Sindir Naturalisasi Indonesia, Pemain Vietnam: Mereka Hanya Selevel Asia Tenggara

waktu baca 2 menit
Pemain Timnas Vietnam, Doan Van Hau (*)

JAKARTA-KEMPALAN: Pemain Vietnam, Doan Van Hau memberi sindiran keras kepala pemain naturalisasi Indonesia. Dia menyebut bahwa para pemain keturunan Indonesia itu hanya berlevel Asia Tenggara. 

Kualifikasi Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Timnas Indonesia dan Vietnam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (21/3) malam. 

Pada laga melawan Vietnam ini, Timnas Indonesia akan diperkuat empat pemain naturalisasi baru, yaitu Jay Idzes, Nathan Tjoe-A-On, Ragnar Oratmangoen, dan Thom Haye.

Banyaknya pemain naturalisasi di Timnas Indonesia tak membuat bek Timnas Vietnam, Doan Van Hau menjadi gentar. Dia bahkan menyebut bahwa para pemain naturalisasi Indonesia hanya berlevel Asia Tenggara. 

Pemain klub Cong an Ha Noi itu menyebut kekuatan Timnas Indonesia juga tidak banyak berubah meski diperkuat lebih banyak pemain naturalisasi karena pemain-pemain naturalisasi Indonesia bukan kelas terbaik di Eropa.

“Jika pemain itu [naturalisasi Indonesia] benar, benar bagus, mereka seharusnya mencoba bergabung dengan timnas Belanda atau negara lain dengan latar belakang sepak bola bagus di Eropa, bukannya menjadi naturalisasi Indonesia,” ujar Van Hau dikutip dari Vietnam Express.

“Pemain-pemain naturalisasi [Indonesia] itu hanya berada di level Asia Tenggara, dan timnas Vietnam bisa sepenuhnya melawan. Mereka hanya perlu masuk ke lapangan dan bekerja keras,” ucap Van Hau.

Doan Van Hau mengakui bahwa menghadapi Indonesia di depan puluhan ribu fans tuan rumah tak akan mudah. Oleh karena itu, dia berpesan bahwa para pemain Vietnam harus memiliki menguatkan mental. 

“Stadion [GBK] yang berkapasitas hampir 80 ribu kursi ini akan dipenuhi suporter. Mereka akan berteriak sehingga menimbulkan suasana menyesakkan sepanjang pertandingan. Itu yang saya dan tim alami di babak semifinal leg pertama Piala AFF 2022.” kata Van Hau 

“Kalau mentalnya tidak kuat, tim akan kewalahan sejak menit awal sehingga sulit menampilkan 100 persen kemampuan mereka. Pemain senior perlu membimbing para pemain muda untuk mengatasinya,” tambahnya.

(*) Edwin Fatahuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *