Bambang Haryo Minta Petani Sidoarjo Rawat Sungai

waktu baca 2 menit

Sidoarjo – Petani Desa Simoketawang Kecamatan wonoayu Kabupaten Sidoarjo mengeluh mengalami gagal panen lantaran aliran sungai desa itu terjadi pendangkalan akibat tertutup tumpukan sampah dan ditumbuhi tanaman liar.

Keluhan itu, disampaikan kepada Politisi Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono. Lewat koordinasi cepatnya, Ia mampu mempercepat normalisasi dan membuahkan hasil bagi para petani.

Sebagaimana sebelumnya, Perwakilan Gapoktan dan Petani Sidoketawang wadul ke Bapak Petani Sidoarjo Ir. H Bambang Haryo Soekartono (BHS). Mereka menyampaikan aspirasi terkait kondisi afour Simoketawang yang mengalami pendangkalan.

Saat berdialog bersama Gapoktan Desa Simoketawang, pada Kamis (18/1/2024), terungkap jika pendangkalan sungai sudah berlangsung bertahun-tahun dan kerap memicu gagal panen lantaran pendangkalan jadi sarang tikus. memberikan perhatiannya terhadap kondisi Pertanian di Kabupaten Sidoarjo.

“Saya kira sungai ini yang jaga harus pemerintah, untuk perawatan harus melaksanakan. Beliau (Gapoktan,Red) bisa menjaga supaya tidak ada kotoran (sampah,Red) yang dibuang ke sungai,” kata BHS, Senin (8/4) lalu.

BHS berharap pemerintah tetap melakukan perawatan minimal satu tahun sekali agar sungai tidak buntu. Hal itu dilakukan agar alisan sungai tidak buntu dan airnya dapat dialiri ke kawasan pertanian.

Keberhasilan BHS dalam mengambil terobosan multi sektoral ini diapresiasi oleh para Petani Gapoktan Desa Simoketawang. Mereka menyampaikan terima kasih kepada Bapak Petani Sidoarjo, Ir H Bambang Haryo Soekaratono (BHS) atas tuntasnya normalisasi afour Simoketawang.

“Sebelumnya kondisi sungai ini sepanjang 300 meter mengalami pendangkalan yang menyebabkan aliran air tidak lancar dan pemicu adanya hama tikus dan banjir” Kata Zainuddin.

Muhammad Zainuddin salah satu anggota Gapoktan Simoketawang mengatakan sebelumnya pendangkalan sungai afour ini dinilai kerap menjadi penyebab gagal panen. Akibat serangan hama tikus yang bersarang di gundukan tanah afur tersebut. Belum lagi saat musim hujan juga menjadi pemicu banjir bisa merusak tanaman petani.

“Kami merasa bersyukur sekali dengan keluhan yang kami sampaikan beberapa bulan yang lalu, ini responya cepat sekali terutama dari Bapak Bambang dan Pak Pri dan juga dinas terkait. Ini (normalisasi sungai,Red) jelas tidak mungkin kami lakukan dengan mayarakat petani sendirian. Kami Gapoktan dan belasan hektare sawah di area ini sekarang tak lagi khawatir banjir dan gagal panen,” ujar Zainuddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *