Tingkat Kegemaran Membaca di Surabaya Tertinggi se-Jawa Timur

waktu baca 4 menit
Minat baca warga Kota Surabaya tertinggi se-kabupaten/kota se-Jqwa Tìmur.

SURABAYA-KEMPALAN: Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kegemaran membaca atau minat baca bagi warga Kota Pahlawan. Alhasil, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) tahun 2023 di Surabaya tertinggi se-kabupaten/kota di Jawa Timur. 

Kepala Dispusip Surabaya Mia Santi Dewi menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) warga Surabaya di tahun 2023 tertinggi dibanding kabupaten dan kota di Jawa Timur. Nilai TGM Surabaya tahun 2023 sebesar 80,3 poin, satu-satunya kota yang dinilai masuk kategori TGM “Sangat Tinggi”.

“Ini menunjukkan bahwa berbagai upaya yang sudah kita lakukan untuk terus meningkatkan minat baca dan kegemaran membaca warga berhasil,” kata Mia di Balai Kota Surabaya, Kamis (18/1/2024).

Selain itu, survei dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur itu juga menunjukkan bahwa durasi membaca atau lama waktu yang dihabiskan untuk membaca setiap harinya, Surabaya lagi-lagi berada pada level “sangat tinggi”, yaitu kurang lebih 3 jam. Padahal, rata-rata membaca warga Jawa Timur hanya di kisaran 1 jam hingga 1 jam 59 menit. “Artinya di sini, tingkat durasi membaca warga Surabaya sudah di atas rata-rata,” kata dia.

Menurut Mia, sejumlah fasilitas yang biasanya dimanfaatkan warga Surabaya untuk membaca adalah perpustakaan, Taman Baca Masyarakat (TBM) dan mobil keliling atau perpustakaan keliling. Tak heran jika tingkat kunjungan ke perpustakaan dan TBM itu selalu tinggi setiap bulannya. 

“Kunjungan tertinggi pada tahun 2023 pada bulan Maret, angkanya mencapai 84.882 pengunjung. Sedangkan total pengunjung selama tahun 2023 sebanyak 824.790 pengunjung. Angka ini tentunya sesuai dengan TGM dan durasi membaca yang tertinggi di Jawa Timur,” tegasnya.

Mia juga menjelaskan berbagai strategi untuk meningkatkan minat baca masyarakat yang dilakukan sejak anak usia dini. Salah satunya adalah dengan Wisata Buku. Program ini mengenalkan perpustakaan ke anak-anak dengan image baru. 

Lewat dua perpustakaan yang dikelola pemkot, yaitu Perpustakaan di Balai Pemuda dan Perpustakaan di Rungkut Asri Tengah, anak-anak bisa mengakses berbagai kegiatan menarik, mulai dari mendapatkan informasi, pendidikan, hingga wisata ini sekaligus. “Kalau ngomong perpustakaan, nggak hanya membayangkan rak buku. Namun kita juga kemas dalam Edutainment,” kata Mia.

Dengan berkonsep menarik, aktivitas di perpustakaan bukan sekadar mengisi waktu luang, namun menjadi tujuan utama anak-anak. Misalnya ketika pulang sekolah, anak-anak punya tujuan utama ke perpustakaan.

“Mengajak datang ke perpustakaan menjadi bagian awal untuk mengenalkan buku kepada anak. Kalau anak-anak sudah menjadikan perpustakaan sebagai tujuannya, baru setelah itu kita upayakan mereka semakin gemar membaca,” ujarnya.

Layaknya tempat wisata, pada siswa usia dini diajak untuk bermain sambil belajar. Misalnya anak TK, dibuatkan kartu perpustakaan. “Jadi, mereka datang, tap kartu. Di perpustakaan, mereka juga kami belajar sambil ice breaking,” katanya.

Selain Perpustakaan, masyarakat Surabaya juga bisa mengakses buku di Taman Baca Masyarakat (TBM) dan pojok baca yang ada di balai RW, kelurahan, dan spot lainnya. Di Surabaya, sudah ada sekitar 500 TBM dan 400 pojok baca yang juga bisa menjadi jujugan mencari buku menarik.

“Jenis buku yang paling banyak diminati adalah buku cerita hingga informatika sederhana. Bukunya dari kita (Pemkot). Setiap 3 bulan, ada sirkulasi buku. Kita sesuaikan dengan buku yang paling diminati,” katanya.

Saat ini, Dispusip ingin meningkatkan minat baca buku di TBM. Strateginya, menyiapkan berbagai kegiatan di TBM. “Tidak hanya menjadi tempat buku. Ini sudah kami lakukan,” katanya.

Bukan sekadar membaca, anak juga diajak belajar menulis. Artinya, ini tingkatkan pelayanannya. Di sana ada kelas numerik, membantu membahas PR, kelas fotografi, hingga belajar mendongeng. “Bahkan, beberapa ada yang belajar menulis buku,” kata Mia.

Dari hasil tulisan para anak, dikumpulkan dalam satu buku. Ada beberapa antologi cerpen yang dihasilkan dari anak di TBM. Juga ada kompetensi mendongeng. “Mereka bisa tampil mendongeng dan lomba antar kecamatan, sehingga semakin menarik minat mereka untuk terus gemar membaca,” pungkasnya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *