“Ndasmu Etik”: Prabowo Tidak “Njawani”

waktu baca 5 menit

Kholid A.Harras
Pemerhati Pendidikan dan Sosial. Dosen FPBS UPI

KEMPALAN: Sebuah ungkapan sarkastik “ndasmu etik,” yang dilontarkan oleh Prabowo Subianto dalam acara internal Partai Gerindra, telah menjadi sorotan dan pemberitaan hangat. Ungkapan tersebut menjadi pusat perhatian karena diduga sebagai respons terhadap sindiran Anies Baswedan terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Majelis Kehormatan MK (MKMK) terkait batas usia capres-cawapres. Pernyataan tersebut dinilai merupakan ekspresi terdalam Prabowo yang merasa tersudutkan ketika dirinya mengikuti debat capres pertamanya Selasa malam (12/12/2023).

Seperti publik mafhum, pada debat pertama Pilpres 2024, kepada Prabowo, Anies mengungkapkan situasi di mana Prabowo mendaftar sebagai pasangan capres-cawapres setelah putusan MK. Hal itu oleh Anies dianggap sebagai pelanggaran etika berat dan telah menimbulkan kontroversi karena Anwar Usman, ketua MK saat itu, yang merupakan paman dari Gibran Rakabuming (cawapres yang diusung Prabowo) dan adik ipar dari Presiden Jokowi, terlibat dalam putusan tersebut. Mendapat kritik tajam dan menohok tersebut respons Prabowo dinilai tidak terkontrol: terlihat sangat kesal, marah dan menyerang balik secara membabi-buta. Selain juga terus dibawa-bawa hingga pasca debat.

Ketika Prabowo, berpidato di hadapan kader Partai Gerindra, dengan tegas mengungkit kembali pertanyaan Anies tentang pelanggaran etika di MK saat debat tersebut. “Bagaimana perasaan Mas Prabowo soal etik..etik. etikā€¦ndasmu etik! Saya ingin baik-baik, aku ingin rukun. Aku ingin, mari kita maju untuk rakyat. Anies itu nyerang-nyerang. Dulu mau menjadi menterinya Pak Jokowi, sekarang menyindir Pak Jokowi,” ujar Prabowo, yang kemudian disambut tepuk tangan riuh oleh para kader Gerindra.

Sebenarnya ungkapan “ndasmu” bukanlah yang pertama kali digunakan oleh Prabowo. Pada kampanye Pilpres 2019, yang juga diikuti Prabowo, ia juga pernah menggunakan kata kasar tersebut ketika membahas pertumbuhan ekonomi yang disebutnya mencapai 5 persen. Kontroversi yang muncul pada saat itu menunjukkan bahwa Prabowo menggunakan kata-kata yang kontroversial untuk menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pemerintahan Jokowi.

Dalam konteks ini, ungkapan “ndasmu etik” bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi mencerminkan ketidakpuasan dan perasaan tersudutkan Prabowo dalam perjalanan politiknya. Ia menanggapi serangan politik dengan nada sarkas dan penuh emosi, menunjukkan betapa pentingnya isu etika dalam politik dan bagaimana hal tersebut dapat menjadi senjata ampuh di medan pertempuran politik.

Tak ayal ungkapan kasar “ndasmu etik” yang diucapkan Prabowo Subianto dalam forum tertutup internalnya namun tersebar dan viral pada dunia maya telah menjadi sumber kontroversi dan mendapat reaksi negatif dari berbagai pihak. Bahasa yang digunakan dalam “ndasmu etik” terkesan sebagai ekspresi kekesalan atau kemarahan terpendam yang meletakkan etika pada posisi yang rendah. Dalam konteks kepemimpinan, sikap yang mengabaikan etika bukanlah hal yang dapat diabaikan. Padahal, etika adalah landasan moral dan prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin untuk membangun kepercayaan dan kestabilan.

Nilai semantik ‘kasar’ dari ungkapan “endasmu etik” ini dapat menciptakan ketidaknyamanan di kalangan pemilih bersuku Jawa, dan hal ini tentu merugikan Prabowo dalam mendapatkan dukungan di Pulau Jawa, yang merupakan basis suara yang sangat penting dalam kontestasi politik. Selain itu, pola komunikasi politik yang cenderung bruk dan ekspresi buruk Prabowo semakin menjauhkannya dari citra seorang pemimpin yang santun, terutama jika dibandingkan dengan Jokowi yang dikenal sebagai orang Jawa yang dianggap  ‘beradab’.

Jika ditinjau berdasarkan analisis linguistik pragmatik, ungkapan “ndasmu” yang digunakan oleh Prabowo Subianto dalam konteks politik menunjukkan beberapa aspek  berikut. Dilihat dari konteks dan tujuan komunikasi, ungkapan tersebut digunakan dalam konteks politik yang sedang panas, khususnya terkait dengan pertanyaan Anies Baswedan mengenai pelanggaran etika di Mahkamah Konstitusi. Tujuan komunikatif Prabowo melalui ungkapan ini mungkin untuk menyuarakan ketidakpuasannya atau menggambarkan ketidaksenangannya terhadap Anies Baswedan dan isu yang diangkatnya.

Penggunaan bahasa Jawa ngoko menunjukkan tingkatan bahasa yang akrab dan biasanya digunakan dalam situasi yang lebih santai, seperti berbicara dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda. Meskipun demikian, karena konteks dan intonasi dalam penggunaan “ndasmu” oleh prabowo diucapkan dengan nada penuh kemarahan, tentu saja dapat memberikan nuansa kasar dan provokatif. Secara pragmatik, ungkapan ini dapat dianggap sebagai bentuk sindiran atau ejekan terhadap Anies Baswedan, mungkin sebagai respons terhadap pertanyaan atau komentar yang dianggap provokatif.

Dalam konteks politik, penggunaan ungkapan tersebut bisa memiliki dampak negatif pada citra Prabowo, terutama jika dianggap sebagai ekspresi yang kurang santun atau provokatif oleh sebagian masyarakat. Penggunaan bahasa yang kurang sopan dalam konteks politik dapat menciptakan ketidaknyamanan di kalangan pemilih dan merugikan persepsi publik terhadap Prabowo.

Sebagaimana diketahui,  Bahasa Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya, memiliki aturan-aturan yang mengatur tata bahasa dan ungkapan untuk mencerminkan nilai-nilai sopan santun. Dalam Bahasa Jawa, ada empat jenis berdasarkan kosakatanya, yaitu bahasa Jawa netral, Ngoko, Krama madya, dan Krama inggil. Bahasa Jawa netral memiliki kosakata yang bisa digunakan untuk semua orang, sementara Ngoko, Krama madya, dan Krama inggil menunjukkan tingkatan dalam berkomunikasi. Dalam konteks ini, unggah-ungguh basa menjadi pilar penting dalam menentukan tingkat hormat dan kepatutan berbahasa. Sayangnya, ungkapan “ndasmu etik” yang diucapkan oleh Prabowo Subianto menunjukkan bahwa dirinya tidak ‘njawani’, tidak memiliki sikap yang sopan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam Bahasa dan budaya  Jawa.

Respons bijak dari calon presiden Anies Baswedan terhadap pernyataan sarkastis-provokatif Prabowo Subianto, layak diberikan apresiasi. Anies menanggapi dengan menyatakan bahwa etika dimulai dari kepala, dan jika kepala tidak mengikuti etika, yang berada di bawahnya akan mengikuti. Pernyataan ini bisa menjadi pembenaran bagi publik terhadap kritikan terhadap Prabowo, dan dapat merugikan citra serta dukungan publik terhadap Prabowo dan menuai simpati kepada dirinya sebagai capres kompetitornya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *