Pekan Literasi Teman-Teman

waktu baca 3 menit
Kiri ke kanan: Febby Mahendra, Dhimam Abror, Pramudito, dan Firman S. Permana (*)

KEMPALAN: Selasa, 23 Januari lalu, saya ketemu Pak Eko Setijono mantan Direktur Komersial salah satu anak perusahaan Petrokimia – Gresik, di depan rumah saya. 

Beliau sedang melaju dengan sepeda kayuhnya. Rupanya sedang olahraga pagi. Sementara saya sedang melihat-lihat tanaman cabe saya.

Beliau lantas menyapa saya. Laju sepeda pun dihentikan. Beliau dalam posisi duduk di sadel, saya berdiri: berhadap-hadapan. 

Terjadilah dialog, terutama di seputar dunia literasi. 

Pak Eko dan kawan-kawan seputar 10 tahun lalu pernah menjadi tuan rumah saat saya menjadi salah satu pembicara, di aula Petrokimia. 

Setelah pensiun beliau membeli rumah di dekat rumah saya (beda blok), yang jaraknya  sepelemparan batu dalam arti  sebenarnya.

Beliau lantas bercerita bahwa teman-teman pensiunan Petrokimia terutama yang berkutat di seputar marketing, baru saja menerbitkan buku. Judulnya: Marketing Undercover. Penulisnya 35 orang.

Buku yang dieditori sahabat saya Made Wirya  yang pensiunan karyawan Petrokimia ini, di-launching 17 Januari lalu di Gresik.

Setelah itu beliau pamit sebentar, lantas kembali dengan menyerahkan buku tersebut, dilanjut ngobrol di ruang tamu rumah saya. 

Pak Eko yang ramah, atletis, dan berkulit terang ini pernah menulis buku tentang seputar dunia marketing. 

Sore harinya, saya menerima kiriman paket buku dari Mas Hamid Nabhan, judulnya: Menjelajah Eropa. Mas Hamid adalah pelukis, penyair dan penulis buku cukup produktif. Sudah lebih dari 10 judul buku  ditulisnya.

Lukisan-lukisan karyanya bercorak impresionis, sementara puisi-puisinya bernuansa lingkungan hidup — mungkin terbawa dari latar belakang pendidikannya yang  sarjana pertanian UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Surabaya. 

Esok siangnya, Rabu 24 Januari, saya menghadiri launching buku: Jurnalis, Cinta & Kehidupan. Ditulis oleh R. Pramuditto — Cak Ditto  mantan jurnalis Harian Surya, menandai HUT-nya ke-60, di Surabaya Suites Hotel. 

Launching ini dimeriahkan diskusi “Transformasi Media: Pengaruhnya Bagi Jurnalis dan Dunia Industri”. 

Tampil sebagai pembicara Febby Mahendra Putra — Direktur Pemberitaan Tribune Network, dengan pembanding Dhimam Abror  D. penanggung-jawab kempalan.com yang doktor ilmu komunikasi. Tampil juga Firman S. Permana GM Surabaya Suites Hotel. 

Inti diskusi siang itu yang dihadiri wartawan, seniman, dan sejumlah eksekutif muda: Kebo Nyusu Gudel. Peribahasa Jawa ini mengindikasikan tentang “anak yang menyusui orangtua”. 

Konkritnya betapa saat ini, media yang diasuh oleh para jurnalis, berita-beritanya banyak yang mengutip, mengambil, mencuplik medsos, seperti dari youtube, tik tok, instagram, facebook, dan masih banyak lagi yang dikelola secara netizen journalism (jurnalisme warga) itu. Begitu kalau kira-kira  saya tarik ke titik inti.

Sementara pada Kamis 25 Januari, saya menghadiri undangan Yusron Aminulloh  mantan wartawan Surabaya Post yang kini menjadi pengusaha  wisata perkebunan Dedurian Park di Wonosalam, Jombang, dan yang sejak seputar 10 tahun lalu bergerak di dunia motivasi, terutama di lingkup pendidikan. 

Undangan launching 4 judul buku ini, yaitu Bergerak Menebar Energi, Pensiun Bermartabat, Memenangkan Peperangan Fajar, dan Meminjam Kesabaran Tuhan — menandai usianya yang ke-60. 

Khusus untuk buku berjudul Bergerak Menebar Energi, ditulis oleh 60 orang sahabat Yusron Aminulloh. 

Acara diisi sambutan-sambutan, testimoni, dan bahas  buku dengan pembicara budayawan D. Zawawi Imron, akademisi Prof. Dr. Suparto Wijoyo, pengusaha muslim Ismail Nachu, dan Duta Literasi Indonesia: Gol A Gong. 

Hall di lantai 24 Hotel Garden Palace siang itu full undangan dari lintas profesi. Barangkali inilah acara launching buku yang dihelat megah yang pernah saya hadiri. 

Dalam perjalanan pulang semobil dengan Arifin BeHa  mantan jurnalis Harian Surya, selintas saya teringat ucapan sastrawan Pramoedya Ananta Toer: 

Orang boleh pandai setinggi langit. Namun, selama ia tidak menulis akan hilang ditelan masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Penulis: Amang Mawardi (penulis sejumlah buku) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *