Pro dan Kontra Pemain Naturalisasi 

waktu baca 3 menit

Oleh : Dr. Imam Syafii M.Kes (Dosen FIKK Universitas Negeri Surabaya)

KEMPALAN : Kebijakan PSSI melakukan naturalisasi pemain yang memiliki garis keturunan darah Indonesia menuai Pro dan Kontra. Kelompok yang sepaham dengan langkah PSSI beralasan bahwa kehadiran pemain diaspora tersebut terbukti mampu mengangkat prestasi Tim Nasional Indonesia. Kemenangan tiga kali secara beruntun dari Vietnam, termasuk di kandang Vietnam yang selama 20 tahun Indonesia tidak pernah menang menjadi fakta yang tak terbantahkan. Indikator lainnya adalah perubahan peringkat Indonesia di FIFA dari 173 melesat ke 142. 

Kehadiran Shin Tae-Yong, juga dipandang sebagai figur yang cocok dengan gaya permainan sepak bola Indonesia. Pelatih asal Korea Selatan banyak memberikan perubahan terhadap visi bermain, peningkatan kondisi fisik dan disiplin pemain Indonesia. Tidak salah jika PSSI selanjutnya melakukan perpanjangan kontrak dengan pelatih yang pernah menangani Tim Nasional Piala Dunia Korea Selatan itu.

Sementara pihak yang tidak sepaham dengan kebijakan PSSI lebih memilih pada perbaikan kualitas pembinaan sepak bola dalam negeri. Jika nantinya Tim Nasional mayoritas berisikan pemain Naturaslisasi, maka pemain lokal akan menjadi korban karena akan semakin berkurangnya minute play setiap pemain. 

Tidak salah, jika terdapat pandangan bahwa setiap pemain sepak bola yang sudah berpasor Indonesia berhak memperkuat Tim Nasional Indonesia, tetapi harus diperhatikan juga dari mana mereka berproses bermain sepakbolanya.

Untuk apa PSSI melakukan pembinaan, melaksanakan kompetisi di semua jenjang, melakukan kursus kepelatihan, membangunan sarana dan prasarana latihan  kalau hasilnya tidak dimaksimalkan. Seharusnya PSSI melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program yang telah dilakukan. Jika sampai saat ini belum bisa menghasilkan pemain yang mampu mengangkat prestasi Tim Nasional berarti ada yang salah dalam pelaksanaan programnya.

Itulah argumen dari masing-masing pihak, yang saat ini ramai di berbagai media social yang beredar di masyarakat. Latar belakang mereka berbeda sehingga melahirkan sudut pandang yang berbeda pula. Kalangan penikmat bola atau supporter lebih berfikir praktis karena hanya melihat dari sisi hasil pertandingan, sedangkan pihak yang merasa terlibat langsung dalam pembinaan lebih melihat pada proses. 

Tidak dipungkiri,  kehadiran pemain Naturalisasi saat ini mampu mengangkat prestasi Tim Nasional Indonesia. Namun, pertanyaan kristisnya, sampaikan kapan PSSI melakukan kebijakan seperti ini? Seharusnya, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir dengan pengalaman dan jaringan internasionalnya di sepak bola lebih memaksimalkan melakukan kerjasama dengan negara lain yang sudah maju persepakbolannya untuk membangun persepakbolaan Nasional.

Program pengiriman pemain muda berlatih dan berkompetisi di Eropah, seperti Garuda Select sebenarnya merupakan program unggulan yang bisa mencetak kualitas pemain Indonesia. Pemain berbakat Indonesia butuh lingkungan yang kompetitif dengan standar pembinaan yang sudah teruji keberadaanya.

Peningkatan kualitas kepelatihan di dalam negeri harus menjadi prioritas, khususnya di tataran pembinaan usia dini. Pada kelompok usia tersebut merupakan golden age of learnig, artinya fase keemasan belajar. Jika ditangani oleh pelatih yang hanya sekadar berbekal sebagai mantan pemain  tidaklah cukup. Hasil belajar pada fase ini sangat menentukan perkembangan pemain pada fase selanjutnya.  

Sertifikasi kepelatihan merupakan suatu keniscayaan seperti halnya di Jepang. Di negeri Sakura itu, sertifikasi kepelatihannya sudah ada untuk melatih anak usia 4-5 tahun, yang dinamakan kelompok Kids Soccer. Di Tahun 2010 pernah dilaporkan PSSI bahwa Jepang saat itu sudah memiliki pelatih bersertifikat sebanyak 62.762 pelatih sedangkan Indonesia baru 2.861 pelatih. Bisa jadi faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab tertinggalnya Indonesai dari Jepang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *