah dibilang: “Kamu banyak duit ya, kok pembantu (rumah tangga) sampai dua orang ?!”. 

Ya, dulu kami punya pembantu dua orang, yang seringkali berganti-ganti. Kami relatif lama mempekerjakan dua orang pembantu yang menginap. 

Lantas saya jawab: “Bukan banyak duit, tapi ngepas. Masalahnya, kalau dengan pembantu satu, rasanya gak ngatasi. Sebab, saya dan istri sama-sama bekerja.”

Dua pembantu kami yang terakhir relatif awet. Masing-masing ikut kami sekitar 10 tahun. Mereka kakak beradik. Ketika mengawali ikut kami, masih sangat muda. Baru lulus SD. 

Dan masing-masing keluar karena dijodohkan orang-tua. Mula-mula kakaknya, setahun kemudian adiknya menyusul menikah.

Karena sudah seperti keluarga sendiri, sesekali (dulu) kalau pas nengok mertua ke Magelang, menyempatkan berkunjung ke rumah mereka di Mojowarno. Atau seperti dua tahun lalu, saat ada reuni hajian di Jombang, saya dan istri sempatkan mampir.

Sesudah dua kakak beradik itu keluar, pembantu kami tidak seawet mereka. Paling lama tiga tahun.

Saat anak-anak sudah mulai kuliah, mereka lebih bisa mengatasi urusan diri sendiri dan memberesi masing-masing kamarnya, maka kami putuskan cuma punya satu pembantu.

Dan pada akhirnya kami menggunakan jasa pembantu ‘part time’.

Pembantu ‘part time’ kami yang terakhir lumayan awet. Lebih dari 8 tahun. Tugasnya nyapu-ngepel, nyuci-setrika, dan ‘korah-korah’ (mencuci gelas-piring dan peralatan dapur). Rata-rata bekerja 2,5 jam setiap kali datang.

Dulu kami dapat giliran kedua, tapi sejak lima tahun lalu dapat giliran pertama, dimulai pukul 07.30 hingga 10.00, karena ada seorang dari satu kompleks tapi lain blok yang lantas mengerjakan sendiri urusan beres-beres rumahnya.

Pembantu ‘part time’ kami ini rata-rata mengerjakan empat rumah dalam sehari. Kalau misal ada seorang yang tidak menggunakan tenaganya lagi, langsung ada yang mengisi. Sehingga rerata sehari tetap empat rumah yang didatanginya.

Setelah seminggu diberlakukan ‘social distancing’, pembantu kami ini kelihatan sedih. Dan itu berlangsung berhari-hari. 

Biasanya kalau pas baru datang dan meletakkan sepedanya di teras dan jika kebetulan saya juga ada di teras untuk menyirami tanaman, St. (initialnya) selalu memberi salam dengan ramah dan sopan. Lantas ‘njujug’ wastafel ‘korah-korah’. Atau sambil ngepel ngajak cerita istri saya tentang, misal, kejadian-kejadian unik dan lucu di sekitar tempat  kosnya. Agak ngegosip, gitu … wkwkwk…

Tapi saat itu, tidak. Diam. Sedih. Seperti gelisah. Terlihat tidak bercahaya wajahnya.

Meski usianya baru 32  tahun (waktu itu) tapi sudah punya cucu satu. Asal Pasuruan. Logatnya ‘Arudam’, tapi katanya bukan dari suku ‘Arudam’. “Saya asli Jember, Pak,” ujarnya pada suatu hari kepada saya. 

Sementara suaminya adalah seorang tukang loak. Rambutnya di-‘punk rock’. Sepeda motornya sport. Sosoknya ramah dan santun. Sesekali saya mintai tolong untuk benahi atap yang bocor, atau ngecat sebagian tembok rumah yang mulai terlihat kusam.

Mengapa berhari-hari St. terlihat sedih? Dari nyonya, saya peroleh info kalau dua rumah tangga yang dipekerjainya, memberhentikan St. Salah satu beralasan, karena putri pemilik rumah lebih banyak WFH (‘work from home’), maka pekerjaan beres-beres rumah diambil-alih. 

Tentang yang satu lagi, tidak jelas karena apa St. diberhentikan. Risiko tertular Covid-19? Mungkin saja. Karena St. dan suami kan kos, tidak tinggal serumah. Jadi dimungkinkan tidak diketahui kondisi kesehatan lingkungan tempat kosnya, parah atau tidaknya. 

Oo.. jadi karena itu kenapa St. berhari-hari kelihatan sedih, saya membatin. Mungkin yang jadi pikirannya, sudah ‘income’  berkurang, bakal hilang harapan dapat THR dari pemilik dua rumah yang memberhentikannya. Mungkin ya.

Apalagi ada seorang tetangga kami yang menegurnya: “Lho, kok masih kerja?” Teguran ini pada akhirnya memperlemah mentalnya. Soal ditegur tetangga kami itu, baru diceritakan St. belakangan ini. Ya, mayoritas ART ‘part time’ di kompleks kami diberhentikan pemilik rumah tangga, karena pengaruh gejolak Covid-19. 

Saya dan istri sepakat untuk terus mempekerjakan St. Di samping kami butuh tenaganya, juga tidak tega kalau sampai memberhentikan, kasihan nasibnya. Dengan catatan, sampai teras rumah kami, St. wajib cuci tangan dengan sabun. Demikian juga kaki harus dicuci dengan air selang yang ada di teras itu, dan masker wajib dikenakan terus meski di dalam rumah.

Jadi hampir dua minggu jelang lebaran saat ‘Era Covid’ dulu, St. hanya bertugas di dua rumah. Dan yang lebih malang lagi, pemilik rumah yang masih mempekerjakannya, seorang janda yang hidup sendirian, tahun itu tidak memberikan THR, karena uang pensiun habis untuk berobat.

Selain gaji penuh dan dapat THR sekali gaji dari kami, dari dua anak kami masing-masing memberi persenan lebaran Rp 100.000. Dari kami juga, masih ada tambahan sepaket  sembako.

Setiap bulan, dulu saat Covid-19, ART ‘part time’ itu kami gaji Rp 625.000. Sekarang Rp. 825.000. 

Setelah Covid-19 berlalu, St. kembali bekerja di empat rumah dengan dua majikan berbeda. Hanya yang untuk satu rumah, St. kerjanya cuma dua hari sekali. 

Beberapa hari lalu saya dapat cerita dari istri bahwa dia ditunjukkan foto rumah St. di desa di Pasuruan yang baru direnovasi melalui layar HP-nya. Oia, St. ini, maaf, buta huruf. Kalau kirim pesan ke istri saya selalu dalam bentuk rekaman suara. 

“Rumahnya sebesar rumah kita, tapi bangunannya keren, Pak. Koyok (mirip) model minimalis,” cerita istri saya. 

Istri saya tersenyum, saya pun ikut tersenyum. Semoga kehidupan St. dan keluarganya senantiasa bahagia sehat semangat. 

(Amang Mawardi – penulis, tinggal di Surabaya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *