Ke-mbeling-an Djadi Galajapo

waktu baca 4 menit
djadi galajapo (*)

KEMPALAN: Sebelumnya saya hanya mengenal namanya, bukan pribadinya. Nama Djadi Galajapo saya ketahui karena dia salah satu  personil grup lawak Galajapo bersama Priyo dan Lutfie. Galajapo adalah akronim Gabungan Juara Lawak Jawa Pos. 

Saat itu Priyo, Djadi dan Lutfie mengikuti lomba lawak yang diselenggarakan Harian Jawa Pos sekitar pada tahun 1992 dan mereka meraih juara-juaranya. Lantas membentuk grup lawak: Galajapo. Sejak itu nama grup lawak ini makin berkibar. 

Ketika mantan Ketua PWI Pusat Sofyan Lubis meluncurkan buku pantunnya di Balai Wartawan Surabaya sekitar 15 tahun lalu, Cak Djadi tampil sebagai pembawa acara. 

Baru kali ini saya melihat langsung wajah dan “ulah”-nya, dimana saya kesankan sebagai sosok yang tangkas membawakan acara. Selain lucu, juga cerdas. 

Belakangan, 4-5 tahun setelah acara di Balai Wartawan tersebut, saya sering ketemu Cak Djadi dalam pertemuan-pertemuan  seni-budaya di Surabaya. 

Menjadi makin akrab setelah Cak Djadi hadir pada saat saya menjadi pembicara tunggal  diskusi “Dunia Kepenulisan Amang Mawardi” di Balai Pemuda yang diselenggarakan komunitas kesenian Bengkel Muda Surabaya.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Cak Djadi pada diskusi itu sering dalam ukara parikan (kalimat-kalimat berpantun) yang tangkas dan tak terduga. Sejak saat itu kami makin akrab lagi. 

Bahkan ketika Toto Sonata menulis buku bunga rampai sikap dan tindak-tunduk pribadi pelawak ini : HM Cheng Hoo Djadi Galajapo, Meniti Jalan Tasawuf saya diminta Cak Djadi sebagai  editornya. 

Dari buku rangkaian sikap dan tindak-tunduk itu, saya pun makin tahu bagaimana jalan pikiran ayah dua putri yang dilahirkan pada 8 Maret 59 tahun lalu itu. Intinya Cak Djadi adalah pribadi tanpa tedeng aling-aling dan seringkali memasuki wilayah sensitif  nyerempet-nyerempet bahaya yang lantas menimbulkan monolog batin saya: Ngono yo ngono ning ojo ngono, Cak! 

Begitulah, seringkali saya  mencoba mereduksi sikapnya untuk lebih berhati-hati, tapi Cak Djadi selalu bilang, “suara hati harus terus di- uneg-uneg-kan, Pak.” Eladalah!

Maka, setelah saya diminta untuk menulis pengantar  buku kumpulan puisi tunggal Su(djadi) Galajapo via penggiat literasi Kris Maryono : 59 Puisi, 59 Tahun  — jujur saya kaget. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana konten kumpulan puisi ini. 

Jangan-jangan  puisi-puisi karya Cak Djadi sebagaimana status-statusnya di  Facebook yang kerap kali memasuki ranah rawan dan akan bikin saya  gelisah ?! 

Setelah saya baca, ya memang begitulah. 

Gaya penulisan dan konten puisi-puisi yang jumlahnya 59 judul yang dirilis dalam rangka menandai tanggal kelahirannya itu, mengingatkan saya akan Puisi Mbeling pada tahun 1970-an yang dipelopori Remy Sylado yang dimuat di majalah Aktuil.

Bedanya ke-mbeling-an puisi-puisi di Aktuil itu mencoba memberontak terhadap nilai-nilai kemapanan orang tua yang dianggap brengsek, sedangkan puisi-puisi Cak Djadi “bertolak dari  mainstream “, terutama yang menyangkut seputar tatanan keagamaan. 

Tentu saja, ini banyak menimbulkan penyangkalan dan perdebatan. Tentang  kebenarannya -jujur- saya mencoba menghindar. Karena  saya memang tidak paham betul.

Namun, tidak semua puisi di buku ini mengarah ke hal-hal rawan.  Banyak yang berkutat pada sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang tampaknya sepele, lugu, apa adanya, justru di situlah Cak Djadi mengolah “kesufian”-nya, memasak batiniahnya, menjadi kalimat-kalimat yang dimensional, sebagaimana saya baca pada puisi berjudul: Meliana Prastianingsih (halaman 28), Markiwa (halaman 53), Ibuku Cerdas (halaman 65) dan lain sebagainya.

Saya kutip beberapa baris dari puisi berjudul Meliana Prastianingsih:

Istriku tak punya kosakata

Tapi kekuatannya luar biasa

Istriku tak bisa berpura-pura

Tapi kejujurannya istimewa

Istriku tak bisa bersandiwara

Tapi itulah pemeran sesuai titah sang sutradara

Pada puisi berjudul Markiwa yang akronim dari ‘mari kita tertawa’ Cak Djadi mencoba menertawakan diri sendiri karena kealpaan sebagai manusia. Disampaikan dengan bahasa apa adanya, penuh joke, tapi sarat otokritik. 

Sedangkan dalam puisi berjudul Ibuku Cerdas, digambarkan tentang ibunya yang kelihatan lugu, tapi sesungguhnya bijak.

Pada bait pertama puisi tersebut ditulis:

Ibuku yang cerdas senang berbagi ilmu

Tentu sambil bercanda

Agar anak-anaknya tak mudah jemu

Begitulah penggalan puisi-puisi Djadi Galajapo, yang menukik pada tataran denotatif, bukan konotatif, meski beberapa dari puisi Cak Djadi jika dibaca secara keseluruhan, judul per judul, menyiratkan dimensi konotatif, sebagaimana bisa dibaca pada puisi berjudul Para Ahli Surga (halaman 29) yang isinya cuma nama-nama penemu berkaitan dengan sains: 

James Watt

Johannes Guttenberg

C. Marconi

Alexander Graham Bell

Thomas Alfa Edison

Galileo Galilei

Dan seterusnya…

Puisi adalah ungkapan pribadi. Jadi, begitulah Cak Djadi mengungkapkan uneg-unegnya.

Amang Mawardi, penulis sejumlah buku, tinggal di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *