Etika Politik dan Ungkapan ‘’Ndasmu’’

waktu baca 5 menit
Prabowo Subianto dan Anies Baswedan dalam debat Capres edisi pertama (*)

KEMPALAN: Ndas atau endas, artinya kepala, menempati posisi khusus dalam tradisi budaya Jawa. Sebutan ‘’ndas’’ terasa kasar, dan kemudian diperhalus dengan ‘’sirah’’ dalam bahasa Jawa dialek Jawa Tengah. Menyebut ‘’ndasmu’’ dalam percakapan dengan seseorang yang sama-sama akrab, mungkin bisa disebut sebagai candaan. Tetapi menyebut ‘’ndasmu’’ kepada seseorang yang menjadi rival—apalagi rival politik—tentu tidak bisa disebut sebagai candaan.

Budaya Jawa sangat menghormati ‘’ndas’’ dan menempatkannya dalam posisi nyaris sakral. Bagi budaya Barat menyentuh dan bahkan meremas bagian kepala adalah hal yang lumrah. Bahkan, hal itu dianggap sebagai ekspresi untuk menyatakan kebanggaan kepada si empunya kepala.

Setiap bangsa mempunyai tabu tersendiri terhadap bagian badan. Dalam Islam, seorang laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan lain yang bukan muhrim. Dalam budaya Arab sesama lelaki boleh menyentuh jenggot dan mengelus-elus sebagai tanda persahabatan. Tetapi tradisi Arab tidak memperbolehkan sesama lelaki menyentuh pantat.

Di Indonesia (baca:Jawa) menyentuh kepala adalah tindakan tabu. Alasannya bermacam-macam. Ada yang menyatakan bahwa kepala adalah bagian paling penting sehingga tidak boleh disentuh sembarangan. Ada yang mengatakan bahwa kepala adalah bagian yang sakral dari anatomi tubuh manusia, karena waktu seseorang lahir kepalanya keluar terlebih dahulu.

Penjelasan ini bukan penjelasan ilmiah-rasional, tetapi lebih sebagai penjelasan budaya yang spekulatif. Kalau kepala menjadi sakral karena  menongol terlebih dahulu saat dilahirkan, bagaimana dengan bayi yang lahir sungsang? Bagaimana pula dengan bayi yang lahir melalui operasi Caesar? Pertanyaan retoris semacam ini sulit dijawab.

Seorang teman bule yang sudah sangat akrab dengan budaya Jawa membuat penjelasan yang kocak mengenai sakralitas kepala bagi orang Jawa. Menurut si bule, orang Jawa tidak suka dipegang kepalanya karena otaknya lemah, takut terlepas. Tentu ini penjelasan humor yang sarkastis. Manusia Jawa yang sering irasional karena percaya kepada mistik dan takhayul dibilang lemah otak sehingga otaknya gampang copot kalau disentuh di bagian kepala.

Kepala atau ndas menempati posisi spesial dalam budaya Jawa, dan karenanya menyebut ‘’ndasmu’’ adalah tindakan kasar. Bahkan, kalau empan-papannya tidak tepat tindakan itu bisa dianggap tidak berbudaya.

Kasus penyebutan ndasmu oleh Prabowo terhadap Anies dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas, tidak proporsional, karena sekarang Prabowo berada pada posisi yang sejajar dengan Anies, sebagai seama calon presiden. Prabowo boleh saja merasa lebih superior terhadap Anies dan berusaha mendegradasikan posisi Anies. Tetapi menyebut ‘’ndasmu’’ tetaplah tidak patas.

Dalam debat, Prabowo berusaha mendegradasi Anies dengan mengungkit dukungannya kepada Anies dalam pemilihan gubernur DKI 2017. Namun, upaya mendown-grade Anies ini malah menjadi backfired, menjadi bumerang karena Anies menyerang balik dengan menyebut Prabowo tidak tahan menjadi oposisi.

Debat presiden ibarat pertandingan sepak bola. Ada aturan yang tertulis, tapi ada juga konvensi, kesepakatan yang tidak tertulis. Salah satunya adalah menyerang pribadi, atau biasanya disebut sebagai ad hominem. Seharusnya KPU (Komisi Pemilihan Umum) secara tegas menyebutkan aturan debat yang tidak memperbolehkan argumen ad hominem.

Dalam teori retorika, argument ad hominem menempati posisi paling rendah dalam ranking argumen. Seseorang yang melakukan serangan ad hominem biasanya sudah kehilangan akal untuk berargumen secara rasional. Seseorang yang menyerang pribadi terlihat sebagai orang yang putus asa dan melakukan serangan ngawur terhadap lawannya.

Ibarat sepak bola, pertandingan harus selesai 2×45 menit, plus waktu tambahan, atau tambahan perpanjangan waktu 2×15 menit. Setelah peluit panjang ditiup maka pertandingan tuntas dan kedua kesebelasan saling bersalaman dan saling bermaafan. Itulah tanda pemain yang sportif, etis, dan profesional. Dalam debat capres kali ini seharusnya juga demikian. Setelah peluit panjang ditiup maka selesailah perdebatan. 

Tetapi, rupanya Prabowo tidak puas hanya berdebat di KPU. Setelah usai debat ia masih membawa rasa jengkelnya di hadapan rakernas Partai Gerindra. Di kesempatan itulah Prabowo kembali menyerang Anies. Ia baper oleh suasana sampai kemudian menyebut ‘’ndasmu’’ kepada Anies.

Pernyataan ini bukan sekadar candaan seperti yang disampaikan oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, juru bicara Prabowo. Pernyataan ‘’ndasmu’’ ini bagian dari ungkapan ‘’freudian’’ yang mencuat dari ‘’Id’’ dan ‘’Ego’’ Prabowo. Ungkapan ini menunjukkan watak asli yang muncul dari bawah sadar keseharian Prabowo.

Prabowo boleh saja menyewa konsultan politik mahal, yang mendandaninya dengan citra ‘’gemoy’’, si gemuk nan lucu dan menggemaskan. Tapi, citra itu ternyata hanya make up belaka. Ketika terpercik air maka lunturlah riasan itu, dan tampaklah wajah aslinya.

Citra Prabowo sebagai jenderal yang lucu, humoris, sekaligus demokratis terbongkar melalui episode debat dan episode ‘’ndasmu’’. Dua episode itu menunjukkan bahwa demokrasi bukan sekadar lipstick yang menjadi hiasan. Demokrasi adalah pengalaman dan penghayatan.

Prabowo tidak pernah mengalami hidup yang demokratis. Sepanjang karir hidupnya ia menjadi anggota militer dengan struktur kepemimpinan hirarkis dan berdasarkan komando. Tidak ada tradisi dialog dalam militer, apalagi tradisi debat. Segala sesuatu berjalan menurut mekanisme komando atas ke bawah.

Dengan latar belakang semacam ini sulit bagi Prabowo untuk melakukan switch ke tradisi demokrasi, yang berdasarkan pada dialog yang egaliter dan penghargaan terhadap harkat seseorang yang setara dan sepadan satu dengan lainnya.

Demokrasi juga menuntut penghormatan terhadap etika. Dalam tradisi politik, kekuasaan lahir karena beberapa sebab. Mereka yang menganut sistem kerajaan meyakini bahwa kekuasaan adalah wangsit dari Tuhan. Sementara mereka yang percaya kepada demokrasi percaya bahwa kekuasaan datang dari rakyat.

Mereka yang percaya kepada monarki akan mempunyai etika politik yang beda dengan mereka yang percaya kepada demokrasi. Dalam tradisi monarki, penguasa bisa saja berlaku seenaknya kepada rakyat, karena ia tidak bertanggung jawab kepada rakyat. Dalam tradisi demokrasi, seorang penguasa harus memperlakukan rakyat dalam posisi etis tertinggi, karena kekuasaannya bersumber dari rakyat dalam bentuk daulat rakyat.

Sangat mungkin Prabowo gagal paham terhadap konsep etika politik, sehingga muncul ungkapan ‘’ndasmu’’. Mungkin saja tengara Gus Mus benar, bahwa sekarang ini ada suasana ‘’republik rasa kerajaan’’. Mungkin kerajaan itu adalah Kerajaan Wakanda. 

Oleh: Dhimam Abror Djuraid, founder kempalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *