Memelihara Burung Tanpa Mengurung

waktu baca 6 menit
Keterangan foto: Bang Jaguar pemilik "aviary" terbesar di dunia. (Sumber foto: Jaguar SniperKicau).

KEMPALAN: Di antara sekian selebritis seperti Irfan Hakim, Alshad Ahmad, Lucky Hakim, dan sejumlah sosok lainnya, siapa yang memiliki aviary (sangkar burung besar) termegah? 

Dari pantauan saya menelusuri media online di google, punya Irfan Hakim  kayaknya yang paling besar, dengan luas lahan 500 meter persegi. Ini belum dihitung volume berdasarkan tinggi dan lengkungan atap kandang burung itu yang di YouTube channelnya diberi nama: ‘deHakim’s Aviary’. 

Dari besaran tersebut, info selanjutnya menyebut bahwa Irfan Hakim akan terus mengisi aviary-nya hingga mencapai 300 spesies burung. Wow! 

Yang menarik dari aviary itu, dilengkapi dengan sistem aliran udara, pengaturan suhu, sanitasi air kolam untuk burung-burung “amfibi” seperti belibis dan lain-lain yang akrab dengan air. 

Demi menunjang habitat aviary-nya, diisi dengan pohon-pohon berakar tunjang maupun berbagai tanaman hias. Juga air terjun yang lumayan tinggi dilengkapi “sungai” beraliran deras. 

Berapa biaya untuk membangun sangkar raksasa tersebut? Ada yang menulis antara Rp 700.000 hingga 1 miliar rupiah. 

Namun, media lain memperkirakan tiga miliar rupiah. Mungkin, biaya tersebut belum termasuk pembelian penghuni aviary, dimana selain berjenis-jenis burung, juga ada kura-kura maupun berbagai macam ikan pengisi kolam di dalam aviary, di antaranya arwana dan jenis-jenis ikan air tawar yang indah. 

Rasanya memang kurang meyakinkan jika aviary semegah itu cuma dibangun dengan biaya  se-miliar rupiah. 

***

Benarkah punya Irfan Hakim yang terbesar?

Setelah saya coba telusuri google lagi, ternyata bukan yang dimiliki Irfan, melainkan yang “dipunyai” Bang Jaguar. 

Bang Jaguar adalah pemilik channel ‘Jaguar SniperKicau’ yang ada di YouTube sebagaimana banyak dikutip media online di google itu. 

Ya, saya menyebutnya ‘Bang Jaguar’, karena tidak tahu nama sesungguhnya dari pemilik channel tersebut. 

Dari beberapa media online yang terpampang di platform itu, disebutkan bahwa Bang Jaguar tinggal di sebuah desa di perbatasan Aceh Utara dan Aceh Timur.

Saya lantas mencoba langsung menelusuri beberapa konten di channel ‘Jaguar SniperKicau’. Mengapa saya sebut “beberapa”? Karena youtuber ber-subcribe  1,15 juta ini memiliki 510  konten. Tentu, terlalu lama jika saya buka dan tonton seluruh kontennya. Maka saya tonton beberapa saja. 

Ternyata posisi Bang Jaguar berada di luar “legalitas’ aviary. Artinya, Bang Jaguar tidak punya aviary dalam arti yang sebenarnya. Namun, banyak burung yang dipeliharanya jika disiuli akan berdatangan, selanjutnya bertengger di telapak tangannya, di lengan, di bahunya, maupun berkerumun di sekitar Bang Jaguar jongkok. 

Jika tak ada Bang Jaguar di sekitar halaman rumah yang banyak ditumbuhi pohon-pohon produktif seperti cokelat, jambu air, mangga, salam, dan lainnya, serta semak-semak itu, kemana burung-burung itu pergi? 

Ya, di pepohonan, di atap rumah, di kandang-kandang kecil maupun besar yang tak berpintu. Ada juga yang melanglang di hutan-hutan kecil yang ada di sekitar desa tempat tinggal Bang Jaguar. 

Berbagai spesies burung ada di “aviary” Bang Jaguar, di antaranya: kutilang, trucukan, kacer, murai batu, cucak  biru, tledekan, ciblek, perkutut, srigunting, derkuku, punai, kepodang, belibis, ruak-ruak, dan masih banyak lagi. 

Bagaimana jika ada orang yang bersiul untuk memanggil burung-burung milik Bang Jaguar? “Tidak akan datang…” kata Bang Jaguar menjawab pertanyaan monolog-nya. Ya, burung-burung itu tak bakal muncul. 

Saya bayangkan gelombang suara dari siulan yang keluar dari mulut dan bibir setiap orang tidaklah sama.

Siulan Bang Jaguar sangat dikenali oleh burung-burung yang dipeliharanya. Bagaimana kalau siulan Bang Jaguar ada yang merekam lantas digunakan untuk memanggil burung-burung peliharaan Bang Jaguar? Nah, ini yang saya tidak tahu. 

Suatu waktu Bang Jaguar berdiri di halaman rumahnya. Di tangan kiri terpasang sarung tangan kulit hingga ke siku. Tangan kanan memegang sepotong daging ayam. 

Lantas ia bersiul. Di kejauhan langit  biru dekat  pepohonan pinang, muncul sebentuk titik, makin lama makin jelas bentuknya. Wus…seekor elang putih keabu-abuan dengan tangkas gagah dan indah hinggap di tangan kirinya. 

Ingatan lain saya: Ada kejadian lucu (menurut saya). Di atas/atap sangkar burung ukuran sedang, terlihat belahan buah pepaya. Seekor punai berwarna hijau bergradasi, terlihat di atas kurungan itu. Saya pikir punai yang wajahnya menuansakan wajah Petruk dalam jagat pewayangan jawa itu, akan makan daging pepaya, eh ternyata mematuki biji-biji pepaya tersebut. 

***

Secara intens, sejak SMP, Bang Jaguar getol memelihara dan mencintai kehidupan burung. Kemudian, selepas SMA, ia mondok di sebuah pesantren beberapa waktu. Setelah itu ia bekerja di Malaysia. 

Di negeri jiran ini ternyata banyak  burung. Naluri kecintaannya pada hewan bersayap tersebut, muncul lagi. Berbagai burung dibagi sisa-sisa makanan oleh Bang Jaguar pada jam-jam tertentu. Termasuk burung gagak yang bersosok sangar itu, menjadi jinak  oleh Bang Jaguar. 

Dalam konteks gagak, dibelinya kepala-kepala ayam di pasar, lantas dicincangnya, terus ditebar di lahan tempat tinggalnya. Gagak-gagak yang hitam seram itu, berdatangan mendatangi posisi Bang Jaguar. Lama-lama jadi jinak.

***

Bagaimana cara menjinakkan burung-burung peliharaannya secara lebih konkrit? 

Ada beberapa cara, di antaranya: ia membeli sepasang burung, lantas dimasukkan kandang yang tubuh Bang Jaguar bisa memasukinya. Manakala  bertelur  dan menetas, piyek burung itu yang matanya sudah bisa melek, dijinakkan dengan dilolohnya, tentu dibarengi dengan trik-trik sarat kasih sayang.

Jika ia bisa menjebak burung-burung di hutan, maka burung itu dimasukkan kandang besar, dan –maaf– bulu-bulu sayap terbang dipotong. Atau dicabut? Di situ intinya: pemberian kasih sayang dengan dibuat tergantung. Pada jam-jam tertentu mulai dikonsumsi dengan makanan, di antaranya serangga dan biji-bijian. 

Pesan Bang Jaguar: jangan lepaskan burung di sangkar saat sudah bisa terbang. Saat bulu-bulu terbang sudah mulai tumbuh, baru dilepas di alam liar yang ada di halaman rumah Bang Jauh. Nah, di situ terus dilakukan “pembinaan” saat burung itu masih bisa berloncat-loncatan. Saat burung itu mulai bisa terbang bebas, terbangnya ya tidak akan jauh-jauh. 

Jadi, kata Bang Jaguar, memelihara burung di alam bebas, tidak bisa instan. Tergantung jenis burung dan proses ketelatenan. Bisa 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan. Bahkan setahun baru bisa jinak. 

Pernah ada burung peliharaannya yang 4 hari tidak kelihatan. ‘Wah, sudah hilang ini burung’. Setelah empat hari, burung yang dikira sudah ditelan alam bebas, ternyata pulang disertai seekor betina. Alhamdulillah… 

***

Ide membuat channel ‘Jaguar SniperKicau’, muncul dari keluarga. “Cobalah bikin channel untuk YouTube. Siapa tahu dari situ bisa ada rezeki”.

Ide ini disambut Bang Jaguar. Namun, konten channel tidak diawali perkara burung, tetapi berburu celeng dan tupai yang banyak terdapat di sekitar tempat tinggalnya. Mungkin karena itulah nama channelnya ada kata: Sniper. Pada perkembangannya ditambah dengan kata: Kicau. Sehingga menjadi: ‘Jaguar SniperKicau’. 

Seorang penggemar channelnya menulis 

di kolom komentar: Mestinya Bang Jaguar bisa dimanfaatkan keahliannya, 

diangkat jadi pegawai BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). 

Penonton lain menjawab: jadi PNS sebulan gajinya Rp 5.000.000. Kalau dari YouTube bisa dapat Rp. 50.000.000. Ngapain?

***

Ada juga media lain yang menulis: Aviary Terbesar di dunia ada di Aceh. 

Nah, jika saya tarik secara global, YouTube adalah cermin peristiwa di dunia. Hal yang aneh, unik tapi nyata bisa kita jumpai di platform ini. Cuma hoax atau tidak, tergantung sikap kritis kita untuk mencernanya.

Amang Mawardi, penulis sejumlah buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *