Menko Muhadjir: Generasi Muda Silakan Miliki Mimpi Besar

waktu baca 3 menit

JAKARTA-KEMPALAN: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan, para lulusan perguruan tinggi silakan mempunyai mimpi-mimpi besar dalam rangka meningkatkan kualitas hidup sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

Hal itu disampaikan saat memberikan orasi ilmiah dalam Wisuda ke-X Universitas Muhammadiyah Bogor Raya yang terselenggara di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, pada Sabtu (2/12).

“Kalian (wisudawan) harus punya mimpi-mimpi besar di masa depan. Kalian harus menjadi exemplar, contoh unggulan bagi yang lain,” ucap Muhadjir.

Sebagaimana diketahui, fokus pembangunan pemerintah dalam masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo pada periode kedua ini diarahkan kepada pembangunan sumber daya manusia (SDM) untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Pemerintah menargetkan, generasi muda Indonesia dapat tumbuh dengan produktif, profesional, memiliki karakter, dan mampu bersaing di kancah global.

Muhadjir mengatakan, pemerintah telah menyediakan anggaran pendidikan yang setiap tahun terus meningkat. Anggaran pendidikan yang sebagian besarnya dialokasikan untuk beasiswa LPDP merupakan kesempatan dan peluang besar bagi para mahasiswa yang akan melanjutkan studi.

“Sekarang ini anggaran abadi pendidikan untuk beasiswa itu sekitar Rp. 130 triliun dan setiap tahun terus naik. Kesempatan ini sangat terbuka untuk semua mahasiswa dari berbagai kampus. Tidak ada diskriminasi, terbuka bagi kampus negeri maupun swasta,” tutur Muhadjir.

Selain itu, perguruan tinggi juga didorong untuk dapat memiliki pangkalan data yang berisi status para lulusannya. Pangkalan data tersebut, imbuh Muhadjir, berlaku juga untuk para lulusan yang hendak bekerja sehingga dapat digunakan untuk memantau status pekerjaan lulusannya. Melalui basis data itu, intervensi juga akan dengan mudah dilakukan, termasuk memberikan pelatihan peningkatan kemampuan bagi yang belum memiliki pekerjaan.

“Perguruan tinggi harus punya data lulusannya, baik untuk yang mau melanjutkan kuliah, maupun bekerja. Jika dia (wisudawan) diketahui punya niat untuk mencari beasiswa, bantu dia melalui program pelatihan bahasa dan sebagainya, juga bagi yang bekerja, bisa adakan program upskilling agar bisa masuk dunia kerja,” ucap Muhadjir.

Indonesia tercatat akan mencapai puncak bonus demografinya pada tahun 2030-2035. Pada momentum itu, mayoritas masyarakat Indonesia akan didominasi oleh generasi Z sebanyak 27,94 persen, dan generasi milenial sebesar 25,87 persen. Sementara itu, saat ini jumlah pemuda yang tercatat pada survei Badan Pusat Statistik telah mencapai angka 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat penduduk Indonesia.

Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan upaya membangun generasi muda Indonesia mulai dari sekarang. Terlebih jumlah angkatan kerja Indonesia telah mencapai 147,71 juta. Sementara, penduduk yang bekerja hanya sebesar 139,85 juta dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,32 persen. Angkatan kerja ini terus bertambah setiap tahun yang terdiri dari lulusan menengah atas yang tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, ditambah dengan pemuda lulusan dari perguruan tinggi.

Kendati demikian, upaya pemerintah dalam membangun generasi unggul Indonesia telah mengalami tren yang positif. Indeks Pembangunan Manusia mencatat, terdapat kenaikan dengan rata-rata sebesar 0,77 persen per tahun dari berbagai aspek. Tren tersebut perlu dipertahankan dan ditingkatkan melalui kolaborasi bersama membangun dan meningkatkan pendidikan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat. (*/ANO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *